Parenting sebagai Pondasi Pendidikan: Representasi Film Taree Zameen Par

Pada tahun 2017 entah pada bulan apa, saya mengingat betul pada saat itu saya hanya seorang bocah kecil yang mempunyai hobi bermain layangan, bermain PS, layaknya seperti bocah ingusan pada umumnya. Tapi kemudian satu moment datang, saat itu abang saya mengajak saya untuk pergi ke sebuah perpustakaan sederhana yang dibangun oleh beberapa teman’’ dan gurunya, at the first time saya terkejut karena perpustakaan sederhana itu memiliki banyak sekali tumpukan tumpukan buku yang membuat saya bingung entah apa yang ada dalam isi buku ini, lalu kemudian abang saya menyarankan untuk sekedar membaca komik’’ saja.

Saat itu saya menyukai komik Naruto dan komik one piece, karena pada tahun itu Naruto hanya tayang di tv jadi saya tidak merasa puas dengan kartun masa kecil saya yang memiliki batas saat saya menontonnya. Lalu kemudian saat sore abang saya mengajak saya untuk menonton sebuah film dari india yang berjudul “TAARE ZAMEEN PAR”.

Sebagai bocah ingusan pada saat itu saya tidak mengerti tentang sebuah makna dalam dunia film dan saya juga tidak bisa mengambil pelajaran apa yang didapat dari menonton sebuah film, yang saya tau pada saat itu film itu hanya menceritakan tentang anak kecil yang nakal dan tidak mau belajar dan lebih banyak bermain dan berimajinasi. Tapi kemudian pada umur 20 tahun, saya Kembali menonton film tersebut dan benar benar baru menyadari apa isi dari film tersebut. Saya yang dulu mengira film itu hanya tentang sebuah bocah ingusan yang ditonton oleh bocah ingusan, ternyata film itu lebih daripada itu.

Taare Zameen Par adalah film India tahun 2007 yang menyentuh hati, disutradarai dan dibintangi Aamir Khan. Film ini menceritakan Ishaan, anak laki-laki berusia 8 tahun yang berbakat seni tapi kesulitan belajar karena memiliki kelainan dalam belajar, dalam dunia Pendidikan ini disebut sebagai disleksia.

Di sekolah sebelumny ihsan mendapat banyak sekali tekanan psikologis baik dari guru ataupun teman temannya dikarenakan keterbatasan yang dia miliki dalam belajar sehingga itu timbul menjadi sebuah hinaan yang bersudut pada bullying pada anak usia dini. Orang tua dan gurunya salah memahami kondisi tersebut sebagai kemalasan dan kurang disiplin. Karena dianggap gagal di sekolah, kemudian Ishaanpun dikirim ke sebuah sekolah asrama.

Di sana awalnya dia juga mengalami hal yang sama disekolah sebelumnya, selalu mendapat perlakuan keras dri guru gurunya karena ketidakmampuannya dalam mengikuti kegiatan belajar dalam sekolah, sampai pada akhirnya ishaan menjadi anak yang terpuruk, diam, tidak banyak bicara dan bahkan memilki tatapan kosong.

Tapi disisi lain ihsaan sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menuangkan imajinasinya dalam sebuah lukisan, yang bahkan guru dan orang tuanya tidak menyadari itu, mereka semua menganggap bahwa nilai akademik lah yang menentukan kesuksesan seseorang.

Lalu kemudian setelah beberapa bulan disana ihsaan bertemu dengan seorang guru bernam Ram shankar Nikumbh, salah satu guru seni pengganti disekolah ihsan, Nikumbh menyadari bahwa ihsan memiliki tekanan yang luar biasa dari lingkungan dan kehidupannya, Nikumbh menyadari bahwa Ishaan sebenarnya menderita disleksia, sebuah gangguan belajar yang membuatnya sulit memproses huruf dan angka.

Dengan pendekatan yang hangat, personal, dan kreatif, Nikumbh membantu Ishaan menemukan kembali kepercayaan diri dan bakat seninya. ini menegaskan bahwa dukungan emosional dapat mengubah kondisi mental anak secara signifikan, terutama dalam konteks pendidikan.

Film ini mengkritik tekanan akademik berlebih pada anak, kurangnya kesadaran disleksia sebagai gangguan belajar bukan kemalasan, serta pentingnya empati guru dan orang tua dalam mendukung keunikan anak. Ia juga soroti dampak pengabaian emosional yang bisa picu depresi dini.

Saya rasa film ini sngat relevan denga napa yang terjadi pada dunia Pendidikan Indonesia saat ini, banyak sekali baik dari guru dan orang tua yang memberikan tekanan sejak dini kepada anak anaknya, yang dimana anak harus memiliki standar akademik yang tinggi sebagai slah satu tumpuan untuk menuju kesuksesan. ini mengangkat realita banyak keluarga yang merasa prestasi lebih penting daripada kebahagiaan anak. Film ini menekankan pentingnya parenting berbasis empati.

Kesannya memang memilki sedikit perbedaan mungkin saya rasa banyak sekali anak anak yang merasa tertekan lalu kemudian si anak menjadi anak yang memilki tatapn kosong dan memilki masalah psikologis sejak dini, tapi, dibalik itu kita tidak menyadari kenapa anak anak kita menjadi sekeras kepala itu kepada orang tua, itu disebabkan atas parenting yang kita berikan kepada anak-anak kita, sehingga mereka menjadi pribadi yang keras dan melawan kepada orang tuanya.

Lalu kemudian orang tua menganggap itu sebagai salah satu ketidakberhasilan anaknya dalam dunia pendidikan, padahal faktanya itu adalah salah satu ketidakberhasilan mereka dalam mendidik anak anaknya sejak dari rumah, dan disekolah juga sama guru guru yang menganggap si anak ini menjadi pemalas dan tidak mau belajar, sebenarnya adalah cara guru yang slah dalam melakukan pendekatan terhadap anak didiknya dan metode apa yang harus digunakan dalam mendidik anak anak muridnya.

Film ini menampilkan bagaimana sistem pendidikan yang terlalu menekankan standar akademik dan kedisiplinan dapat mengabaikan kebutuhan individual anak.

Taare Zameen Par menunjukkan bahwa: Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Kreativitas tidak kalah penting dari kemampuan akademik,Pemahaman dan empati dari guru/orang tua sangat menentukan perkembangan seorang anak, terutama anak dengan kesulitan belajar.

Film ini bukan hanya tentang disleksia, tetapi tentang hak anak untuk dimengerti, diterima, dan diberikan ruang untuk berkembang sesuai potensinya.

Berikan Komentarmu!