CILEGON, GALIJATI.ID ā Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cilegon mengecam keras insiden kebocoran gas kimia yang terjadi di kawasan industri PT Vopak Cilegon. Kejadian ini bukan persoalan sepele, melainkan indikasi nyata lemahnya sistem keselamatan industri yang secara langsung mengancam keselamatan masyarakat Cilegon.
Ketua HMI Cabang Cilegon, TB Rizki Andika, menegaskan bahwa pihak perusahaan wajib bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut. PT Vopak tidak boleh bersikap tertutup dan defensif. Perusahaan harus segera membuka informasi secara jujur dan transparan terkait jenis gas kimia yang bocor, kandungannya, serta tingkat bahayanya bagi kesehatan dan lingkungan.
āMasyarakat berhak tahu apa yang mereka hirup. Jangan sampai keselamatan publik dikorbankan demi citra dan kepentingan bisnis,ā tegas TB Rizki Andika.
HMI menilai, hingga hari ini tidak ada kejelasan yang meyakinkan apakah gas yang bocor tersebut aman atau berbahaya. Kondisi ini memperparah kepanikan publik dan menunjukkan buruknya manajemen krisis industri di Kota Cilegon.
Lebih lanjut, HMI Cabang Cilegon mendesak pemerintah daerah dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bertindak tegas dan tanpa kompromi. Apabila ditemukan unsur kelalaian, pelanggaran prosedur keselamatan, atau tindak pidana, maka penegakan hukum harus dilakukan secara maksimal, tanpa pandang bulu.
Selain itu, HMI menyoroti kelemahan serius Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon yang hingga saat ini belum memiliki laboratorium sendiri untuk memastikan dan menguji secara mandiri jenis gas kimia yang bocor. Ketergantungan pada pihak lain dalam situasi darurat adalah bentuk kegagalan sistemik yang tidak bisa terus dibiarkan.
āBagaimana mungkin kota industri sebesar Cilegon tidak memiliki alat dan teknologi untuk memastikan ancaman kimia di wilayahnya sendiri?ā kritik Rizki.
HMI menegaskan bahwa kejadian ini harus dilihat sebagai bencana industri, bukan sekadar insiden teknis. Selama ini, Kota Cilegon belum memiliki teknologi dan sistem mitigasi yang memadai untuk mencegah dan menangani bencana industri yang berpotensi merenggut nyawa manusia. (Is)Ā