GALIJATI.ID, CILEGON – Peluncuran dan diskusi buku Cahaya Santri menjadi sorotan utama dalam rangkaian acara Reuni Akbar dan Haul KH. Qomaruddin yang digelar di lapangan Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah, Sabtu (29/7/2025). Ribuan alumni dari berbagai angkatan memadati lokasi untuk mengikuti kegiatan yang sarat makna dan refleksi keilmuan ini.
Kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan musyawarah alumni lintas generasi, ziarah ke makam pendiri madrasah, serta doa bersama. Namun, peluncuran dan diskusi buku karya para alumni menjadi titik sentral dalam acara ini.
Diskusi buku Cahaya Santri dimoderatori oleh Kang Johar, dosen Universitas Al-Khairiyah Citangkil sekaligus alumni Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah. Tiga narasumber utama turut hadir memantik diskusi, yaitu KH. Muktillah, Dr. Nurdin Sibawaih, dan Ferdiyan, M.A.—ketiganya merupakan alumni Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah.
KH. Muktillah membuka diskusi dengan menyampaikan kisah perjuangan KH. Qomaruddin sebagai murid pertama KH. Yasin Beji yang mendirikan lembaga pendidikan di wilayah Pabean, khususnya Karangtengah. Ia menekankan bahwa KH. Qomaruddin memiliki pendekatan pendidikan yang kuat dalam keteladanan.
“Mame Yai adalah pribadi yang tak banyak berbicara, tetapi selalu menghadirkan bukti nyata bagi anak-anak dan para santri didiknya,” tuturnya.
Sementara itu, Dr. Nurdin Sibawaih menjelaskan filosofi di balik pemilihan judul Cahaya Santri. Menurutnya, alumni Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah telah menjadi cahaya dan teladan bagi masyarakat di tempat tinggal mereka masing-masing.
“Madrasah Al-Khairiyah adalah laboratorium keagamaan yang telah melahirkan manusia-manusia unggul melalui sistem pembelajaran yang sistematis dan mendalam,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ferdiyan, M.A.—mahasiswa program doktoral di UIII Depok—menggarisbawahi pentingnya ekosistem pendidikan yang baik dalam membentuk karakter santri.
“Ekosistem pendidikan di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah menjadi pondasi kuat dalam mencetak kader-kader unggul. Inilah yang membentuk cara belajar yang benar dan berkelanjutan,” katanya.
Diskusi ditutup dengan testimoni dari para guru dan alumni senior yang memberikan apresiasi dan kenangan mendalam terhadap peran madrasah dalam membina generasi. Momen ini menjadi refleksi bersama atas jejak pendidikan dan keteladanan yang ditinggalkan oleh KH. Qomaruddin.