“Kembali ke Rumah Besar”:  Kisah Para Tokoh yang Memilih Menguning di Musda Golkar Cilegon

Di Hotel Grand Manku Putra, tepatnya di aula yang dihiasi warna kuning cerah, suasana Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Golkar Kota Cilegon (26/11/25) terasa berbeda, bukan hanya momentum pemilihan ketua umum dan kepengurusan, tetapi karena siang itu menjadi saksi sejumlah tokoh lintas partai memutuskan langkah hidup yang tak sederhana: kembali mengenakan jas kuning.

Di panggung utama, Andika Hazrumy, Ketua DPD I Golkar Banten, berdiri berdampingan dengan Tb Iman Ariyadi, mantan Wali Kota Cilegon yang telah lama dikenal sebagai figur sentral pergerakan kader Golkar di daerah. Keduanya tampak menata kerah jas kuning yang akan disematkan kepada para tokoh yang baru saja mengambil keputusan penting dalam karier politik mereka.

Langkah yang Tidak Dibuat Semalam

Bagi Tubagus Maman, Ketua Partai Umat Cilegon, langkah itu bukan keputusan ringan. Ia menyadari betul bahwa perubahan warna politik selalu dibarengi pandangan publik, kritik, bahkan keraguan. Namun baginya, masa depan politik bukan soal seragam apa yang dipakai, tetapi rumah mana yang memberikan ruang untuk berbuat lebih besar.

Begitu pula dengan Ahmad Yusron dari PKB, serta Jihan Singandaru dan Imam Kafrowi dari NasDem. Mereka datang dari latar partai yang berbeda, pengalaman politik yang berbeda, dan pertimbangan pribadi yang berbeda—namun sore itu mereka berdiri dalam satu barisan baru.

Tak semua hadir secara fisik. Seorang pengurus Perindo menyampaikan komitmennya dari kejauhan. Namun pesan itu tetap memberi gema yang sama: sebuah perpindahan yang didasari keyakinan baru.

Detik Ketika Jas Kuning Disematkan

Saat jas disematkan, hadirin melihat bukan hanya ritual. Di wajah beberapa tokoh itu tampak ketegangan kecil—bahkan sebagian merapikan jas dengan gugup. Mereka bukan sekadar berpindah partai; mereka sedang membuka babak baru dalam hidup.

Di antara tepuk tangan, suasana berubah hangat. Ada yang tersenyum lega, ada yang menunduk menghormati proses, dan ada yang tampak menatap jauh ke depan, seolah mencoba memahami masa depan seperti apa yang sedang mereka masuki.

Ati Marliati dan Ketulusan Sebuah Rumah Politik

Di balik momentum itu berdiri sosok Ratu Ati Marliati, Ketua DPD II Golkar Cilegon. Kata-katanya siang itu mengandung nada yang berbeda dari pidato politik pada umumnya. Ada kejujuran yang membuat ruangan sejenak hening.

“Golkar ini rumah besar. Kita tidak pernah punya dendam. Pilkada selesai, semua selesai. Setelah itu kita kembali bersama membangun masyarakat Cilegon.”

Kata “rumah” yang ia tekankan bukan sekadar metafora. Bagi sebagian tokoh yang kembali, Golkar memang pernah menjadi tempat awal mereka belajar organisasi, bertumbuh, dan menemukan identitas politik. Hari itu seperti momen seseorang pulang setelah sekian lama berada di luar pagar.

Ati lalu meminta izin kepada Andika Hazrumy untuk menyerahkan jas kuning kepada para tokoh baru itu.

“Jas ini bukan hanya simbol kekuasaan, tapi perlindungan—seperti pohon beringin yang menaungi.”

Dalam kalimat itu, ada empati. Ada penerimaan. Dan ada pengakuan bahwa dinamika politik seringkali meninggalkan luka-luka kecil yang perlu dipulihkan.

Di Balik Perpindahan, Ada Manusia-Manusia yang Bertumbuh

Feature selalu melihat sisi manusia. Dan dari seluruh rangkaian acara itu, satu hal terasa jelas: keputusan para tokoh itu tidak lahir dari hitungan angka semata. Mereka membawa: sejarah organisasi, relasi pertemanan, perjalanan karier, harapan untuk masa depan politik yang lebih stabil.

Di belakang mereka ada keluarga yang mendukung atau mengkhawatirkan, ada konstituen yang bertanya-tanya, ada lawan politik yang mungkin menilai. Perpindahan politik bukan hanya strategi—itu adalah keputusan hidup.

Memandang ke 2030: Masa Depan yang Mereka Tuju

Jika dicermati dari sisi sumber daya manusia dan struktur politik, para tokoh yang berkumpul hari itu sedang menyiapkan diri untuk: dinamika politik yang makin cair, konsolidasi besar menjelang kontestasi 2029–2030, dan kebutuhan untuk berada di “kapal” yang lebih stabil.

Mereka tidak hanya bergabung dengan Partai Golkar, tetapi bergabung dengan sebuah perjalanan panjang yang akan menentukan arah Cilegon beberapa tahun ke depan.

Akhir Hari, Ruangan Itu Menjadi Lebih Hangat

Saat acara berakhir, beberapa tokoh tampak berbincang santai. Ada tawa kecil. Ada jabat tangan yang sebelumnya mungkin jarang terjadi. Semuanya seolah menyadarkan bahwa politik, pada akhirnya, adalah tentang manusia dan hubungan di antara mereka.

Musda VI Golkar Cilegon hari itu bukan hanya tentang struktur dan jabatan semata.  Ada orang-orang yang memutuskan pulang; ini tentang keberanian mengambil langkah baru; tentang keyakinan bahwa sebuah pohon beringin masih bisa memberi teduh di tengah kerasnya kompetisi politik; dan di sanalah, politik menemukan sisi manusianya kembali.(Ay)

Berikan Komentarmu!