CILEGON, GALIJATI.ID – Bagi Hayati Nufus, guru MTs Al-Khairiyah Karang Tengah sekaligus lulusan S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan. Baginya, momen ini adalah waktu untuk merefleksikan perjuangan panjang profesi pendidik yang penuh dedikasi, ketulusan, dan cinta pada dunia belajar.
“Hari Guru bagi saya adalah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk belajar, untuk memahami, untuk saling mengerti, dan mengaplikasikan hal-hal positif dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hayati.
Menjaga Kualitas dan Kebermanfaatan
Dengan latar belakang akademik yang kuat, Hayati menegaskan bahwa kualitas guru adalah kunci mencetak generasi berintegritas.
“Tetap semangat, jaga kualitas dan kebermanfatan kita kepada masyarakat, kepada anak-anak bangsa. Harapannya, Indonesia bisa lebih baik ke depan dan tidak banyak yang korupsi,” katanya.
Ia percaya pendidikan adalah medium paling kuat dalam membangun karakter dan mencegah perilaku koruptif di masa depan.
Pesan untuk Pemerintah: “Jangan Lupakan Guru Honorer Pedalaman”
Di tengah idealisme itu, Hayati menitipkan harapan besar kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib guru honorer di daerah terpencil.
“Perhatikan honorer pedalaman supaya kita tidak merasa dianak-tirikan,” harapnya.
Menurut Hayati, banyak guru honorer yang menjalankan tugas dalam keterbatasan fasilitas, namun tetap mengabdi dengan sepenuh hati.
Kenangan dari Sosok Guru yang Menginspirasi
Ketika ditanya tentang sumber inspirasinya, Hayati mengenang seorang guru yang pada masa sekolah memberinya pengalaman baru dan membuka wawasannya. Sosok tersebut, kata Hayati, menjadi motivasi terbesar baginya untuk terus belajar dan akhirnya memilih menjadi pendidik. (Ay/Kin)