Sumur Layar Bandung: Jejak Tradisi dan Kepercayaan di Bukit Watu Ampar

Sumur Layar Bandung atau yang oleh sebagian masyarakat setempat disebut Sumur Watu terletak di Lingkungan Lebak Indah, RT 02 RW 09, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Sumur tua ini berada di kawasan Bukit Watu Ampar dan dapat ditempuh sekitar sepuluh menit perjalanan dari Pelabuhan Merak.

Sebagai salah satu tinggalan masa lalu yang masih dapat dijumpai hingga kini, Sumur Layar Bandung menyimpan beragam cerita yang hidup di tengah masyarakat. Selain memiliki nilai sejarah, sumur ini juga dikenal karena berbagai kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat sekitar meyakini bahwa sumur tersebut memiliki aura magis tersendiri.

Berbagai cerita berkembang, seperti seseorang yang mengambil air dari sumur tanpa izin kemudian mengalami mimpi tertentu dan jatuh sakit. Ada pula kisah tentang orang yang mengambil ikan dari sumur tersebut lalu mengalami sakit hingga meninggal dunia. Kisah-kisah semacam ini menjadi bagian dari tradisi lisan yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Terlepas dari cerita-cerita bernuansa mistik tersebut, pada masa lalu Sumur Layar Bandung memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitar. Airnya dimanfaatkan untuk mandi, bersuci, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tidak sedikit pula para penggembala yang memanfaatkan air sumur ini sebagai sumber minum bagi hewan ternak mereka. Keberadaan sumur tersebut menjadi salah satu sumber air yang membantu aktivitas masyarakat di kawasan sekitar Bukit Watu Ampar.

Menurut penuturan Bapak Ropendi, yang memperoleh cerita dari mertuanya, almarhum Bapak Jasir, pada masa lalu sumur ini sering didatangi oleh para peziarah dengan berbagai tujuan dan niat. Almarhum Bapak Jasir dikenal sebagai sosok yang merawat dan menjaga keberadaan sumur tersebut selama bertahun-tahun.

Masyarakat setempat juga memiliki kepercayaan bahwa pada bulan Mulud sering muncul berbagai benda pusaka dari sekitaran sumur, suatu peristiwa yang dalam bahasa setempat disebut melorod. Benda-benda yang diyakini muncul antara lain keris, golok, dan batu-batu tertentu yang dianggap memiliki nilai khusus.

Dikisahkan bahwa ketika membersihkan atau mandi di sumur tersebut, almarhum Bapak Jasir pernah diperlihatkan berbagai pusaka tersebut. Namun, beliau memilih untuk tidak mengambilnya. Khawatir almarhum Bapak Jasir tidak mampu merawat benda tersebut.

Di kawasan ini terdapat dua sumur tua yang diyakini sebagai peninggalan para ulama atau tokoh sakti pada masa lampau. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kedua sumur tersebut melambangkan pasangan atau laki-rabi (suami-istri), sehingga keberadaannya sering dikaitkan dengan simbol keseimbangan dan kebersamaan.

Terlepas dari berbagai cerita dan kepercayaan yang berkembang, Sumur Layar Bandung merupakan bagian dari warisan budaya lokal yang patut dijaga keberadaannya. Harapan terbesar masyarakat adalah agar sumur tua ini terus dirawat, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara bijaksana sebagai salah satu jejak sejarah yang merekam kehidupan masyarakat Pulomerak pada masa lalu.

Berikan Komentarmu!