Siapkan Generasi Literat, MA Plus Keterampilan Al-Khairiyah Tegal Buntu Canangkan Beberapa Gerakan Literasi

”Literasi begitu penting sebab kebodohan rajin memakan korban” (Raim Laode)

GALIJATI, CILEGON – Quote di atas sangat tepat. Terutama saat ini, di mana teknologi dan informasi sangat deras dan masif. Penggunaan gadget yang semakin tak terkendali di kalangan remaja, sering kali membuat para pendidik dan orang tua kewalahan mengatasinya. Kelelaian sedikit saja, bisa berakibat fatal.

Banyak kalangan yang terfokus pada penangan paska kejadian. Namun, selama remaja tidak dibekali dengan pemahaman yang cukup, kekhawatiran kita akan terus berlanjut.

Demi menyiapkan generasi yang melek literasi, MA Plus Keterampilan Al-Khairiyah Tegal buntu mencanangkan beberapa kegiatan.

Pertama, mencanangkan gerakan satu bulan baca satu buku. Guru dan siswa diminta untuk membaca minimal satu buku yang harus diselesaikan dalam satu bulan. Mereka dapat membeli sendiri buku yang akan dibaca atau meminjam dari perpustakaan madrasah yang telah menyiapkan ratusan buku dalam berbagai genre.

Kedua, mengadakan kegiatan book talk. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari gerakan satu bulan baca satu buku. Pada kegiatan ini, siswa akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 5-6 siswa. Setiap kelompok akan didampingi oleh satu orang guru.

Dalam kelompok itulah guru dan siswa memberikan ulasan singkat (review) tentang buku yang telah atau masih mereka baca. Semacam resensi buku hanya dalam tingkat yang lebih sederhana.

Dengan diawali oleh guru pendamping siswa satu per satu menyampaikan data, fakta, dan isi dari buku yang mereka baca.

Kegiatan ini sangat bermanfaat karena melatih siswa berbagai soft skill yang kelak sangat mereka butuhkan dalam kehidupan paska mereka lulus dari madrasah. Keterampilan yang mereka latih dari garakan dan kegiatan ini adalah komunikasi yang baik, berpikir kritis, membangun networking, analisis informasi, jiwa kepemimpinan, mudah beradaptasi, kratif dan rasa ingin tahu, serta andal dalam mengelola waktu.

Ketiga, pembiasaan literasi yang diadkan setiap Rabu pagi dari pukul 07.00 – 07.30. Pembiasaan ini dirancang dengan berbagai jenis kegiatan, seperti membaca nyaring, membaca senyap, story telling, eksplorasi kata, menulis puisi, menginterpretasikan gambar, menulis cerita fiksi, hingga membuat mind mapping.

Keempat, budaya baca. Program kepala perpustakaan ini telah dilakukan dari tahun ke tahun. Siswa yang meminjam dan membaca buku, diminta untuk menuliskan ulasan singkat tentang buku yang mereka baca.

Ulasan bisa dibuat harian untuk memudahkan siswa memahami dan menuliskan isi dari bahan bacaan tersebut. Catatan siswa tersebut akan diserahkan kepada kepala perpustakaan yang juga merupakan guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ma’rufah, S. Ag.

 

Kelima, memberikan apresiasi pada siswa yang rajin memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Dari catatan siswa pada poin empat di atas, setiap akhir semester, kepala perpustakaan akan mendata dan merekap kehadiran dan peminjaman buku yang dilakukan siswa. Dari data tersebut, dipilihlah 3 siswa dengan frekwensi kunjungan dan peminjaman yang terbanyak serta ulasan buku yang paling baik.

Kepada mereka diberikan predikat pemustaka terbaik 1, 2, dan 3. Siswa-siswa ini pun diberikan sertifikat penghargaan dan hadiah sebagai bentuk apresiasi madrasah atas ketekunan dan kedisiplinan mereka dalam memanfaatkan perpustakaan.

Keenam, mengadakan kegiatan peringatan bulan bahasa yang diadakan setiap bulan Oktober. Dalam kegiatan ini, madrasah membuat kegiatan tantangan menulis selama 25 hari. Guru dan siswa diberikan kebebasan dalam memilih jenis tulisan yang akan meraka tulis.

Jenis tulisan nonfiksi bisa berupa artikel ringan dan kisah inspiratif. Sedangkan untuk tulisan fiksi, siswa bisa membuat puisi, cerpen, dan quote.

Dari kegiatan ini ratusan tulisan tercipta. Tulisan-tulisan tersebut diinventaris dan disunting dan akhirnya berlanjut pada tahap cetak. Sampai saat ini, belasan buku solo dan antologi telah dihasilkan oleh MA Plus Keterampilan Al-Khairiyah Tegal Buntu.

Semua kegiatan litersi tersebut sangat didukung oleh kepala MA Plus Keterampilan Al-Khairiyah Tegal Buntu, Eli Halimah, M. Pd yang juga merupakan seorang penulis.

Pihak madrasah berharap semua siswa terus melanjutkan gerakan membaca buku meskipun meraka telah lulus. Sehingga mereka bisa lebih selektif dan menyaring setiap informasi yang datang. Mereka juga diharapkan dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka kelak. (eli/kin) 

Berikan Komentarmu!