KH. Ahmad Chatib al-Bantani adalah salah satu ulama besar dan pejuang yang memiliki peran penting dalam sejarah keislaman, mujahidin dan pemerintahan di Banten. Sebagai seorang ulama, beliau dikenal dengan Ulama pejuang ( mujahidin Banten), sementara sebagai residen setelah berperang melakukan perlawanan dengan belanda, beliau memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan Banten pada masanya.
Penulis mencoba membahas perjalanan hidup, kontribusi, serta pengaruhnya dalam perkembangan Islam dan politik di Banten.
Tulisan ini dibuat sebagai informasi bagi pembaca, bahwa beliau Ulama pejuangĀ yang pernah memimpinĀ pemerintahan Banten yang kemudian bergabung dengan Republik Indonesia tidak mendirikan lagi Kesultanan Banten.
Dalam tulisan ini, penulis ingin memaparkan bahwa pada massa pemerintahan beliau, ketika terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh tokoh komunis Tje Mamat (Mohamad Mansur), KH. Ahmad Chatib al-Bantani memerintahkan Kepada Brigjen KH. Syamāun untuk menumpas Gerakan Pemberontakan Tje mamat.
Tulisan ini memaparkanĀ logika terbalik dan logika argumentasi terhadap data Hindia Belanda serta tulisan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo yang menyatakan keterlibatan KH. Ahmad Chatib al-Bantani dengan Gerakan Komunis di Banten.
Pendidikan KH. Ahmad Chatib al-Bantani
KH. Ahmad Chatib al-Bantani lahir di Kampung Gayam, Desa dan Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia lahir pada tahun 1890.
Ayah beliau adalah Seorang pengusaha dan Ulama, yaitu KH. Tubagus Muhammad Waseh, seorang ulama dari Pandeglang yang makamnya di gayam jalan Pandeglang. Dan beliau adalah mantu dan murid dari Syekh Asnawi Caringin Labuan, Pandegelang Banten.
KH. Ahmad Chatib al-Bantani menempuh pendidikan agama di beberapa pondok pesantren penting, baik di Banten maupun di Makkah.
Sejak kecil KH. Ahmad Chatib al-Bantani dibimbing langsung oleh ayahnya. KH. Ahmad Chatib al-Bantani juga belajar di pesantren Cibeber, Cilegon, di bawah bimbingan KH. Abdul Latif. KH. Ahmad Chatib al-Bantani melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Caringin di bawah bimbingan Syekh Asnawi Caringin, seorang sahabat ayahnya dan mertuanya.
Setelah menikah dengan Ratu Hasanah, putri dari Syekh Asnawi Caringin, pada tahun 1912, KH. Ahmad Chatib al-Bantani menimba ilmu di Makkah selama kurang lebih tiga tahun, dimulai sekitar tahun 1912. Selama di Makkah, beliau berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar asal Banten yang sangat dihormati.
KH. Ahmad Chatib al-Bantani wafat pada 19 Juni 1966 dan dimakamkan di kawasan Masjid Agung Banten. Warisan perjuangan dan kepemimpinannya tetap dikenang sebagai bagian integral dari sejarah perjuangan dan pembangunan Banten serta Indonesia.
Menjadi Residen Banten
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, posisi pemerintahan di Banten mengalami kekosongan. Pada akhir Agustus 1945, perwakilan masyarakat Banten mengadakan pertemuan dan secara aklamasi memilih KH. Ahmad Chatib al-Bantani sebagai Residen Banten yang menangani pemerintahan sipil.
Pada tanggal 19 September 1945, Presiden Soekarno mengangkat KH. Ahmad Chatib al-Bantani sebagai Residen Banten pertama setelah Indonesia merdeka. Dalam kapasitasnya sebagai residen, beliau bertanggung jawab membentuk struktur pemerintahan di Keresidenan Banten. Beliau menunjuk Zulkarnaen Suria Kertalegawa sebagai Wakil Residen dan mempertahankan para bupati yang sedang menjabat di Serang, Pandeglang, dan Lebak untuk melanjutkan tugas mereka.
Selain itu, KH. Ahmad Chatib al-Bantani juga berperan dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Banten, yang anggotanya terdiri dari mantan anggota PETA, Heiho, Hizbullah, Sabilillah, API, dan laskar lainnya. Dan pimpinan BKR adalah Brigjen KH Syamāun.
Kepemimpinan KH. Ahmad Chatib al-Bantani mencerminkan kepercayaan masyarakat Banten terhadap ulama sebagai pemimpin. Hal ini terlihat dari dominasi ulama dalam posisi penting pemerintahan daerah pada masa itu, sehingga dikenal dengan pemerintahan yang dipimpin oleh para Kiai.
Menumpas Gerakan Tje Mamat
Konflik antara Tje Mamat (Mohamad Mansur) dan KH. Achmad Chatib di Banten pada era 1920-an berkaitan dengan perbedaan ideologi yang tajam antara keduanya. Serta perbedaan tentang pemerintahan yang dipimpin KH. Ahmad Chatib al-Bantani
Di sisi lain, KH. Ahmad Chatib al-Bantani adalah seorang ulama besar di Banten yang memiliki pengaruh luas di kalangan masyarakat Muslim (Berbeda kasus dengan tulisan Martin Van Bruinessen). Ia menolak ideologi komunis yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran Islam, terutama karena komunisme menolak keberadaan Tuhan dan sering kali bersikap anti-ulama.
KH. Ahmad Chatib al-Bantani melihat gerakan PKI sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Islam dan tatanan sosial masyarakat Banten yang berbasis keislaman. Pemberontakan terhadap pemerintahan KH Ahmad Chatib al-Bantani, dengan ketidakpuasan serta pembunuhan terhadap bupati-bupati bawahan pemerintaham KH. Ahmad Chatib al-Bantani
Pada tanggal 27 Oktober 1945, Tje Mamat, seorang tokoh yang memimpin kelompok Dewan Rakyat, bersama beberapa pengikutnya, mendatangi kantor Keresidenan Banten. Mereka mendesak KH. Ahmad Chatib al-Bantani untuk menyerahkan kekuasaan kepadanya. Karena situasi yang mendesak dan untuk menghindari pertumpahan darah, KH. Ahmad Chatib al-Bantani terpaksa memenuhi tuntutan tersebut.
Setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Dewan Rakyat, tindakan mereka yang represif dan meresahkan masyarakat dengan terjadinya pembunuhan terhadap bupati yang diangkat oleh KH. Ahmad Chatib al-Bantani mendorong KH. Ahmad Chatib al-Bantani untuk mengambil langkah tegas. Beliau menginstruksikan KH. Syamāun, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Serang dan pimpinan tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Banten untuk menumpas gerakan Dewan Rakyat yang dipimpin oleh Tje Mamat.
Konflik antara Tje Mamat dan KH. Achmad Chatib mencerminkan pertarungan antara dua ideologi besar di awal abad ke-20: komunisme dan Islam tradisional.