Pada bulan Oktober 1605, sebuah surat penting dikirimkan dari Kesultanan Banten kepada Raja Inggris, James I. Surat tersebut merupakan bagian dari komunikasi diplomatik awal antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan kekuatan Eropa. Dalam surat itu, Raja Banten menyampaikan ucapan selamat atas penobatan James I sebagai Raja Inggris, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas hadiah yang telah dikirimkan melalui Jenderal Milton.
Sebagai balasan, pihak Kesultanan Banten mengirimkan dua buah faizar, benda yang hingga kini belum diketahui maknanya secara pasti. Namun, berat dan nilainya diperkirakan besar, sebab satu faizar setara dengan tiga ekor hewan ternak berkaki empat.
Surat ini dikirimkan pada masa Kesultanan Banten masih berada dalam masa perwalian, karena pemimpinnya, Pangeran Abdul Kadir, baru berusia sekitar sembilan tahun dan belum cukup umur untuk memerintah. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan oleh para waliraja yang mewakili Sultan.
Tercatat ada lima waliraja yang pernah memimpin selama masa perwalian dari tahun 1596 hingga 1624. Patih Mangkubumi menjabat dari tahun 1596 hingga wafatnya pada 1602. Sepeninggalnya, jabatan itu sempat dipegang oleh adiknya, namun ia dipecat pada 17 November 1602 karena perilaku buruk.
Untuk mencegah konflik internal, jabatan wali sultan tidak lagi dipercayakan kepada para patih, melainkan kepada Nyimas Ratu Ayu Wanagiri, ibunda Sultan. Namun, setelah beliau menikah dengan Pangeran Camara, jabatan waliraja diserahkan kepada suami barunya tersebut. Terakhir, jabatan ini dipegang oleh Pangeran Arya Ramanggala dari tahun 1608 hingga 1624.
Tahun 1605 menjadi tahun yang penuh gejolak di Banten. Selain pengiriman surat ke Inggris, saat itu juga berlangsung acara khitanan Sultan Abdul Kadir, yang menandai transisi penting dalam kehidupan sang Sultan muda. Di tengah peristiwa tersebut, muncul insiden besar yang melibatkan Pangeran Arya Mandalika, putra Maulana Yusuf. Ia menahan sebuah kapal jung dari Johor, yang menimbulkan konflik dengan Patih Istana pada satu tahun sebelumnya, yakni tahun 1604. Seruan untuk membebaskan kapal itu diabaikan, bahkan Mandalika bersekutu dengan pangeran-pangeran lain yang menentang kekuasaan pusat, dan membangun benteng pertahanan di luar kota Banten.
Situasi ini memuncak saat Pangeran Jayakarta, yang datang ke Banten untuk menghadiri khitanan Sultan Abdul Kadir, diminta bantuan militernya oleh Patih. Pasukan Jayakarta, dibantu oleh Inggris, akhirnya menyerang benteng Mandalika dan berhasil menumpas perlawanan. Sebuah perjanjian damai pun dibuat: Mandalika dan para pengikutnya diharuskan meninggalkan wilayah Banten dalam waktu enam hari, dengan hanya diperbolehkan membawa tiga puluh orang anggota keluarga.
Melihat konteks sejarah ini, dapat diduga bahwa surat diplomatik kepada Raja James I kemungkinan besar disusun atau ditandatangani atas nama Sultan oleh waliraja yang berkuasa pada saat ituābaik oleh Ibunda Pangeran Abdul Kadir sendiri, yakni Nyimas Ratu Ayu Wanagiri atau ayah sambungnya yakni Pangeran Camara.
Dalam Buku Perang, Dagang, Persahabatan: Surat-surat Sultan Banten yang ditulis Titik Pudjiastuti, surat ini kini disimpan di Public Record Office, London, dengan nomor arsip PRO SP 102/4/8. Surat tersebut tersimpan dalam sebuah peti kardus cokelat tua, bersama arsip negara lain dalam bundel other state paper foreign classes. Surat dari Raja Banten ini terikat menjadi satu dengan arsip surat dari Turki bernomor SP 102/4/9(1). Ā Berikut suntingan teks dan terjemahan surat dalam penelitian Titik Pudjiastuti:
Sürat yuhibbu Raja Banten yajiā ila Raja Inggris wa Saqotlan wa Faransah wa Arlanda,/
Surat cinta Raja Banten kepada Raja Inggris, Scotland, Perancis, dan Irlandia.
Ā
yaČülu Allahu taāalÄ āumrahu wa zÄdati kulli yaumin daulatahu wa ČÄliqu kullu baladihim/
Semoga Allah memanjangkan umurnya dan menambahkan kemerdekaan kepada setiap negeri
Ā
wa raāyatihim fi yadi Raja Inggris. AmmÄ baādu, antum rasÅ«lu ilÄ Janaral/ Milton jƤāa minni isalÄmatin. AnÄ samiā antum yaÅiru Raja Inggris surüri./
dan rakyatnya yang berada di bawah kekuasaan Raja Inggris. Selanjutnya, Tuan mengutus Jenderal Milton, dan ia telah datang kepada kami dengan selamat. Kami mendengar bahwa Tuan telah menjadi Raja Inggris. Dengan senang
Ā
Qalbu anÄ samāuhu āala al-Äna baladi al-Inggris bibaladi Banten wƤhidun./
hati kami mendengarnya. Sekarang negeri Inggris dan Banten telah bersatu.
Ā
AmmÄ baādu, antum hadiyyatu faizahar minni aqbaltu min muhibbati antum minni. Hadiyyatu/
Selanjutnya, Tuan memberi hadiah kepada kami dan kami menerima pemberian itu karena rasa cinta Tuan kepada kami. [Sebagai balasan] kami [kirimkan] hadiah
Ā
anÄ faizahar iÅ”naini wƤhidun; waznuh arbaāata āasyara mÄsyiya wa wƤhidun faizahar Å”alÄÅ”a/ mƤsyiyatin./ Ā As-SalÄmu bil-khair /
dua faizar (?), timbangannya seberat 14 binatang ternak, satu faizar sebanding dengan 3 ekor. binatang ternak berkaki empat. Salam dengan kebaikan.
Ā

Masih dalam Titik Pudjiastuti,Ā surat tersebut dibawa ke Inggris oleh Kapten Henry Middleton dan diteruskan kepada Raja James I pada tanggal 25 Mei 1606. Sebelumnya, surat ini kemungkinan diterima langsung oleh Middleton pada 4 Oktober 1605, saat ia bersiap meninggalkan Banten dan berlayar kembali ke Inggris dua hari kemudian, pada 6 Oktober 1605. Kapten Henry Middleton adalah seorang pelaut dan petualang asal Inggris, sekaligus gubernur dari firma dagang London Trading yang memimpin pelayaran ke Hindia Timur antara 1603ā1614. Ia memiliki pengalaman berunding dengan sultan Ternate dan sultan Tidore, dan turut bersaing dengan kekuatan Belanda serta Portugis di wilayah tersebut.
Ukuran surat ini adalah 31 x 28,5 cm, dengan teks seluas 18,5 x 12 cm. Terdapat sembilan baris teks dalam satu halaman. Kertas yang digunakan merupakan kertas Eropa, ditandai dengan cap bergambar bunga lily dalam perisai bermahkota. Menurut Heawood (1960:20), jenis kertas ini umum digunakan di Inggris pada awal abad ke-17. Struktur kertas menunjukkan jarak antar chain-lines (garis tebal) sebesar 2,8 cm, dan dalam satu sentimeter terdapat 13 laid-lines (garis tipis).
Di margin kanan atas, tepat di samping teks, terdapat stempel berbentuk lingkaran dari karbon berwarna hitam. Di dalam stempel tertulis dua kalimat syahadat dalam aksara Arab: LÄ ilÄha illÄ AllÄh, Muhammad rasÅ«l AllÄh. Menurut Kitab Terasul, stempel yang diletakkan di samping teks menandakan bahwa si pengirim dan penerima surat adalah seorang raja. Di atas stempel tersebut, terdapat pula cap kerajaan Inggris berbentuk oval dengan tulisan: Her Majestyās State Paper Office.
Teks surat ditulis dalam bahasa Arab, menggunakan huruf Arab lengkap dengan harakat, serta ditulis menggunakan tinta hitam. Di bagian tengah atas surat terdapat kepala surat bertuliskan āYÄ FattÄįø„ā, yang berarti āWahai Dzat yang Maha Membuka.ā Menurut Nasir Abdullah, seperti dikutip Gallop (1994:56), posisi kepala surat seperti ini menunjukkan bahwa pengirim surat memiliki derajat dan pangkat tinggi.
Informasi lebih lanjut tentang surat ini juga dibahas oleh Gallop dalam artikelnya berjudul Seventeenth-Century Indonesian Letters in The Public Record Office. Terjemahan isi surat dalam bahasa Inggris tersedia dalam tulisan Foster Meski surat ini tidak mencantumkan tanggal, berdasarkan keterangan Foster, surat ini dipastikan ditulis pada Oktober 1605, karena diterima oleh Middleton pada tanggal 4 Oktober tahun tersebut.
Surat dari Raja Banten kepada Raja James I ini merupakan bukti sejarah bahwa Kesultanan Banten sudah menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan bangsa-bangsa besar dunia sejak awal abad ke-17. Surat ini menjadi saksi nyata keterlibatan aktif kerajaan di Nusantara dalam percaturan politik dan ekonomi internasional.
Ā