Kebo Gerem dan Tradisi Ranjaban di Cilegon

Menjelang hari raya idul fitri, banyak persiapan yang dilakukan umat muslim di belahan dunia. Di Indonesia, hari raya idul fitri atau lebaran disambut dengan sukacita. Berbagai cara dilakukan oleh umat muslim di Indonesia untuk menyambut hari kemenangan itu.

Salah satu cara yang dilakukan umat muslim di Indonesia untuk menyambut datangnya hari lebaran yaitu dengan membuat berbagai macam makanan dan berbagai macam kue kering. Seperti kue bawang, sagu keju, nastar, kuping gajah, kacang asin, gipang, selorot, emping, kue putri salju dan lain-lain.

Kue-kue kering ini sengaja dibuat untuk disuguhkan kepada para tamu yang datang bersilaturahmi ke rumah. Atau kue-kue kering ini dijadikan buah tangan pada saat berkunjung ke rumah sanak saudara.

Selain membuat kue kering, menjelang H-1 lebaran, umat muslim di Indonesia juga disibukkan dengan membuat kupat. Jika masih tinggal di kampung, selain dikonsumsi pribadi, kupat-kupat yang telah matang itu nantinya dibawa ke masjid untuk dido’akan.

“Terapung sama hanyut, terendam sama basah.” Artinya persahabatan yang setia, sehidup semati. Peribahasa ini bisa dikaitkan dengan kupat yang dihidangkan di atas meja makan. Kupat memiliki sahabat setia yang selalu berdampingan, yaitu opor ayam, sate, sayur pepaya muda, sayur labu siam, semur daging dan rendang.

Mendekati hari lebaran, situasi pasar tradisional mendadak ramai. Pengunjung pasar tradisional didominasi oleh kaum hawa. Atau sebut saja emak-emak. Mereka sengaja datang pagi ke pasar untuk berburu bumbu-bumbu dapur dan aneka lauk. Daging ayam, daging sapi dan daging kebo.

Ketimbang mengkonsumsi daging sapi, masyarakat Cilegon lebih memilih mengkonsumsi daging kebo. Alasannya sederhana, daging kebo lebih enak dan gurih dibandingkan dengan daging sapi.

Kedekatan hubungan manusia dengan kebo juga mempengaruhi pilihan konsumtif daging tersebut. Kebo menjadi salah satu hewan yang dipilih oleh petani di Cilegon untuk dijadikan partner dalam bekerja.

Petani memanfaatkan tenaga kebo untuk menggarap lahan pertanian. Biasanya, di saat musim menanam padi, kebo ditugaskan untuk meluku sawah. Dengan bantuan kebo, pekerjaan petani menjadi terbantu.

Selain itu, kebo juga bisa dijadikan alat transportasi petani. Di musim panen padi, petani memanfaatkan tenaga kebo untuk menarik pedati yang berisi gabah. Atau bisa juga kebo dan pedati menjadi alat tranportasi antar desa.

Di Banten, kebo telah ada sejak lama. Pernah ditemukan fragmen fosil kebo di dekat situs Banten Girang ketika ekskavasi yang dilakukan oleh arkeolog. Multatuli dalam karya magnum opusnya “Max Havelaar”, juga memuat informasi tentang keberadaan kebo.

Dalam novelnya tersebut, Multatuli menceritakan ketikadilan pemerintah kolonial. Saat itu dikisahkan oleh Multatuli, Bupati Lebak mengambil sewenang-wenang kebo milik rakyat. Padahal kita ketahui bersama, bahwa kebo merupakan sumber kehidupan rakyat Lebak saat itu.

Dikutip dari tuntasmedia.com, dalam artikelnya “Kebo dalam Tradisi Banten”, Sejarawan Ali Fadillah menjelaskan bahwa dilihat dari sudut pandang etno-historis, kebo merupakan salah satu hewan terpenting dalam kebudayaan di Nusantara. Peran kebo sangat penting dalam kehidupan masyarakat Nusantara dari zaman nirleka hingga sekarang.

Kebo Gerem

Dalam Surat Kabar Pemandangan No.87 tahun ke-5 yang terbit pada 21 April 1937, tertulis “nanti dikirim sate kerbouw Gerem dari Poelomerak!!”

Sekilas informasi di atas memuat eksistensi Kebo Gerem di masa lalu. Ini memberikan gambaran, bahwa daging sate Kebo Gerem sudah terkenal enak dari zaman dahulu. Di masa lalu, Gerem masuk ke dalam wilayah adminstratif Kecamatan Pulomerak.

Sebenarnya apa perbedaan Kebo Gerem dengan kebo lain?

Kebo Gerem merupakan kebo lokal yang hidup di Gerem, kota Cilegon. Jika dilihat dari bentuknya, secara spesifik Kebo Gerem dengan jenis kebo lain hampir sama. Yang membedakan yaitu terlihat dari sedikit lebat bulu yang tumbuh di badannya, badannya yang bersih dan bentuk badannya yang majir. 

Selain itu, perawatanpun menjadi unggulan dari Kebo Gerem. Dalam artikelnya “Pasar Joged dan Kebo Gerem” yang terbit di kompasiana.com, Kang Nasir menjelaskan bahwa Kebo Gerem setiap harinya dingon di area pesawahan atau tegalan. Sore hari menjelang magrib, Kebo Gerem dibawa pulang. Namun sebelum itu, Kebo Gerem harus dimandikan sebelum masuk ke kandang.

Menurut orang tua penulis, perawatan Kebo Gerem bener-bener ekstra. “Kebone dikandang. Tiap dine dielus-elus. Makane Kebone bersih. Lemu-lemu.”

Ketika malam hari datang, di kandang Kebo Gerem dibuatkan beleman. Tujuannya yaitu agar Kebo Gerem terhindar dari ular, nyamuk dan jenis serangga lainnya. Pagi harinya, Kebo Gerem diberi makan rumput. Masih menurut Kang Nasir, itulah yang membuat daging Kebo Gerem berkualitas.

Di Cilegon, tepatnya di jalan raya Gerem, Kelurahan Gerem, terdapat pasar daging kebo yang hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja. Seperti di waktu munggahan, di pertengahan Ramadan dan satu hari menjelang lebaran. Masyarakat setempat menyebut pasar ini dengan sebutan asar Joged.

Di hari sembelehan, daging Kebo Gerem dijual di Pasar Joged. Di masa lalu daging yang dijual di Pasar Joged merupakan daging Kebo Gerem semua. Karena populasinya kian hari semakin turun dan menyempitnya lahan persawahan, Kebo Gerem saat ini sulit ditemukan. Hampir semua daging yang ada di Pasar Joged saat didatangkan dari luar Gerem.

Tradisi Ranjaban

Di akhir bulan Ramadan, ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat Cilegon. Tradisi ini dinamakan Ranjaban. Jika umumnya masyarakat membeli daging kebo masing-masing di pasar, lain halnya dengan orang yang ikut Ranjaban. Orang-orang yang ikut Ranjaban berpatungan untuk membeli kebo.

Jauh sebelum hari sembelihan, panitia Ranjaban mengumumkan besaran harga daging kebo per-pondok. Bagi masyarakat yang ingin ikut serta Ranjaban namun tak mampu membayar per-pondoknya, maka orang tersebut harus mencari teman agar tidak terlalu berat untuk pembayarannya. Namun jika mampuh membayar per-pondoknya sendiri, maka tak perlu mencari teman.

Dalam Ranjaban ini, panitia membatasi jumlah peserta atau jumlah peminat. Karena memang pihak panitia hanya menyediakan beberapa pondok saja. Satu ekor kebo, panitia dengan juru ahli sudah mengecak, kira-kira satu ekor kebo menghasilkan berapa kilogram daging.

Satu hari menjelang hari raya atau dine sembelehan, peserta yang ikut Ranjaban datang ke tempat yang telah ditentukan. Biasanya ranjaban digelar di tanah lapang. Inilah momen yang ditunggu oleh anak-anak di bulan Ramadan, yaitu dine sembelehan.

Panitia dan peserta Ranjaban mulai mengerumuni kebo yang akan disembeleh. Mereka berdo’a bersama terlebih dahulu. Berharapa keselamatan, keberkahan dan kelanacarn dalam menjalankan Ranjaban. Sang ahli begal mulai melilitkan tampar di kolong kaki kebo. Keempat kaki kebo mulai terikat. Satu komando berteriak, “Tariiik…!!!”

“Buuuk,” bunyi badan kebo yang terjatuh.

Segera saat badan kebo sudah jatuh mencium tanah, sang juru sembelih mengambil goloknya yang tajam dan mulai megalungkannya di leher kebo.

Ketika kebo sudah terpotong, panitia Ranjaban mulai menguliti dan meneteli daging kebo. Menariknya, yang ikut membantu tetel-tetel daging adalah para peserta Ranjaban. Ada kehangatan persaudaraan manakala yang satu memegang daging kebo, yang satu memegang pisau.

Matahari mulai naik, mulailah daging-daging kebo dipondokkan di atas terpal dan plastik. Tulang-tulang dipondokkan. Babat-babat dipondokkan. Kulit-kulit dipondokkan. Seluruh jeroan yang ada di dalam perut kebo, tidak terkecuali usus juga dipondokkan.

Selesai tetel-tetel, panitia Ranjaban mengabsen dan memanggil satu persatu peserta yang ikut Ranjaban. Peserta Ranjaban yang dipanggil oleh panitia kemudian dipersilahkan untuk mengambil satu pondok daging kebo, usus, babat, kulit dan tulang.

Begitulah ingatan penulis mengenai tradisi Ranjaban. Saat ini, tradisi ini mulai ditinggalkan. Masyarakat lebih memilih membeli daging kebo sendiri ketimbang membeli daging kebo secara patungan. Terlihat mulai pudarnya nilai-nilai kebersamaan di masyarakat.

Ranjaban bukan sekedar tradisi menyembelih kebo bersama. Ranjaban merupakan ruang silaturahmi di akhir bulan Ramadan. Nilai-nilai gotong royong dan nilai-nilai kebersamaan dapat dilihat dari mulai awal penyembelihan sampai akhir pembagian daging kebo. Selain itu, tidak hanya daging kebo saja yang dapat dinikmati, melainkan tulang yang bisa dimasak sop dan kulit kebo yang bisa digarang untuk dijadikan kikil.

Kebo Gerem dan Ranjaban, identitas Cilegon yang mulai pudar. Mulai ditinggalkan pemiliknya. Sudah seharusnya pemerintah kota terkhusus Dinas Kebudayaan melirik masalah ini. Apa jadinya jika satu persatu identitas daerah hilang dari rahim ibu kandungnya?

 

Merak, 30 Maret 2025

Berikan Komentarmu!