Tradisi “Anter-anter” saat Lebaran di Kota Cilegon 

Setiap daerah memiliki caranya sendiri dalam merayakan Lebaran, dan di Kota Cilegon, salah satu tradisi yang masih lestari adalah tradisi “anter-anter” . Lebaran bukan hanya tentang saling memaafkan dan berkumpul bersama keluarga, tetapi juga tentang berbagi dalam bentuk makanan. Di berbagai daerah di Cilegon, tradisi “anter-anter” ini adalah kegiatan mengantarkan makanan ke sanak saudara, tetangga, bahkan guru dan kiai, menjadi ritual tahunan, terutama saat lebaran.

Dalam tradisi “anter-anter” ini, untuk jenis barang yang dihantarkan, di Kota Cilegon hampir semuanya adalah sejenis makanan khas lebaran. Namun, ragam makanannya berbeda-beda di setiap wilayah di Kota Cilegon.

Di Merak, misalnya, makanan yang biasanya dikirimkan berupa ketupat dan opor, ditambah dengan kue-kue kering. Sementara itu, di Duku Malang, Tegal Bunder, Kecamatan Purwakarta, kiriman lebih beragam, mencakup bolu kuwuk, kue eprok, gegetas, keripik pisang kepok dengan taburan gula putih, gipang, serta kerawu, dan makanan lebaran khas Cilegon lainnya.

Sedangkan, di Kependilan, Kecamatan Jombang, makanan yang dianter biasanya adalah ketupat sayur atau kue buatan sendiri, apa saja. Sedangkan, di Ciwedus, Kelurahan Bagendung, Kecamatan Cilegon, lebih ke arah kue kering seperti rengginang dan gipang.

Selain itu, di Karang Tengah, Pabean, Kecamatan Purwakarta, tradisi ini juga masih berjalan. Biasanya pada hari raya, orang-orang berkunjung ke kerabat sambil membawa cangkingan, istilah setempat untuk bungkusan makanan. Makanan yang sering dibawa adalah gegetas, sejenis kue berbahan dasar tepung beras.

Bahkan dalam hal membawa makanan, tradisi ini mengalami sedikit perubahan. Dahulu, makanan dibawa dalam toples kaca atau beling yang nantinya akan dikembalikan setelah isinya habis. Kini, kebanyakan makanan dibungkus dalam plastik atau wadah sekali pakai untuk kepraktisan.

Bisa dikatakan, anter kue di Cilegon lebih dari sekadar berbagi makanan. Ia adalah bahasa kasih sayang yang diungkapkan melalui kirim-kirim makanan yang biasanya diberikan kepada keluarga yang lebih tua atau kepada saudara, kerabat, dan tetangga. Dalam tradisi ini tidak aturan baku kepada siapa, penerimanya.

Waktu Pelaksanaan Tradisi “Anter-anter”

Waktu pelaksanaannya tradisi “anter-anter” ini di Kota Cilegon juga beragam, sebab waktu pelaksanaan tradisi ini bergantung pada kebiasaan setempat dan kedekatan hubungan. seperti: di Kependilan Jombang, misalnya, tradisi ini dilaksanakan semenjak malam takbir sampai seusai salat idul fitri.

Sedangkan, di Duku Malang, biasanya makanan dihantarkan seusai salat id sampai hari ketiga sampai hari kelima lebaran, terutama jika kerabat yang dikunjungi tinggal agak jauh. Begitu pun, di Karang Tengah, Kelurahan Pabean, dan di daerah Ciwedus, tradisi “anter-anter” ini dilaksanakan seusai salat id dan setelah sungkem ke orang tua di rumah masing-masing.

Begitu juga, di Cikerai, Kecamatan Cibeber, tradisi anter-anter ini dilaksanakan seusai salat id, kemudian “ngeriung” di Masjid (di beberapa daerah riungan dilaksanakan saat malam takbir), kemudian ziarah ke keluarga, baru lah setelah itu, anter-anter kue ke keluarga.

Hal yang sama juga, tradisi ini di Merak, menghantarkan makanan biasanya dimulai sejak pagi hari sementara di sore hari biasanya diisi dengan kegiatan silaturahmi ke keluarga dekat bersama keluarga besar.

Tradisi ini umumnya dilakukan oleh para ibu, atau anak-anak kecil yang diminta oleh ibu-ibu mereka untuk langsung menyerahkan bingkisan kepada penerima. Namun, di beberapa daerah di Cilegon, seperti di Ciwedus, tradisi “anter-anter” ini dilaksanakan oleh satu keluarga ke keluarga lain yang masih kerabat sembari silaturahmi.

Waktu yang fleksibel ini mencerminkan bahwa anter kue bukanlah kewajiban yang kaku, melainkan sebuah kebiasaan yang dilakukan dengan keluwesan. Yang utama bukan kapan, tetapi niat berbagi dan menjaga hubungan baik.

Salah satu keunikan dari tradisi ini adalah konsep timbal balik. Tidak seperti pemberian formal yang mengikat, tradisi “anter-anter” ini lebih mirip pertukaran rasa dalam suasana suka cita. Biasanya makanan yang diberikan akan dibalas dengan makanan lain (makanan yang berbeda) saat pulang, hampir mirip seperti barter makanan pada akhirnya.

Sementara di Cikerai, untuk timbal baliknya adalah wadah tempat membawa makanannya akan diisi dengan beras dan uang persenan untuk anak-anak. Namun, di beberapa daerah, timbal balik ini bukan aturan yang mengikat, tetapi lebih bersifat sukarela.

Perlu diketahui, timbal balik ini tidak selalu berlaku untuk semua penerima. Jika yang menerima adalah guru atau kiai, maka pemberian ini lebih bersifat penghormatan tanpa mengharapkan imbalan. Ada juga kondisi di mana orang yang dikirimi makanan justru tidak meminta isian karena mereka masih memiliki stok berlimpah di rumah. Dalam kondisi seperti ini, tradisi anter kue lebih menjadi simbol kepedulian daripada sekadar transaksi sosial.

Refleksi Makna simbolik Tradisi Anter-Anter

Tradisi “anter-anter”  dalam budaya Lebaran di Cilegon memiliki makna simbolik yang kaya apabila kita refleksikan. Di balik kegiatan sederhana ini, tersimpan nilai-nilai sosial, spiritual, dan budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat.

Pertama, tradisi “anter-anter” melambangkan ikatan sosial dan kekeluargaan. Dengan mengantarkan makanan, seseorang tidak hanya berbagi rezeki, tetapi juga menunjukkan kepedulian dan memperkuat hubungan dengan keluarga, tetangga, serta tokoh yang dihormati. Ini adalah bentuk nyata dari konsep gotong royong dan kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat.

Kedua, tradisi ini menjadi simbol keikhlasan dan penghormatan. Mengantar makanan tanpa mengharapkan imbalan adalah wujud dari sikap memberi dengan tulus. Khususnya ketika makanan diberikan kepada guru atau kiai, anter-anter kue mencerminkan penghormatan kepada mereka yang memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual dan pendidikan.

Ketiga, dalam konteks Lebaran yang identik dengan permohonan maaf dan rekonsiliasi, anter kue bisa diartikan sebagai simbol perdamaian dan keterbukaan hati. Dengan saling berbagi makanan, hubungan yang mungkin renggang dapat kembali terjalin erat. Setiap suapan dari makanan yang diterima dan diberikan menjadi pengingat bahwa kebersamaan lebih berharga daripada perselisihan.

Keempat, makanan yang diantarkan sendiri memiliki makna simbolik. Ketupat, misalnya, dalam budaya Nusantara sering dikaitkan dengan kesucian dan pengampunan. Sementara itu, kue-kue tradisional yang dibuat dengan tangan melambangkan kerja keras, cinta, dan harapan akan keberkahan.

Terakhir, tradisi ini adalah cerminan dari warisan budaya yang lestari. Meski zaman terus berubah, tradisi “anter-anter” menjadi penghubung antara generasi lama dan baru, mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari bagaimana kita berbagi dan menjalin silaturahmi dengan sesama.

Berikan Komentarmu!