Pelabuhan Merak yang terletak di Kota Cilegon ternyata merupakan tempat yang dianggap sakral karena terdapat makam seorang waliyullah terkenal, yaitu Syekh Jamaluddin. Makam ini bisa ditemukan di antara Stasiun Merak dan Dermaga 3 Pelabuhan Merak Kota Cilegon, menjadikannya sebagai tujuan peziarahan yang semakin menarik setelah disetujui untuk direnovasi.
Dengan pemandangan Selat Sunda yang menakjubkan serta Pulo Merak Kecil dan Pulo Merak Besar yang memikat, lokasi peziarahan ini menjadi tempat yang ideal untuk tujuan spiritual sekaligus pariwisata. Makam Syekh Jamaluddin selalu ramai dikunjungi oleh jemaah yang datang dari berbagai daerah, termasuk yang berasal dari luar Banten.
Syekh Jamaluddin dikenal sebagai seorang ulama yang berasal dari garis keturunan Arab atau Timur Tengah, yang datang ke Nusantara dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam. Syekh Jamaluddin Merak Banten diakui sebagai sosok ulama terkemuka dengan pemahaman yang dalam tentang agama dan pemerintahan. Ia adalah keturunan langsung dari Syekh Maulana Malik Isroil, yang termasuk dalam Dewan Wali 4 Wali Songo.
Dalam perjalanan hidupnya, Syekh Jamaluddin memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan penjajahan Portugis di perairan Selat Sunda. Ia dikenal dengan julukan Syekh Putih karena kebiasaannya mengenakan jubah berwarna putih. Keberadaannya menarik perhatian banyak orang dari berbagai daerah hingga negara lain, seperti Singapura, yang datang untuk berziarah dan menginap di tempat peristirahatan Syekh Jamaluddin.
Sebagai salah satu penyebar agama di daerah pesisir, ia memainkan peranan vital dalam mendidik masyarakat tentang ajaran Islam dan berkontribusi terhadap proses pengislaman wilayah Banten. Makam Syekh Jamaluddin bahkan diakui sebagai lokasi yang dimuliakan dan diangkap sebagai salah satu situs spiritual oleh masyarakat, serta sering dijadikan kunjungan ziarah bagi umat Muslim, terutama pada waktu-waktu khusus seperti peringatan Maulid Nabi atau hari-hari raya keagamaan lainnya.
Makam Syekh Jamaluddin tampak sederhana, namun dikelilingi oleh berbagai elemen yang menunjukkan penghormatan kepada dirinya. Selain berfungsi sebagai lokasi ziarah, kabarnya tempat ini juga sering dipakai sebagai wadah untuk mengenang sejarah penyebaran Islam di Nusantara, terutama di wilayah Banten. (Sal/Kien)