Cilegon, selain dikenal sebagai kota industri ternyata menyimpan destinasi alam yang indah, namanya Situ Rawa Arum.
Situ Rawa Arum berada di wilayah Kecamatan Grogol, lebih tepatnya di Lingkungan Tegalwangi, Kelurahan Rawa Arum. Pusat pemerintahan Kota Cilegon terletak sekitar lima kilometer dari danau seluas sepuluh hektar ini.
Situ Rawa Arum dapat dijadikan pilihan wisata alternatif bagi para pelancong yang datang ke Kota Cilegon. Luasan air danau ini menyuguhkan pemandangan alam yang menawan, dengan latar belakang pegunungan dan perbukitan. Udara di sekitarnya masih relatif bersih dari polusi, sehingga terasa sejuk dan menyegarkan. Ditambah dengan suasana yang hening, danau ini sangat cocok disebut sebagai tempat bersantai yang ideal di tengah kesibukan yang ramai.
Walaupun terletak dekat dengan area permukiman, daya tarik objek wisata alam ini masih kurang dikenal secara luas. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah daerah mulai menyadari potensi pariwisata yang dimiliki Situ Rawa Arum.
Oleh karena itu, pemerintah setempat melakukan pengembangan dengan menambahkan berbagai fasilitas. Ini mencakup papan petunjuk arah menuju lokasi, serta berbagai sarana yang dibangun di sekitar danau, seperti area parkir, tempat ibadah, tempat duduk untuk istirahat, dan warung yang menyediakan makanan dan minuman.
Fasilitas transportasi umum untuk mencapai destinasi wisata ini juga cukup memadai. Wisatawan dari luar daerah yang menggunakan kendaraan pribadi dapat mengikuti petunjuk arah yang tersedia. Sedangkan bagi pengguna transportasi umum, mereka dapat menggunakan bus atau angkutan kota menuju terminal di Kecamatan Purwakarta. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan dengan memesan ojek hingga sampai ke lokasi.
Pengembangan yang dilakukan baru-baru ini mulai memperlihatkan hasilnya. Di samping menikmati pemandangan indah, udara segar, dan kesempatan untuk bersantai, para pengunjung pun bisa menikmatinya tanpa biaya. Saat ini, semakin banyak orang, terutama penduduk Cilegon, yang menjadikan Situ Rawa Arum sebagai tempat tujuan wisata singkat mereka. Bahkan, tempat wisata ini semakin ramai dikunjungi, baik di hari biasa maupun saat hari libur tiba.
Asal Usul Situ Rawa Arum
Nama Situ Rawa Arum diberikan bukan tanpa pertimbangan. Warga setempat sudah lama menyadari bahwa danau kecil ini memiliki aroma yang menyenangkan. Jika kita membahas siapa sosok yang mencetuskan nama Situ Rawa Arum, maka Ki Ageng Ireng adalah jawabannya.
Dia adalah kepala Desa Telaga, sebuah komunitas yang menjadi awal mula dari Kelurahan Rawa Arum saat ini. Desa Telaga sendiri didirikan pada era Kesultanan Banten. Saat ini desa tersebut sudah tidak ada lagi karena bencana alam yang melanda lebih dari seratus tahun lalu.
Seperti yang tercatat dalam sejarah, Gunung Krakatau telah mengalami beberapa kali letusan. Salah satu letusan yang paling diingat adalah yang terjadi pada 26 Agustus 1883. Peristiwa luar biasa itu menyebabkan dua pertiga bagian dari Gunung Krakatau runtuh. Dampak pada daerah sekitarnya juga sangat signifikan.
Pulau Jawa dan Sumatera terpisah, dan Selat Sunda terbentuk akibat erupsi ini. Pulau-pulau kecil sekitar Krakatau hilang. Tsunami dengan ketinggian sekitar 40 meter menghancurkan area sekitarnya, terutama di selatan Pulau Sumatera dan bagian barat Pulau Jawa. Cilegon dan Desa Telaga adalah salah satu kawasan yang merasakan dampak.
Saat itu, ancaman tsunami mendorong Ki Ageng Ireng untuk membawa rakyatnya mencari tempat aman di Pegunungan Merak. Penduduk meninggalkan desa selama tiga minggu. Kemudian, setelah tsunami reda, Ki Ageng Ireng mengarahkan penduduk untuk kembali ke desa.
Namun, mereka sangat terkejut ketika tiba dan menemukan Desa Telaga telah hilang, ditutupi oleh air laut. Menurut Sawiri, seorang tokoh tua Rawa Arum, gempa bumi telah merusak Desa Telaga sampai membentuk cekungan yang kemudian dipenuhi air laut akibat gelombang tsunami.
Ki Ageng Ireng mengambil inisiatif untuk mendirikan tempat tinggal sementara di sekitar danau air asin itu. Tujuannya adalah untuk menunggu air surut, namun setelah bertahun-tahun, cekungan tersebut tetap dipenuhi air. Menariknya, air yang semula asin perlahan-lahan berubah menjadi tawar.
Pada akhirnya, area yang terendam tersebut dipenuhi oleh tanaman teratai putih. Bunga-bunga teratai putih tersebut memancarkan wangi yang menawan, bahkan aromanya semakin kuat saat malam tiba. Itulah sebabnya Ki Ageng Ireng kemudian menamai genangan air tsunami itu dengan istilah Situ Rawa Arum. (Ay/Sal)