Pemberontakan Hadji Wakhia 1850, Perlawanan Sebelum Peristiwa Geger Cilegon

Saat saya membaca kembali tentang Geger Cilegon, sebuah peristiwa besar dalam lanskap sejarah Indonesia, saya pun bertanya-tanya: apakah semangat pemberontakan rakyat Banten hanya terbatas pada peristiwa tahun 1888 itu? Ternyata tidak. Sejarah perlawanan rakyat Banten terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-19 dipenuhi oleh serangkaian pemberontakan yang terjadi jauh sebelum puncaknya di Cilegon.

Pemberontakan Cilegon 1888 memang dikenal luas, tetapi sebelum itu telah terjadi berbagai gerakan perlawanan yang signifikan. Di antaranya adalah pemberontakan Wakhia pada tahun 1850, peristiwa Usup tahun 1851, perlawanan Mas Pungut tahun 1862, komplotan Kolelet tahun 1867, dan peristiwa Ciruas pada 1869. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa benih perlawanan sudah tumbuh subur jauh sebelum meletusnya pemberontakan besar di Cilegon.

Di antara perlawanan-perlawanan tersebut, pemberontakan tahun 1850 menempati posisi penting sebagai tonggak awal yang mengguncang struktur kekuasaan kolonial di Banten. Tokoh utama dalam gerakan ini adalah Haji Wakhia, seorang saudagar kaya dari Gudang Batu yang memiliki pengaruh luas di kalangan masyarakat. Sejarawan Sartono Kartodirdjo bahkan menyebutnya sebagai ā€œPemberontakan Wakhia yang Terkenal.ā€

Sebelum pemberontakan terjadi, Haji Wakhia telah menjadi buronan karena sikapnya yang menentang keras kebijakan kolonial. Untuk menghindari penangkapan, ia sempat melarikan diri ke Lampung, lalu menunaikan ibadah haji ke Mekah. Pada tahun 1847, ia kembali ke kampung halamannya dengan status sebagai seorang haji—sebuah gelar yang makin memperkuat kharismanya di mata rakyat saat itu.

Sekembalinya dari Tanah Suci, Haji Wakhia tetap menunjukkan perlawanan terbuka terhadap pajak yang diberlakukan pemerintah kolonial. Ketika dipanggil untuk menghadap residen karena menolak membayar pajak, ia mengabaikannya tanpa gentar. Pihak kolonial, menyadari tingginya pengaruh Wakhia dan potensi kerusuhan yang bisa timbul, memilih untuk tidak mengambil tindakan paksa. Bagaimanapun, ia bukanlah sosok yang bisa dianggap remeh oleh kekuasaan kolonial.

Sikap keras kepala Haji Wakhia serta permusuhan penduduk Gudang Batu terhadap pemerintah telah memunculkan atmosfer pemberontakan. Sebelumnya, penduduk desa ini pernah membunuh seluruh staf administrasi distrik yang berjumlah lima belas orang. Tidak adanya penuntutan terhadap para pelaku membuat masyarakat setempat semakin percaya diri dan bersedia mengikuti pemimpin-pemimpin pemberontakan.Apatah lagi, Gudang Batu bahkan dikenal sejak zaman Kesultanan sebagai daerah yang gemar melawan kekuasaan pusat.

Dalam penelitian Sartono Kartodirjo, tokoh lain yang memainkan peran penting dalam pemberontakan ini adalah Raden Bagus Jayakarta, patih Serang, yang pada 24 Februari 1850 mencetuskan perlawanan bersenjata dengan membunuh Demang Cilegon dan seluruh stafnya. Ia didukung sejumlah pemuda seperti Tubagus Iskak, Mas Derik, Haji Wakhia, dan Penghulu Dempol. Seruan Haji Wakhia dan Penghulu Dempol untuk melancarkan Perang Sabil disambut penuh semangat oleh masyarakat Gudang Batu, yang berjanji ikut serta dalam pemberontakan terhadap pemerintahan colonial saat itu.

Persiapan dilakukan secara intensif. Mas Diad, Tubagus Iskak, Mas Derik, dan Nasid memimpin pasukan dari Pulau Merak, sebagian besar terdiri dari orang-orang Lampung. Sementara, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol memimpin pasukan dari Gudang Batu dan sekitarnya, sementara R.B. Jayakarta dan keluarganya tetap berada di belakang layar, menyulitkan aparat pemerintah mengungkap dalang utama kerusuhan selama beberapa minggu pertama. Medan yang bergunung-gunung dan tertutup hutan di wilayah antara Serang dan Anyer turut menyulitkan upaya pengejaran. Gerombolan pemberontak yang lebih banyak dan tersebar membuat pasukan kolonial kesulitan menumpas mereka.

Dari sisi persenjataan, pemerintah kolonial menggunakan senapan achterladar yang lebih canggih dibandingkan senjata tradisional pemberontak. Keunggulan teknologi ini turut menentukan hasil akhir pertempuran.

Faktor pendorong pemberontakan ini sangat kompleks. Tidak hanya karena ketidakpuasan terhadap kebijakan pajak atau ketidakadilan sosial, tetapi juga dipicu oleh ambisi pribadi pejabat pamongpraja yang frustrasi karena gagal dalam kenaikan pangkat. Kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki dendam pribadi dan keberanian untuk melawan turut menyulut api pemberontakan. Kaum petani, meskipun hanya berperan sebagai pembantu, juga turut digerakkan melalui tekanan maupun keyakinan agama. Ideologi dan mitos sosial digunakan untuk menyatukan dan menggerakkan massa, meski lemahnya struktur organisasi membuat pergerakan ini akhirnya mudah dipatahkan.

Untuk memperkuat loyalitas pasukan dan memperoleh dukungan materi, para pemberontak menciptakan mitos-mitos sosial yang unik. \Karena Patih yang ditugaskan tidak memiliki kharisma dan daya tarik, maka pemberontak menciptakan strategi alternatif: menyebarkan mitos tentang seorang tokoh bernama Kajif yang diperkenalkan sebagai penjelmaan kembali dari Tubagus Urip—seorang pemimpin pemberontak yang tewas sebelumnya. Tubagus Urip digambarkan memiliki kesaktian luar biasa: tidak basah oleh hujan, tidak perlu makan, tidur, atau beristirahat, serta mampu mendatangkan angin ribut dan gempa bumi.

Kepercayaan rakyat terhadap imortalitasnya dimanfaatkan untuk menyebarkan kabar bahwa ia telah bangkit kembali dan akan menjadi raja bagi umat yang percaya. Dikisahkan pula bahwa kekuasaan yang ada akan digulingkan, dan siapa pun yang setia pada ā€œkerajaan baruā€ akan mendapat gelar dan hadiah, sementara mereka yang tetap patuh pada kekuasaan asing akan dimusnahkan.

Untuk menguatkan keyakinan ini, pemberontak juga menyebarkan berita bahwa seorang tokoh lain, Haji Jamud, turut bangkit kembali dan akan memimpin pasukan dari Lampung. Dengan kepercayaan yang telah tertanam kuat, para kepala desa bahkan bersedia menerima jimat dari seorang kiyai bernama San sebagai simbol perlindungan dan kesetiaan terhadap gerakan tersebut.

Selama pemberontakan berlangsung, kepemimpinan berada di tangan tokoh-tokoh yang populer dan berpengaruh. Faktor ini menjadi kunci dalam pembentukan serta pengorganisasian pasukan pemberontak. Mas Diad, Tubagus Iskak, Mas Derik, dan Nasid memimpin kelompok bersenjata di Pulau Merak, yang sebagian besar terdiri dari warga Lampung. Sementara itu, Haji Wakhia dan Panghulu Dempol memimpin penduduk Gudang Batu dan wilayah sekitarnya.

Situasi semakin genting ketika setelah tiga minggu tidak satu pun pemimpin pemberontak berhasil ditangkap. Berbeda dari peristiwa Cikandi sebelumnya, kelompok pemberontak kali ini lebih bergerak secara tersebar dan dinamis. Pasukan Mas Derik dan Nasid berada di pegunungan sebelah timur Pulo Merak, sementara kelompok Mas Diad dan Tubagus Iskak beroperasi di distrik Banten. Adapun Haji Wakhia dan Panghulu Dempol aktif di wilayah barat bukit Simari Kangen. Medan yang berat—berupa perbukitan dan hutan lebat dalam segitiga wilayah Serang dan Anyer—juga menyulitkan pengejaran.

Selama hampir tiga bulan, pasukan pemberontak bergerak lincah, menyerang desa-desa serta kota-kota kecil seperti Tanjak dan Anyer. Namun, kekalahan dalam pertempuran di Tegalpapak pada 3 Mei 1850 menjadi titik balik. Banyak pemimpin berhasil ditangkap, meskipun Haji Wakhia dan Tubagus Iskak melarikan diri ke Lampung dan bergabung dalam perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Singabranta dan Raden Intan. Perlawanan mereka akhirnya mereda setelah Haji Wakhia ditangkap oleh pasukan Hindia Belanda dan dihukum mati pada tahun 1856.

Pemerintah kolonial menghadapi tantangan besar dalam membendung gerakan ini. Dukungan penduduk lokal terhadap pemberontak sangat signifikan. Beberapa desa seperti Parakan, Kedung Kemiri, Rohjambu, Cigading, dan Ciwindu memberi bantuan secara sukarela. Sementara itu, desa seperti Tanjak memberi dukungan di bawah tekanan. Pemerintah menggunakan kekuatan militer dan intimidasi, termasuk pembakaran desa-desa, untuk memisahkan masyarakat dari pemberontak.

Paska pemberontakan Haji Wakhia tahun 1850, dalam catatan Sartono, adanya penangkapan sejumlah tokoh penting. R.B. Jayakarta dan R.B. Suramarja ditangkap pada 15 April 1850. Jayakarta diasingkan ke Menado, sementara Suramarja, Mustafa, Lurah Nasid, Diad, Derik, dan delapan orang lainnya dibuang ke Ternate. Sebanyak 12 orang dikirim ke Ambon dan 130 orang ke Banda. Dari jumlah ini, 30 orang diasingkan selama 10 tahun, 56 orang selama 8 tahun, dan 44 orang selama 5 tahun. Di antara mereka banyak yang merupakan kepala desa.

Sementara, istri dan anak-anak Haji Wakhia menyebar. Dua putranya, Madinah dan Afar, menetap di Lampung, sementara istrinya kembali ke Banten bersama dua putrinya, Nyi Aminah dan Nyi Rainah, serta seorang anak laki-laki bernama Mesir. Setelah bebas dari tahanan di Serang, mereka menetap di desa asal Haji Wakhia yang kemudian dikenal sebagai Arjawinangun. Di sana, keluarga ini sangat dihormati oleh masyarakat.

Arjawinangun menjadi tempat bersejarah dalam narasi perlawanan di Banten. Dalam pemberontakan Cilegon tahun 1888, banyak keturunan Haji Wakhia yang ikut serta, termasuk kedua putrinya, Nyi Aminah dan Nyi Rainah; putranya, Mesir; menantunya, Sakib; serta cucunya, Abdurrakhman, anak dari Nyi Rainah. Mereka melanjutkan semangat perjuangan yang diwariskan oleh Haji Wakhia.

Ā 

Berikan Komentarmu!