Asal-usul Kepuh Denok Di Kota Cilegon

Sjarah bagi masyarakat Cilegon, saat mendengar istilah kepuh, mereka tidak hanya merujuk pada nama pohon, tetapi juga mengingat Kelurahan Kepuh yang terletak di Kecamatan Ciwandan.

Ada pula sebuah lokasi yang dikenal sebagai Kepuh Denok, yang sekarang lebih umum disebut Kapu Denok, yaitu suatu lingkungan yang berada di Kelurahan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil.

Nama kampung Kepuh Denok diambil dari nama pohon Kepuh. Sementara itu, kata Denok dapat diartikan sebagai indah atau cantik. Menurut cerita yang beredar, nama Kepuh Denok diberikan karena pohon kepuh tersebut memiliki bentuk yang tinggi, besar, dan rimbun, sehingga tampak menawan. Keunikan dari pohon Kepuh itu adalah kemampuannya untuk terlihat jelas dari laut tengah Selat Sunda karena tingginya.

Kampung Kepuh Denok memainkan peranan dalam sejarah peristiwa Geger Cilegon 1888. Nama daerah ini mulai dikenal ketika penduduk setempat mengalami penderitaan akibat dari penjajahan Kolonial Belanda, ditambah dengan bencana kekeringan, kelaparan, dan kemiskinan yang melanda.

Dalam menghadapi kesulitan tersebut, banyak warga beralih kepada praktik klenik atau tahayul. Mereka lebih cenderung mempercayai dukun serta objek yang dianggap sakral. Contohnya adalah Pohon Kepuh yang berada di desa Lebak Kelapa saat itu.

Sebagian warga percaya bahwa pohon itu bisa menghilangkan bencana, mendatangkan kekayaan, dan memberi jodoh atau apapun yang mereka inginkan, asalkan mereka menghadirkan sesaji untuk jin yang menjaga pohon tersebut.

Menyaksikan kondisi yang terjadi, salah satu tokoh pejuang rakyat pada peristiwa Geger Cilegon 1888 KH Wasyid memberi peringatan kepada warga bahwa tindakan tersebut termasuk ke dalam kategori syirik.

Namun, bagi mayoritas penduduk yang tidak memahami agama, peringatan itu diabaikan. Akhirnya, beberapa murid KH Wasyid mengambil tindakan dengan menebang pohon yang dianggap berhala tersebut pada malam hari di tahun 1887. (Kin/Sal)Ā 

Berikan Komentarmu!