Jika mendengar nama Cilegon, mungkin yang terlintas di benak banyak orang adalah julukan “Kota Baja” dengan deretan industri beratnya. Namun, di balik hiruk-pikuk mesin dan cerobong pabrik, Cilegon menyimpan denyut spiritualitas yang masih berdetak kuat hingga hari ini. Salah satu warisan leluhur yang masih lestari dan dijaga erat oleh masyarakatnya adalah tradisi Maca Syekh.
Bagi masyarakat Cilegon dan Banten pada umumnya, Maca Syekh bukan sekadar ritual, melainkan sebuah identitas kultural yang memadukan keimanan dan kebersamaan. Lantas, apa sebenarnya tradisi ini dan mengapa ia begitu penting?
Penghormatan kepada Sang Sultan Auliya
Secara harfiah, tradisi ini merujuk pada kegiatan membaca riwayat hidup (manaqib) dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, seorang ulama sufi legendaris yang dikenal sebagai Sulthanul Auliya (Rajanya para Wali).
Di Cilegon, praktik ini sudah mengakar sangat dalam. Inti dari kegiatannya adalah pembacaan kitab atau risalah yang berisi kisah perjalanan hidup, karomah, serta ajaran-ajaran luhur sang Syekh. Kitab Manaqib yang paling umum dibacakan biasanya adalah karya Syekh Ja’far Barzanji, yang dilantunkan dengan irama khas yang menyentuh hati.
Ngalap Berkah hingga Tolak Bala
Mengapa tradisi ini terus bertahan di tengah gempuran zaman modern? Jawabannya ada pada keyakinan masyarakat akan keberkahan.
Tujuan utama dari Maca Syekh adalah untuk ngalap berkah (tabarruk) dan memohon syafaat. Masyarakat percaya bahwa dengan mengenang dan mendoakan orang-orang saleh seperti Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, doa-doa mereka akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Mulai dari permohonan agar rezeki dilancarkan, diberikan kesehatan, hingga sebagai upaya spiritual untuk perlindungan diri dan keluarga dari segala marabahaya (tolak bala). Tak heran jika suasana khusyuk selalu menyelimuti setiap pelaksanaannya.
Momen Spesial: Dari Jumat Kliwon hingga Panen Raya
Tradisi Maca Syekh tidak dilakukan sembarangan. Ada waktu-waktu sakral yang biasanya dipilih oleh warga. Malam Jumat Kliwon sering menjadi waktu favorit untuk menggelar ritual ini secara rutin.
Selain itu, Maca Syekh juga hadir dalam momen-momen penting siklus kehidupan manusia, seperti:
- Hajatan Pernikahan & Khitanan: Sebagai bekal doa restu.
- Syukuran Rumah Baru: Agar hunian membawa damai.
- Panen Raya: Wujud syukur petani atas hasil bumi.
- Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).
Pelaksanaannya pun sangat fleksibel namun tetap komunal. Bisa digelar di serambi masjid, musala, madrasah, atau di ruang tamu warga yang sedang memiliki hajat.
Perekat Sosial dan Harmoni Budaya
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Maca Syekh memiliki fungsi sosial yang sangat vital: sebagai perekat persaudaraan.
Dalam tradisi ini, terlihat jelas kentalnya nuansa sinkretisme budaya Banten yang harmonis. Nilai-nilai Islam berpadu indah dengan kearifan lokal seperti tradisi selamatan atau ngariung (kumpul bersama). Warga duduk melingkar, berdoa bersama, lalu diakhiri dengan menyantap hidangan khas yang disajikan dalam nampan besar.
Di sinilah sekat-sekat sosial runtuh. Tetangga saling bertegur sapa, berbagi makanan, dan mendoakan satu sama lain. Maca Syekh membuktikan bahwa di Cilegon, kemajuan industri tidak serta merta menggerus kehangatan tradisi gotong royong dan spiritualitas warganya.
Sebuah warisan tak ternilai yang mengajarkan kita bahwa keberkahan tidak hanya turun dari langit, tapi juga tumbuh dari kerukunan antar sesama. (Ay/Sal)