Perayaan Menstruasi Pertama Perempuan pada Masyarakat Cilegon: Menghargai Tubuh dan Tradisi

Menstrusi merupakan proses alami keluarnya darah dan jaringan dari lapisan dinding rahim sebagai siklus bulanan seorang perempuan. Secara biologis, hal ini termasuk dalam proses siklus kehidupan perempuan, yakni masa pubertas yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik dan biologis lainnya.

Dalam prosesnya, menstruasi pertama pada perempuan ini juga dapat dikatakan sebagai tanda bahwa seorang anak telah memasuki masa dewasa atau pubertas.

Pada beberapa daerah di Indonesia, menstruasi pertama pada seorang anak perempuan akan dikenang dalam sebuah tradisi sebagai wujud perhatian, perayaan, pemahaman, serta pengetahuan lokal akan menstruasi itu sendiri.

Seperti halnya dengan masyarakat di Cilegon, masyarakat yang sampai saat ini masih kental melaksanakan tradisi-tradisi atau perayaan-perayaan siklus kehidupan, termasuk siklus menstruasi pertama pada seorang anak perempuan.

Bentuk perayaan menstruasi pertama pada anak perempuan di masyarakat Cilegon ini adalah berupa bagi-bagi nasi berkat. Penyajian nasi berkat ini berisi nasi uduk yang berwarna kuning sebagai komponen utama dan penganan pelengkap lainnya.

Berikut beberapa makanan dan penganan yang lazim disajikan dalam tradisi bagi-bagi nasi berkat pada perayaan menstruasi pertama di masyarakat Cilegon:

1. Nasi Uduk dan Punar

Nasi uduk dan punar mempunyai makna yang penting dalam tradisi ini, meskipun tidak langsung terikat secara khusus dengan tradisi masyarakat Cilegon atau Banten pada umumnya.

Dalam konteks perayaan menstruasi pertama ini, nasi uduk dan punar disimbolkan sebagai wujud kesuburan, kemakmuran dan kebahagiaan. Nasi uduk dalam perayaan ini disajikan dalam wujud berwarna kuning dari hasil campuran kunyit dan rempah-rempah umumnya dalam pembuatan nasi uduk.

Begitupun dengan punar yang merupakan penganan berbahan dasar beras ketan ini pun diolah dari campuran kunyit, santan dan rempah-rempah lainnya.

2. Kelepon

Kelepon ini merupakan penganan yang mudah dijumpai di daerah-daerah lain, umumnya dalam berbagai perayaan pada masyarakat Jawa.

Penganan ini merupakan hasil olahan tepung ketan yang diisi dengan gula merah, kemudian dibentuk bulat dan direbus dalam air mendidih. Setelah matang, kelepon biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut.

Ketika menyantap penganan ini, gigitan pertama akan menimbulkan tekstur kenyal dan pecahnya gula merah akan menghasilkan manis yang menyeruak di mulut, sedikit gurih akan dirasakan dari parutan kelapa, yang tentunya menambah sensasi menyenangkan dalam menyantap penganan yang satu ini.

Rasa manis dari kelepon menyimbolkan kebahagiaan dan kesenangan. Sementara segala bahan dan proses pengolahan penganan ini menyiratkan akan kesuburan dan kemakmuran.

Sehingga masyarakat yang masih melaksanakan tradisi ini meyakini, bahwa membuat dan menyertakan kelepon dapat membawa keberkahan bagi perempuan yang mengalami menstruasi pertama.

Selain beberapa makanan yang telah disebutkan di atas, beberapa penganan yang lainnya juga dibuat sebagai pelengkap dalam tradisi bagi-bagi nasi berkat ini. Beberapa penganan tersebut diantaranya adalah surabi, intil (penganan berbahan dasar tepung beras, kelapa parut dan serutan gula merah), cucur, dan beberapa lauk sebagai pelengkap dalam nasi berkat ini.

Tentunya, makanan dan penganan tersebut tidak harus dihadirkan semuanya. Tradisi tidak memaksa bagi siapapun yang akan melaksanakannya.

Seperti dalam konteks perayaan menstruasi pertama perempuan pada masyarakat di Cilegon ini, tradisi seperti ini biasanya lebih bersifat positif dan sukarela, sebagai wujud rasa syukur dan doa.

Dari penjabaran bagaimana menstruasi pertama seorang perempuan dirayakan dengan sukarela dan suka ria, maka dapat disimpulkan beberapa tujuan dilakukannya tradisi ini, diantaranya:

Dukungan Orang Tua Bagi Kedewasaan Anak

Menstruasi pertama menandakan bahwa seorang anak perempuan telah memasuki masa dewasa. Dalam konteks perayaan ini, orang tua mempunyai peranan penting dalam memberikan rasa aman dan percaya diri pada anak perempuan yang telah memasuki fase baru.

Dengan perayaan ini, tentunya orang tua ingin menunjukkan penerimaan dan apresiasi atas kedewasaan anak. Selain itu, hal ini juga dapat memberikan kesempatan pada anak untuk merasa dihargai dan disayangi.

Dalam prosesnya, secara perlahan orang tua juga memberikan pemahaman-pemahaman lokal mengenai menstruasi pertama. Sehingga diharapkan pada fase ini, para anak perempuan bisa menghadapinya dengan tenang.

Dukungan dan pengetahuan akan menstruasi pertama juga dapat mengurangi risiko body shame dan anxiety, sehingga para anak dapat menjalani momen penting ini dengan lebih percaya diri dan santai.

Mendoakan Keselamatan dan Kebahagiaan

Dengan membagi-bagikan nasi berkat yang berisi makanan dan segala penganan yang sudah disiapkan, tentunya hal ini merupakan proses dimana orang tua memberikan dukungan spiritual dan doa bagi anak perempuan yang memasuki fase baru.

Orang tua, keluarga dan masyarakat pada umumnya akan mendoakan keselamatan dan kebahagiaan bagi anak perempuan yang mengalami menstruasi pertama.

Mempererat Tali Silaturahmi antar Keluarga dan Masyarakat

Selain sebagai ungkapan rasa syukur dan doa, membagi-bagikan nasi berkat dalam tradisi ini mempunyai makna yang lebih sakral dalam kehidupan berbudaya, yakni menjadi momen penting untuk mempererat hubungan keluarga dan masyarakat.

Berbagi kebahagiaan pada momen ini menunjukkan solidaritas kuat, serta melanjutkan tradisi dan budaya keluarga dalam sebuah komunitas.

Ternyata, serangkaian tradisi dalam proses memasuki fase dewasa pada seorang anak perempuan dapat dimaknai dengan begitu dalam.

Dari proses ini dapat dipelajari, bahwa dukungan dan pengetahuan dari orang tua dan orang-orang terdekat menjadi modal utama seorang anak perempuan dapat melalui fase ini dengan baik.

Yang akhirnya, menstruasi pertama akan menjadi momen penting dalam fase kehidupan seorang anak perempuan. Sebagai momen yang dapat dijadikan kesempatan untuk memberikan dukungan. Sehingga si anak perempuan yang telah menjadi dewasa ini merasa bangga dengan tubuhnya, dan mengerti bahwa perubahan itu merupakan sebuah proses yang natural.

Berikan Komentarmu!