GALIJATI.ID, CILEGON – Upaya pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan berpadu dalam kegiatan Tirta Nawasanga: “Sumur Pitu, Air dan Warisan Kehidupan” yang digelar di kawasan bersejarah Sumur Pitu, Lingkungan Cidunak, Kota Cilegon.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat, budayawan, seniman, dan generasi muda untuk merawat sekaligus merayakan warisan budaya yang hidup di sekitar sumber mata air Sumur Pitu.
Mengusung tema “Air dan Warisan Kehidupan”, Tirta Nawasanga tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjadi media refleksi kolektif mengenai pentingnya sumber mata air sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai penghormatan terhadap alam yang diwariskan para leluhur kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada generasi masa kini.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi adat dan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas keberadaan Sumur Pitu yang hingga kini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Cidunak.
Tradisi penghormatan terhadap sumber mata air tersebut merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun sebagai upaya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.
Suasana semakin semarak dengan berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari tari tradisional, pencak silat, atraksi Jaran Bilik, hingga musik tradisi yang merepresentasikan kekayaan budaya Banten.
Penampilan para seniman dan komunitas budaya menjadi bukti bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Selain pertunjukan seni, kegiatan ini juga menghadirkan sarasehan budaya yang membahas keterkaitan antara air, lingkungan, sejarah, dan kebudayaan.
Para narasumber menekankan bahwa keberlangsungan sumber mata air tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat melalui pendidikan lingkungan dan penguatan nilai-nilai budaya lokal.
Ketua penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa Tirta Nawasanga diharapkan dapat menjadi agenda budaya tahunan yang mampu memperkuat kesadaran ekologis berbasis kearifan lokal.
“Tirta Nawasanga bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga sumber kehidupan dan merawat warisan leluhur agar terus mengalir bagi generasi yang akan datang. Sumur Pitu mengajarkan bahwa air bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, Sumur Pitu tidak hanya memiliki fungsi sebagai sumber air, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, spiritual, dan kebudayaan yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Cidunak dari masa ke masa. Karena itu, pelestarian kawasan ini harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Melalui penyelenggaraan Tirta Nawasanga, Sumur Pitu kembali diteguhkan sebagai simbol kehidupan yang menghubungkan manusia, alam, dan kebudayaan.
Di tengah berbagai tantangan perubahan zaman, upaya menjaga mata air sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat menjadi langkah penting agar warisan budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian mata air bukan hanya soal mempertahankan sumber daya alam, melainkan juga menjaga jejak sejarah, nilai-nilai kearifan lokal, serta identitas budaya yang telah tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat selama berabad-abad. (Red)