GALJATI.ID, CILEGON – Kegiatan Tirta Nawasanga: Sumur Pitu, Air dan Warisan Kehidupan yang digelar di kawasan Sumur Pitu, Lingkungan Cidunak, Kota Cilegon, tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum untuk menyuarakan pentingnya perlindungan sumber mata air dan situs budaya yang dinilai masih minim perhatian.
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga, budayawan, seniman, tokoh masyarakat, dan generasi muda. Berbagai rangkaian acara diselenggarakan, mulai dari pertunjukan seni tradisional, pencak silat, musik tradisi, hingga sarasehan budaya yang membahas keterkaitan antara lingkungan, sejarah, dan kebudayaan.
Dalam forum sarasehan, sejumlah peserta menyoroti kondisi Sumur Pitu yang hingga kini masih bertahan berkat kepedulian masyarakat sekitar. Padahal, kawasan tersebut tidak hanya memiliki fungsi ekologis sebagai sumber air, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
Salah seorang budayawan yang hadir dalam kegiatan itu mengatakan bahwa keberadaan mata air dan situs budaya perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius melalui program pelestarian yang berkelanjutan.
“Ketika mata air mengering, kita baru berbicara tentang krisis lingkungan. Ketika situs budaya rusak, kita baru berbicara tentang pelestarian. Padahal tanda-tanda ancaman itu sudah terlihat sejak lama. Karena itu diperlukan langkah nyata sebelum semuanya terlambat,” ujarnya.
Menurutnya, pelestarian sumber mata air tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga warisan budaya. Keduanya merupakan aset penting yang akan menentukan kualitas kehidupan masyarakat di masa mendatang.
Ketua penyelenggara Tirta Nawasanga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap warisan leluhur yang selama ini masih dijaga secara gotong royong.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya hadir pada kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan dukungan nyata melalui kebijakan perlindungan kawasan mata air, pendataan situs budaya, serta program pemberdayaan masyarakat yang selama ini menjaga warisan tersebut,” katanya.
Masyarakat menilai bahwa pembangunan daerah perlu berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan dan kebudayaan. Keberadaan sumber mata air seperti Sumur Pitu dianggap memiliki peran strategis sebagai penopang kehidupan sekaligus bagian dari memori kolektif masyarakat Cidunak.
Melalui kegiatan Tirta Nawasanga, warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan kawasan Sumur Pitu, baik melalui perlindungan hukum, program konservasi lingkungan, maupun pengembangan kawasan sebagai ruang edukasi budaya dan sejarah.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menjaga sumber kehidupan, melestarikan warisan budaya, dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang. (Red)