Pohon Beringin: Dari Mitos Penjaga Angker Menjadi Pahlawan Ekologi yang Terpinggirkan

Di banyak daerah, tak terkecuali di Cilegon dan sekitarnya, nasib Pohon Beringin (Ficus benghalensis) hidup dalam sebuah paradoks yang menyedihkan. Secara visual, ia adalah raksasa yang memukau: berakar kuat, berdaun rimbun, dan mampu meneduhkan area yang luas. Secara ilmiah, ia adalah aset mitigasi bencana yang tak ternilai harganya.

Namun, di mata masyarakat awam, Beringin sering kali tumbang sebelum ditanam. Ia dikepung oleh mitos yang terlanjur mengakar kuat: dianggap sebagai singgasana kuntilanak, genderuwo, atau pusat energi negatif lainnya.

Fenomena ini menciptakan dilema nyata di lapangan. Niat hati seorang warga menanam Beringin demi stabilitas tanah dan cadangan air, justru sering menuai larangan keras dari tetangga. Tak jarang, pohon yang baru tumbuh dipaksa cabut karena ketakutan irasional akan hal-hal mistis. Logika ekologis seolah kalah telak oleh tekanan sosial berbasis mitos.

Pertanyaannya, mengapa Pohon Beringin yang seharusnya menjadi simbol ketahanan lingkungan kini justru menjadi ā€œmusuhā€ di pekarangan sendiri?

Tiga Fase Perjalanan Mitos: Dari Penjaga Menjadi Penghalang

Ketakutan terhadap Beringin bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ini adalah hasil evolusi sejarah hubungan manusia dengan alam yang mengalami distorsi:

  1. Mitos sebagai Benteng Konservasi (Masa Lalu) Nenek moyang kita sebenarnya sangat jenius. Mereka sadar betul bahwa pohon besar—terutama Beringin—adalah penyerap air terbaik, penahan erosi, dan penstabil iklim mikro. Agar pohon vital ini tidak ditebang sembarangan demi kebutuhan kayu sesaat, diciptakanlah narasi ā€œpamaliā€ atau adanya ā€œpenungguā€ sakral. Tujuannya murni: konservasi lingkungan berbasis kearifan lokal.
  2. Ritualisasi yang Menyimpang Seiring waktu, pesan konservasi itu kabur. Penghormatan terhadap fungsi alam bergeser menjadi pemujaan berlebihan (kultus). Ketika ajaran Tauhid Islam semakin kuat, praktik ritualistik di bawah pohon yang mengarah pada kemusyrikan tentu ditentang keras. Sayangnya, ā€œair mandinya dibuang, bayinya ikut terbuangā€. Pohonnya yang ditebang, bukan hanya ritualnya yang diluruskan. Kita kehilangan aset ekologis karena trauma teologis.
  3. Mitos sebagai Penghalang Pembangunan (Masa Kini) Kini kita terjebak di fase ketiga yang paling merugikan. Mitos yang dulunya diciptakan untuk mencegah penebangan, kini justru berbalik menjadi senjata untuk mencegah penanaman. Di tengah ancaman krisis iklim dan kekeringan, kita justru memusuhi salah satu teknologi alami terbaik untuk mengikat air tanah.

Belajar dari ā€œOrang Gilaā€ di Wonogiri

Jika teori ekologi terdengar terlalu rumit, mari kita lihat bukti nyata dari Mbah Sadiman di Wonogiri, Jawa Tengah.

Selama puluhan tahun, Mbah Sadiman dianggap gila oleh tetangganya karena menanam ribuan bibit Beringin di lahan kritis Gunung Lawu menggunakan uang pribadinya. Ia dicemooh karena ā€œmemelihara sarang hantuā€.

Namun, waktu menjawab segalanya. Upaya sunyi Mbah Sadiman berhasil menyulap bukit tandus menjadi hutan rimbun. Akar-akar Beringin yang ia tanam berhasil ā€œmemanenā€ air hujan dan mengisi kembali akuifer tanah. Kini, saat daerah lain kekeringan, desa di sekitar hutan Mbah Sadiman menikmati air bersih yang melimpah ruah untuk minum dan irigasi.

Pohon yang dianggap angker itu, terbukti menjadi mata air kehidupan.

Strategi ā€œRuwatanā€ Persepsi: Memulihkan Citra Beringin

Untuk mengembalikan Beringin ke posisi terhormatnya sebagai agen mitigasi bencana, kita tidak bisa melawan mitos dengan amarah. Kita perlu strategi komunikasi yang merangkul:

  • Re-Framing Narasi: Ubah sebutannya. Jangan perkenalkan Beringin sebagai tempat makhluk halus, tapi branding-lah sebagai ā€œPohon Infrastruktur Airā€. Sampaikan pesan bahwa menanam Beringin adalah meniru kebijaksanaan leluhur untuk mencegah longsor, bukan memuja setan.
  • Dakwah Ekologis: Tokoh agama dan ulama memegang kunci vital. Perlu disampaikan dalam mimbar-mimbar bahwa menjaga bumi (khalifah fil-ardh) adalah kewajiban. Menanam pohon yang bisa memberi minum banyak orang (melalui mata airnya) adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, selama pohon itu berdiri.
  • Solusi Jalan Tengah: Jika resistensi menanam Beringin di halaman rumah terlalu kuat karena faktor psikologis, tawarkan pohon peneduh alternatif untuk area privat. Namun, tegaskan bahwa untuk area konservasi publik, tebing sungai, dan lahan kritis, Beringin adalah rajanya dan harus dilindungi.

Beringin: Simbol Persatuan, Bukan Perpecahan

Sebagai penutup, kita sebenarnya tidak perlu mencari dalil jauh-jauh untuk melegitimasi keberadaan Pohon Beringin. Lihatlah lambang negara kita.

Pohon Beringin bertahta dengan gagah di perisai Garuda Pancasila, mewakili Sila Ketiga: Persatuan Indonesia.

Para pendiri bangsa memilih pohon ini bukan tanpa alasan. Akar tunggangnya yang menghunjam ke bumi melambangkan kesatuan, sementara akar gantung dan rantingnya yang menjalar ke segala arah melambangkan keberagaman suku, budaya, dan agama yang bernaung di bawah satu nama: Indonesia.

Jika Pohon Beringin secara resmi diakui negara sebagai simbol pemersatu yang menaungi seluruh rakyat, masihkah pantas kita menganggapnya sebagai simbol keburukan atau sarang hantu semata?

Sudah saatnya kita memisahkan manfaat ekologisnya yang luar biasa dari beban mitos masa lalu. Menanam Beringin bukan berarti mengundang hantu, melainkan wujud nyata cinta tanah air—menjaga kelestarian lingkungan Indonesia sekaligus merawat simbol persatuan kita.

Mari kita jadikan Beringin kembali sebagai pahlawan hijau, bukan lagi tertuduh yang terpinggirkan.

Berikan Komentarmu!