Ngaji Pasaran

Sepekan sudah bulan Ramadhan 1446 Hijriyah berputar. Libur sekolah awal Ramadhan, –pemerintah menyebutnya “pembelajaran di rumah”, telah usai. Kami kembali ke madrasah untuk melakukan pembelajaran. Tentu tidak sama antara pembelajaran di bulan-bulan yang lain dengan pembelajaran di bulan Ramadhan. Ramadhan bulan istimewa dalam pandangan kurikulum Indonesia sehingga pembelajarannya dan waktunya pun dibedakan dengan bulan yang lain. Pembelajarannya didesain sedemikian dekat dengan nuansa agama, waktu lebih cepat dari normalnya.

Seperti dua tahun sebelumnya, pembelajaran di madrasah kami didesain dengan ngaji pasaran. Klu dari pemerintahnya pembelajaran diisi dengan kegiatan keagamaan. Maka pilihan kami jatuh pada metode ngaji pasaran, “hitung-hitung” memunculkan kembali kitab-kitab karya ulama salaf dalam kurikulum madrasah yang sudah cukup lama menghilang, digantikan buku-buku paket.

Ngaji Pasaran, sebuah program membaca kita kuning yang di pimpin oleh seorang kiai. Kiai membaca, peserta yang terdiri dari siswa semua tingkatan dan guru, ngebandungi (menyimak dan menulis artinya) kata perkata, kalimat per kalimat. Ciri khas ngaji pasaran, kitab dibaca secara cepat, jarang dijelaskan kecuali hal-hal tertentu saja yang dianggap jarang ditemukan, dan kitab dibaca sampai tamat, satu bulan, misalnya.

Metode pembelajaran ini adalah tradisi pesantren yang marak berlangsung di semua pesantren di Indonesia. Di Lirboyo, tempat anak saya mondok, sudah sukup lama saya mendengar tradisi ini berlangsung setiap bulan Ramadhan; di Cilegon, ngaji pasaran ramai di wilayah Cibeber. Saya pernah ikut dua Ramadhan di Pondok Pesantren Al-Minhaj pimpinan KH. Mahyani, Lc; dan sekarang al-hamdulillah di Cilegon bagian Purwakarta pun sudah banyak tempat yang terdapat kegiatan pengajian pasaran ini. Sedikit tempat yang bisa saya ketahui: Pondok Pesantren As-Syarif, Musholah Celentrang, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Damar 26, Pondok Pesantren Banul Qomar, Pondok Pesantren Panggung Rawi. Dan mungkin banyak tempat lagi yang luput dari pengetahuan saya.

Lima tahun ke belakang mungkin Cibeber paling banyak tempat ngaji pasaran. Sekarang, seperti pernah terbersit dalam benak, ngaji pasaran semoga akan menjadi tradisi umum Kota Cilegon. Agaknya, ini hampir menjadi kenyataan. Apalagi di Grogol juga, di Pondok Pesantren Al-Munawaroh, sudah berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Hampir menyeluruh, bukan?

Tinggal bagaimana ngaji pasaran  menjadi program Islamic Center Cilegon atau Masjid Agung Cilegon. Saya mulai membayangkan, selain di madrasah, pesantren, masjid-masjid kampung dan komunitas, suara “utawi iki iku” juga keluar dari toa Masjid Agung Kota Cilegon, masjid kebanggan masyarakat Cilegon itu. Setiap malam sepanjang bulan  Ramadhan menggema ngaji kitab kuning menemani para pedagang di sekitarannya, menemani para pemudik yang santer menuju Sumatera. Kemudian jam nol-nol jamaah dengan tertib berpencar ke segala arah menuju rumahnya masing-masing, lalu membangunkan istri untuk persiapan makan sahur.

Kota yang santri bukan?

Sabtu, 08 Maret 2025

Berikan Komentarmu!