Tanaman padi masih hijau terbentang di daerah pesawahan Cilegon saat ini. Tapi, di perkampungan, āmeski terbilang jarang dibanding tahun-tahun yang lalu, mobil bak memuat berkarung-karung gabah kering. Ketika tanaman padi di sawah menunjukkan pertumbuhan yang baik, saatnya petani menjual hasil panen tahun kemarin yang mereka simpan ke lumbung, ternyata tidak habis untuk kebutuhan makan satu tahun.
Ya, di pesawahan Cilegon menanam padi hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun. Tidak ada irigasi, tidak ada bendungan, apalagi cadangan air semacam Tasikardi peninggalan Kesultanan Banten itu. Sawahnya tadah hujan. Musim tanam padi pun menunggu hujan tahunan. Itu pun setelah airnya benar-benar cukup untuk rendeng (mengolah tanah musim padi).
Menjadi pemandangan yang sangat umum petani berkejaran dengan hujan. Jika kalah lari dengan hujan musiman itu, bisa-bisa mereka menyewa āalkonā (mesin air) untuk menyedot air dari genangan air, misalanya ākulungā, ākedokanā, kubangan atau dataran yang lebih rendah. Kalau lagi sial bisa saja petani yang lahannya di dataran tinggi tidak bisa menanam padi tahunan.
Kondisi alam seperti ini melahirkan tradisi agraris tersendiri. Panen padi tahunan menjadi bekal sepanjang tahun sampai bertemu dengan musim tanam kembali. Ada istilah ālamun wis nane pari mah, karo uyah ge dadi baeā (kalau sudah ada padi, makan sama garam pun jadi).
Setelah menanam padi selesai, laki-laki biasanya bekerja serabutan: kuli bangunan, kuli mencangkul, ngojek, dan apa saja untuk menenuhi kebutuhan lauk dan kebutuhan lainnya. Di zaman yang lebih lampau, sekitar tahun 80-an ke sana, banyak laki-laki yang berangkat ke Lampung mencari barang dagangan. Mereka yang berangkat ke Lampung ini biasa disebut lampungan.
Perempuan menanam palawija di sawah setelah panen padi. Mereka menanam kacang tanah, kacang hijau, dan sebagainya. Berbeda dengan padi yang dimasukan ke gudang atau lumbung, hasil panen palawija mereka jual untuk biaya hidup. Dalam arti biaya hidup yang lebih luas: makan, biaya pendidikan, rekreasi bahkan untuk mereka belanjakan emas sebagai tabungan.
Hidup mereka sangat bersahaja. Hidup yang cukup, menjaga kecukupan itu sampai musim tanam kemudian. Bertolak belakang dengan prilaku kita sekarang yang suka sekali memenuhi semua kebutuhan hidup saat ini dengan berhutang dan āmenjual panenā di masa depan demi kenikmatan saat ini.
Sebaiknya kita kembali, mendengarkan nasihat tradisi leluhur: mengisi lumbung untuk menjaga kecukupan sepanjang tahun; hidup sederhana ātidak menukar panen dengan kemewahan, sementara kelaparan sepanjang tahun; terakhir, kita insaf diri bahwa alam semesta bagian tak terpisahkan dari hidup kita, sehingga kita harus menjaga akhlak kita kepadanya.
Cilegon, 24 Februari 2025