Di antara perbedaan yang muncul dalam pidato Heldy Agustian dan Robinsar pada acara serah terima jabatan dari Wali Kota lama kepada Wali Kota baru adalah masalah referensi atau lebih tepatnya quote yang menjadi dalil dalam narasi mereka. Heldy mengutip ahli manajemen dari Amerika Serikat, Peter Drucker, Robinsar mengutip tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Tokoh Cilegon Tubangus Aat Syafaat.
Tidak ada yang salah dari keduanya. Hanya saja, secara kedaerahan saya melihat keistimewaan pada sosok Robinsar yang sangat kental dengan warna lokalitas dan tidak sungkan membawanya di atas podium resmi pemerintahan.
Di mata kebudayaan, pewarisan budaya sangat penting. Pun dalam kepemimpinan. Memimpin sebuah daerah tidak bisa lepas dari kebudayaan daerah tersebut: cara berfikir, laku hidup, dan perasaan masyarakatnya. Maka seorang pemimpin yang mampu mendekati karakteristik masyarakat yang dia pimpin, cenderung nyambung, akrab dengan masyarakatnya. Kesemuanya bisa dilacak dalam bahasa yang digunakan dalam semua aspek kehidupan, baik itu penamaan, pribahasa, cerita rakyat dan sebagainya. Kesemuanya menjadi karakter daerah.
Seperti Dedi Mulyadi yang fenomenal dengan pendekatan lokalitas kesundaan dalam memimpin Jawa Barat, maka Robinsar pun punya potensi untuk membangun Kota Cilegon dengan pendekatan budaya. Penandanya: dia sering (tidak sungkan) menyisipkan bahasa wong Cilegon dalam pidato dan kesempatan-kesempatan resmi yang lain; sering mengungkapkan ajaran orang dulu (orang tua), dengan ungkapan jere wong bengen mah.
Sebagai penanda, “dalil-dalil” yang dikutip dalam pidato pertamanya di gedung DPRD Kota Cilegon, 5 Maret 2025, dia mengutip peribahasa yang sering disampaikan oleh Tokoh Cilegon, Tubagus Aat Syafaat: rawe rawe rantas, malang malang putung, endog sepetarangan pecah siji pecah kabeh. Slogan itu mengandung ajaran tekad yang bulat, pantang mundur, pantang menyerah untuk mencapai tujuan (kesejahteraan masyarakat Cilegon), apapun resikonya. Hancur sekalipun.
Tekad yang lain, dia tegaskan dengan mengutip Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani. Sebagai pemimpin dia ingin menjadi contoh bagi yang dipimpin, baik birokrasi maupun masyarakat keseluruhan. Imam Gazali menulis dalam “Bidayatul Hidayah” bahwa perbuatan baik atau buruk dari seseorang lebih mudah ditiru (dipatuhi) daripada kata-katanya. Artinya, teladan lebih kuat daripada “omon-omon” —atau kata-kata saja.
Sabtu, 8 Maret 2025