Sosok Pangeran Upapatih: Penjaga Stabilitas di Tengah Gejolak Kesultanan Banten Abad 16

Kesultanan Banten pernah berada dalam masa yang cukup rumit setelah wafatnya Sultan Maulana Muhammad, penguasa ketiga kerajaan tersebut. Usia kerajaan masih muda, namun pencapaiannya sudah mencolok. Sayangnya, masa kejayaan itu harus berhadapan dengan persoalan pelik: sang putra mahkota yang naik takhta ternyata masih terlalu muda untuk memimpin sendiri. Situasi ini mendorong para tokoh Kesultanan mengambil keputusan penting yang mengubah jalannya pemerintahan, yaitu mengangkat seorang wali raja sebagai pengganti sementara.

Ketika Maulana Muhammad gugur dalam ekspedisi militer ke Palembang, kekosongan kekuasaan menjadi masalah genting. Sang putra mahkota, Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, masih bayi. Maka, sistem perwalian pun diberlakukan: kekuasaan Sultan Ā dijalankan oleh seorang wali raja. Dalam sistem ini, wali raja bukan hanya sekadar simbol, tetapi benar-benar menjalankan fungsi pemerintahan secara penuh. Jabatan ini umumnya dipegang oleh seorang mangkubumi—semacam perdana menteri—dan dalam satu masa yang unik, bahkan sempat dipegang oleh ibu suri, meski hanya sementara.

Di tengah dinamika politik ini, muncul satu nama yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Banten: Pangeran Upapatih. Ia dikenal sebagai figur yang berpengaruh kuat dalam menjaga kelangsungan kekuasaan kerajaan, terutama saat masa pemerintahan Sultan muda, Abul Mafakhir. Peran strategisnya tak hanya dalam mengamankan takhta, tetapi juga dalam meredam konflik internal di antara bangsawan, yang kerap menjadi sumber ketegangan.

Farhan Fuadi dalam penelitiannya yangĀ  menggali asal-usul Pangeran Upapatih, sangat menarik untuk ditelusuri. Dalam artikelnya, ia menyebut bahwa Pangeran Upapatih adalah putra dari Maulana Yusuf, raja kedua Banten, dari istri selain Ratu Siti Khadijah. Dari garis keturunan Maulana Yusuf ini juga lahir tokoh-tokoh lain seperti Pangeran Dikara dan Pangeran Mandura. Menariknya, nama ā€œUpapatihā€ bukanlah nama pribadi, melainkan nama jabatan. Menurut sejarawan Claude Guillot, gelar ini disematkan setelah tokoh ini menjabat sebagai mangkubumi. Dalam sejumlah dialek, jabatan ini dikenal pula sebagai ā€œPatih Jeroā€ atau ā€œPepatihā€ā€”pejabat tinggi kerajaan yang menangani urusan istana dan elite bangsawan.

Claude Guillot menyoroti bagaimana struktur sosial dan kekuasaan di Banten terbagi atas wilayah-wilayah yang dikuasai para bangsawan. Wilayah barat hingga timur pesisir serta bagian tengah kota yang dikelilingi benteng merupakan daerah-daerah strategis. Meskipun tampak seperti kerajaan kecil masing-masing, para penguasanya tetap tunduk kepada raja. Saat itu, jabatan tertinggi ini bergelar Pangeran Ratu, lalu berubah menjadi Sultan pada masa Abul Mafakhir.

Dalam situasi perwalian, tokoh senior bernama Kiayi Mas Patih Mangkubumi naik sebagai wali raja. Ia berasal dari kalangan ponggawa, namun memiliki legitimasi politik karena menikahi Ratu Wetan, putri Maulana Hasanuddin, dan menjadi mertua dari Maulana Yusuf dan Maulana Muhammad. Maka, ia adalah kakek dari sang raja kecil. Mangkubumi mengatur ulang susunan kekuasaan dengan menempatkan tokoh-tokoh terpercaya di posisi strategis. Untuk urusan dalam istana, ia menunjuk Pangeran Upapatih sebagai patih jero, sementara untuk urusan luar ditunjuklah Tumenggung Anggabaya sebagai patih jaba.

Sebagai patih jero, Pangeran Upapatih bertanggung jawab atas urusan internal istana, terutama yang menyangkut keluarga raja dan para bangsawan. Meski tidak mendominasi dalam praktik sehari-hari, posisinya sangat penting sebagai penengah dan penasihat utama. Van Neck, penjelajah Belanda, dalam catatannya pada 1598, menggambarkan bahwa raja muda kala itu didampingi oleh seorang saudara laki-laki berusia 23 tahun—sosok yang kemungkinan besar adalah Pangeran Upapatih. Ini menunjukkan bahwa ia telah memainkan peran penting sejak awal masa transisi.

Sementara itu, patih jaba Tumenggung Anggabaya mengurus hubungan luar negeri, perdagangan, dan kebijakan politik luar. Dalam beberapa catatan, jabatan ini bahkan pernah diisi oleh tokoh asing, seperti keturunan Tamil, yang menunjukkan fleksibilitas pemerintahan Banten dalam menyerap elemen luar. Bahkan posisi strategis seperti syahbandar dan juru timbang juga kadang dipegang oleh orang non-pribumi.

Riwayat Pangeran Upapatih juga ditandai oleh kiprahnya dalam ekspedisi militer. Ia memimpin pasukan lewat darat dari Lampung saat ekspedisi ke Palembang, sementara Maulana Muhammad menyerang lewat laut. Kedudukannya makin kuat setelah putrinya menikah dengan anak Maulana Yusuf dari Ratu Wetan, memperkuat jaringan politiknya dalam keluarga kerajaan.

Nama lain yang kerap dikaitkan dengannya adalah Pangeran Gabang. Beberapa sejarawan seperti Tiele menyamakan keduanya, sedangkan Hoesein Djajadiningrat memisahkannya berdasarkan arsip Belanda yang menyebut dua nama itu secara terpisah. Namun Claude Guillot mengemukakan kemungkinan kekeliruan penyalinan dalam arsip-arsip tersebut. Bahkan J.P. Coen dalam suratnya menyebut kedua nama itu seolah merujuk pada satu orang, memperkuat dugaan bahwa mereka adalah tokoh yang sama. Disebutkan pula bahwa Pangeran Gabang tinggal di Pagebangan, yang mendukung identifikasi tersebut.

Guillot menyimpulkan bahwa Pangeran Upapatih lahir sekitar tahun 1575 dan wafat pada 1669 dalam usia 94 tahun. Ia menjabat sebagai mangkubumi hingga pertengahan abad ke-17, sebelum digantikan oleh cucunya, Pangeran Mandurareja. Dalam peta Banten kuno tahun 1596, istananya terletak di barat laut kota berbenteng, sebelum kemudian berpindah ke wilayah timur.

Pada masa pemerintahan Sultan Abul Mafakhir yang masih sangat muda, Banten juga mulai memasuki era pergaulan global. Kedatangan bangsa Eropa seperti Belanda dan Inggris membawa pengaruh besar. Ketegangan pertama terjadi saat Cornelis de Houtman datang pada 5 Juni 1596. Awalnya damai, tapi karena arogansi dan paranoia awak kapal Belanda, hubungan memburuk hingga terjadi pembunuhan dan akhirnya Mangkubumi Jayanegara memerintahkam untuk melakukan penyerangan atas kapal-kapal Belanda. Mereka ditahan dan baru dibebaskan setelah membayar tebusan.

Rombongan kedua Belanda yang datang pada 28 November 1598 dipimpin Jacob van Neck, yang lebih diplomatis. Ia membawa hadiah dan berhasil menjalin hubungan baik dengan istana. Saat itu, raja masih balita dan didampingi oleh Mangkubumi Jayanegara dan Pangeran Upapatih. Meskipun tidak tercapai kesepakatan untuk kerja sama militer, hubungan ini membawa keuntungan ekonomi besar dan membuka gerbang bagi arus dagang Eropa di Banten.

Pelabuhan Banten pun makin ramai dan kosmopolitan. Namun di balik geliat perdagangan ini, konflik antara pedagang asing dan bangsawan lokal makin menguat. Ketegangan memuncak pada 1609 dengan terbunuhnya Wijayamanggala, mantan syahbandar Tamil, akibat persaingan antarfaksi istana.

Perubahan besar pun terjadi. Pangeran Ranamanggala naik sebagai wali raja berikutnya, dan Pangeran Upapatih menjabat sebagai mangkubumi. Bersama-sama, mereka memusatkan kekuasaan di tangan elite istana. Banten berubah dari negara dagang terbuka menjadi kekuasaan yang juga fokus pada pengembangan internal.

Melalui peran strategisnya dalam politik, hubungan keluarga, hingga keterlibatannya dalam urusan militer dan diplomasi, Pangeran Upapatih muncul sebagai sosok kunci dalam sejarah Banten. Meski sejarah masih menyisakan teka-teki tentang siapa sebenarnya dirinya, pengaruh dan jejaknya tetap abadi dalam narasi kerajaan maritim ini yang penuh dinamika dan kejutan.

Berikan Komentarmu!