Rempah merupakan jenis tumbuhan yang telah lama berperan bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, rempah dimanfaatkan sebagai bumbu masak dan obat-obatan. Bahkan, rempah juga dimanfaatkan sebagai bahan pengawet mayat (mumi), seperti yang dipraktikan oleh orang-orang Mesir Kuno. Mereka memanfaatkan kayu manis, jinten dan lada sebagai: bahan anti jamur, anti bakteri, pengusir serangga dan untuk mencegah pembusukan terhadap jasad mumi. Selain itu, di Mesir, rempah juga dimanfaatkan oleh Ratu Cleopatra sebagai bahan untuk perawatan kecantikan tubuhnya.
Tumbuhan jenis rempah banyak ditemukan di wilayah Nusantara. Sejak dahulu, Nusantara menjadi salah satu wilayah pemasok rempah terbesar di dunia. Kedatangan Bangsa Eropa ke Nusantara pada abad ke-16 tak jauh dari soal rempah. Pada tahun 1453 pasukan Kesultanan Turki Usmani berhasil menaklukan Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur). Dengan ditaklukannnya Konstantinopel, secara otomatis pasar Asia-Eropa terputus. Terputusnya hubungan pasar tersebut membuat rempah menjadi barang yang langka dan mahal. Jatuhnya Konstantinopel menjadi titik awal Bangsa Eropa melakukan penjelajahan mencari sumber rempah.
Pada tahun 1510, bangsa Portugis berhasil menginjakan kaki di Nusantara setelah berhasil berlayar melewati Tanjung Harapan (ujung selatan Benua Afrika). Melihat Malaka sebagai bandar perdagangan internasional, Portugis berhasrat menguasainya. Pada tahun 1511, kapal Portugis yang dipimpin Alfonso de Albuquerque menyerang Malaka secara sporadis. Dengan jumlah pasukan sekitar 1.200 orang, Portugis berhasil menaklukan Malaka. Pada tahun 1512, kapal Portugis yang dipimpin oleh Francisco Serrao bertolak ke Maluku, pusat produksi rempah di Nusantara bagian timur.
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, para pedagang dari Arab, India, Cina dan daerah di Nusantara yang sebelumnya berdagang di Malaka, akhirnya mengarahkan kapal-kapalnya ke pelabuhan di barat pulau Jawa, yaitu pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten. Rute pelayaran yang dilalui para pedagang untuk menuju ke Banten yaitu melalui pantai barat Sumatera. Perjalanan ini dibagi menjadi tiga tahap: yaitu dari Aceh ke Barus, dari Barus ke Pariaman, dan dari Pariaman ke Banten (Wibisono, 1995: 91).
Banten sebagai Pusat Perdagangan Rempah
Dalam catatan Tom Pires yang berkunjung ke Banten pada tahun 1513, ia menyatakan bahwa Banten merupakan pelabuhan kedua terbesar dari Kerajaan Sunda setelah pelabuhan Kalapa. Banten telah menjalin hubungan dagang dengan Sumatera, Maladewa, Arab dan Cina. Pada saat itu Banten merupakan pelabuhan pengekspor beras dan lada (Michrob dan Chudari, 1993: 43).
Kesaksian Tom Pires terkait aktifitas perdagangan internasional sebelum Kesultanan Banten berdiri dapat ditelusuri pada Situs Banten Girang. Pada tahun 1989 sampai 1992, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Ćcole FranƧaise dāExtrĆŖme-Orient melakukan ekskavasi di Situs Banten Girang. Pada saat ekskavasi tersebut ditemukan tembikar, pecahan prasasti, keramik, manik-manik dari abad ke-9, benda-benda logam dan mata uang koin dari pemerintahan Shenzong (1068-1086). Dari penemuan-penemuan tersebut disimpulkan bahwa di Banten Girang telah ada kegiatan perdagangan sejak abad ke-9 (Guillot dkk, 1996:142-225).
Setelah Kesultanan Banten berdiri pada tahun 1526 (Michrob, 1993: 45-47), Banten menjadi kota pelabuhan yang tumbuh pesat. Posisi kerajaan yang terletak di jalur perdagangan rempah ini, menjadikan Kerajaan Banten sangat strategis. Bagaimana tidak, para pedagang yang hendak mencari rempah ke Maluku biasanya singgah terlebih dahulu di Banten. Hal inilah yang menambah keramaian kondisi kota pelabuhan Banten. Selain singgah, para pedagang dari Asia dan Eropa itu juga memburu lada yang diperjual-belikan di pasar Banten.
Pada tahun 1580-1680, tercatat lada yang dibawa keluar dari negeri Banten mencapai ribuan karung per kapal yang berangkat. Pada tahun 1603, para pedagang Belanda membawa lada dari Banten ke negerinya sekitar 259.200 pon, atau hampir setara dengan 117 ton. Sedangkan pada tahun 1608, kapal Belanda yang bernama Bantam berhasil mengangkut 8.440 karung lada. Sekitar tahun 1618, kapal Cina yang berkekuatan 1.000 sampai 1.500 ton, juga memuat lada untuk dibawa ke negerinya (Ongkodarma, 2006: 167-168). Dari banyaknya jumlah lada yang diperjual-belikan di Banten ketika itu, secara otomatis ini menambah laba kas Kesultanan Banten.
Lada yang diperjual-belikan di pasar Banten, selain berasal dari petani lokal, juga berasal dari Palembang, Bengkulu dan Lampung. Daerah-daerah tersebut yang letaknya di Sumatera, ketika itu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Banten. Namun, praktik ini tidak berlangsung lama, karena pada saat itu Palembang berhasil melepaskan diri dan menjadi daerah yang mandiri. Daerah Lampung dan sekitarnya tetap dalam kekuasaan Banten. Orang-orang Lampung yang menjual lada tidak diperbolehkan menjual secara langsung pada para pedagang. Lada-lada itu harus Sultan yang menjualnya (Ongkodarma, 2006: 167-168).
Puncak kejayaan Kesultanan Banten terjadi ketika masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1672). Sultan Ageng Tirtayasa berhasil meredam VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang terus merongrong ingin menguasai perdagangan di Pelabuhan Banten. Sultan ageng Tirtayasa juga melakukan diplomasi, mengadakan persahabatan dengan Lampung, Bengkulu dan Cirebon. Usaha Sultan Ageng Tirtayasa dalam bidang politik dan bidang pelayaran dan perdagangan terus ditingkatkan. Dengan kecakapan sang sultan dalam memimpin, pelabuhan Banten semakin ramai dikunjungi oleh para pedagang asing yang berasal dari Persia, India, Arab, Cina, Jepang, Filipina, Melayu, Inggris, Perancis, Denmark dan Turki (Lubis, 2003: 46-62).
Rabeg Bukti Kejayaan Rempah di Banten
Jejak kejayaan Banten pada masa silam, saat ini bisa kita saksikan di sekitar Kawasan Banten Lama. Di kawasan itu para wisatawan dapat mengunjungi situs-situs peninggalan Kesultanan Banten. Di antara situs-situs yang dapat dikunjungi antara lain: Masjid Agung Banten, reruntuhan Keraton Surosowan, reruntuhan Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk, Danau Tasikardi, Pengindelan (Abang, Putih dan Emas), Menara Masjid Pacinan Tinggi, Masjid Koja, Watu Gilang, Meriam Ki Amuk dan Kerhof.
Bagaimana dengan jejak rempah atau lada di Banten? Adakah jejaknya hingga saat ini? Jawabannya, āadaā. Jejak kejayaan lada dan hubungan dagang dengan dunia internasional di Banten dapat dilihat pada satu porsi menu Rabeg.
Rabeg adalah salah satu makanan khas Bantenāhasil akulturasi antara Arab dan Banten. Berbahan baku utama daging dan jeroan kambing, Rabeg menjadi makanan kesukaan masyarakat Banten, khususnya masyarakat Cilegon dan Serang. Pada masa Kesultanan Banten, Rabeg menjadi menu makanan utama di istana yang dihidangkan untuk Sultan dan keluarga.
Menurut Ulung dan Rona dalam Jejak Kuliner Arab di Pulay Jawa (2014: 50-51), mereka mengatakan bahwa Rabeg memiliki sejarah yang cukup panjang. Ketika Sultan Maulana Hasanuddin menunaikan ibadah haji, kota pelabuhan pertama yang dikunjungi yaitu Kota Rabigh. Kota ini terletak di tepian laut merah. Dahulu kota Rabigh ini bernama Al-Johfa. Sultan Maulana Hasanuddin sangat terkesan dengan keelokan kota itu. Setelah berminggu-minggu mengarungi samudera, di Kota Rabigh, Sultan Maulana Hasanuddin menikmati hidangan khas Kota Rabigh. Setelah menyelesaikan ibadah haji dan pulang ke Banten, sang sultan merindukan kenangan di Kota Rabigh. Ia memerintahkan juru masak istana untuk memasak daging kambing yang sama persis seperti di Kota Rabigh. Hal ini membuat para juru masak kalang kabut karena tidak mengetahui seperti apa bentuk masakan itu. Mengingat titah Sultan adalah sesuatu yang wajib dilakukan dan harus dikabulkan, para juru masak mencoba mereka-reka sendiri masakan daging kambing itu. Setelah bereksperimen dengan bumbu seadanya, jadilah satu menu daging kambing berkuah. Tanpa diduga, masakan yang berbahan utama daging kambing itu sangat disukai Sang Sultan.
Seiring berjalannya waktu, resep masakan itu pun bocor, dan menyebar ke kalangan masyarakat Banten. Daging kambing yang empuk, gurih dan memiliki aroma yang khas itu menjadi menu sajian wajib pada saat acara syukuran: Aqiqah/Sunatan dan Pernikahan. Dan seiring berjalannya waktu pula, nama masakan itu pun berubah, dari Rabigh menjadi Rabeg.

Di Kota Cilegon, menu Rabeg dapat ditemukan di beberapa warung makan. Salah satu yang terkenal adalah Nasi Uduk Rabeg Khas Cilegon. Namun ada yang berbeda Rabeg yang dijual di warung ini dengan Rabeg yang ditemukan dalam acara syukuran atau hajatan. Biasanya, Rabeg berbahan dasar daging kambing, namun di Warung Nasi Uduk Rabeg Khas Cilegon ini, menu Rabegnya berbahan dasar daging sapi. Warung Nasi Uduk Rabeg Khas Cilegon terletak di Jombang Masjid, Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon. Warungnya tepat berdiri tidak jauh dari Toko Buku Pionir.
Untuk memasak Rabeg, selain daging kambing dan jeroan yang menjadi bahan utama, diperlukan beberapa jenis rempah sebagai bumbu masakannya. Di antara bumbu masakan Rabeg yaitu: lada, biji pala, kayu manis, bawang merah, jahe, lengkuas, cabe rawit, asem jawa, daun salam, garam dan kecap manis. Masyarakat Banten tidak merasa kesulitan mencari rempah yang ingin dijadikan bumbu masakan Rabeg itu, karena Banten adalah bumi rempah.
Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk mengembangkan potensi daerah yang ada. Rabeg sebagai makanan khas Banten bisa menjadi penuntun jejak jalur rempah di bumi Nusantara. Bisa saja, di Banten dibangun ruang peradaban (wisata rempah) yang di dalamnya memuat informasi mengenai kejayaan rempah di Nusantara, khususnya kejayaan rempah di Banten.
Saya membayangkan, orang-orang datang ke tempat itu (ruang peradaban), dari anak muda hingga orang tua. Mereka belajar tentang sejarah rempah dan peranannnya dalam membangun peradaban dunia. Tidak hanya itu, mereka juga belajar bagaimana cara menanam, merawat, mengelola dan memasarkan rempah secara langsung. Setelah lelah belajar seharian, di pos terakhir tour wisata jalur rempah di Banten, pengelola Ruang Peradaban sudah menyiapkan menu makan siang untuk para wisatawan, yaitu seporsi Rabeg dalam kondisi hangat.