Di sebuah sudut kampung bernama Gempol Kulon – Pabean, tumbuh seorang anak muda dengan mimpi besar yang berakar pada kesederhanaan hidup. Dialah Faisal Maarif, seorang santri, seorang pembelajar, dan kini menjadi bagian dari barisan pengambil kebijakan pendidikan di tingkat nasional. Alumni MTs Al-Khairiyah Karang Tengah, Cilegon ini telah membuktikan bahwa mimpi yang ditanamkan dalam tanah madrasah bisa tumbuh tinggi, bahkan hingga menjangkau meja-meja strategi negara.
Perjalanan Faisal jauh dari gemerlap. Ia tidak dibesarkan oleh kemewahan, tetapi oleh nilai—nilai yang ia serap dari ruang-ruang kelas madrasah, dari guru-guru yang sabar membimbingnya, dan dari lingkungan yang membiarkannya salah, keliru, dan tumbuh dengan cara sendiri. Baginya, madrasah bukan sekadar tempat belajar pelajaran formal, tetapi medan latihan menjadi manusia utuh. “Saya sangat beruntung tumbuh di lingkungan yang positif. Madrasah ini memberi saya ruang untuk tumbuh dengan cara saya sendiri,” ujarnya penuh syukur.
Lulus dari MTs, ia melanjutkan ke MA Al-Khairiyah Karang Tengah, tempat ia semakin mengasah pola pikir dan memperluas cakrawala. Jalan itu kemudian membawanya ke Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta untuk jenjang S1, dan selanjutnya Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk studi magister. Namun, bagi Faisal, deretan gelar itu bukan tujuan akhir. Pendidikan baginya adalah tangga, bukan mahkota. Ia ingin menaiki tangga itu untuk bisa memberi manfaat lebih luas, terutama dalam bidang yang sangat strategis: pendidikan nasional.
Hari ini, Faisal Maarif mengemban amanah sebagai Tenaga Ahli di Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru (GTKPG), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam posisinya, ia tidak hanya mengamati sistem pendidikan dari balik meja, tetapi ikut merancang kebijakan dan arah strategis peningkatan mutu guru serta tenaga pendidik di seluruh pelosok negeri. Ini bukan pencapaian kecil—ini adalah tanggung jawab besar yang lahir dari proses panjang dan pijakan kuat yang telah ia bangun sejak di madrasah.
Lebih dari sekadar perjalanan karier, kisah Faisal adalah tentang identitas. Ia membawa ruh madrasah ke ruang-ruang formal negara. Ia menunjukkan bahwa lulusan madrasah bukan warga kelas dua. Bahwa anak kampung bisa duduk di kursi strategis, bukan karena koneksi, tapi karena kompetensi—dan karena keberanian untuk terus melangkah.
Bagi generasi muda MTs Al-Khairiyah hari ini, Faisal bukan sekadar alumni. Ia adalah bukti hidup bahwa pendidikan itu bukan soal di mana kamu memulainya, tetapi seberapa jauh kamu mau melangkah. Bahwa madrasah bukan titik akhir, melainkan titik tolak menuju ruang-ruang perubahan. Dari kelas yang mungkin sederhana, tapi penuh semangat dan cita-cita.
Karena sejatinya, perubahan besar memang sering lahir dari tempat-tempat yang dipandang kecil. Seperti sebuah madrasah di Karang Tengah—yang ternyata bisa melahirkan mereka yang membentuk arah pendidikan negeri.