Kerkhof di Cilegon Berdasarkan Catatan Pers Kolonial Belanda

Pada tanggal 9 Mei 2025, Tim galijati.id yang dipimpin oleh Ayatulloh Marsai melakukan penelusuran sejarah di sekitaran Rumah Dinas Walikota Cilegon. Anggota tim ini diikuti oleh Indra Kesuma (fotografer) dan Deni Okem (asisten fotografer). Mereka bertiga berjalan menyusuri kawasan tersebut dari siang hingga malam hari.

Hasil penelurusannya itu kemudian dituliskan oleh Ayatulloh Marsai. Tulisan tersebut dimuat di galijati.id pada tanggal 11 Mei 2025 dengan judul ā€œNisan Cina Kuno di Selokan Apollo Cilegonā€.

Dalam tulisannya, Ayatulloh Marsai menuliskan apa yang ditemukan di kawasan bersejarah itu. Dari Rumah Dinas Walikota Cilegon yang dahulu digunakan kantor kewedanaan, Ayatulloh dan tim berjalan menuju eks Gedung Bioskop Apollo.

Di masa lalu, Bioskop Apollo merupakan salah satu tempat hiburan yang dimiliki masyarakat Cilegon. Beribu kenangan masyarakat Cilegon lahir dan terkubur di bangunan ini. Selain bangunan bioskop yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Cilegon, di kawasan tersebut ternyata dahulunya adalah pemakaman orang-orang Belanda. Ayatulloh Marsai dan tim menelusuri jejak itu dari tradisi lisan yang masih bertahan.

Dari penelusuran yang dilakukan dari siang hari hingga sore hari, tidak ditemukan bukti yang mengindikasikan bahwa tempat itu dahulunya adalah pemakaman orang-orang Belanda. Saat mereka menelusuri gang, justru mereka menemukan batu nisan milik orang Tionghoa. Namun kondisi batu nisan itu sangat miris. Batu nisan berangka tahun 1917 itu dijadikan sebagai penutup selokan.

Jika melihat angka tahun yang tertera pada batu nisan, orang Tionghoa jauh hari sudah lama tinggal di Cilegon. Mereka mayoritas berperan sebagai pedagang. Dalam buku Sejarah Cilegon: Riwayat Kota Baja di Ujung Barat Pulau Jawa (2016), Mufti Ali menuliskan, bahwa salah satu bukti eksistensi orang Tionghoa di Cilegon yaitu adanya pemakaman Cina kuno yang terletak di Desa Sukmajaya (saat ini makam Cina dipindahkan ke Cikerai).

Muncul pertanyaan, jika awalnya makam Cina kuno terletak di Sukmajaya, mengapa batu nisan milik orang Tionghoa itu berada tak jauh dari bangunan bioskop Apollo? Di mana sebenarnya letak pemakaman orang-orang Belanda yang berdasarkan tradisi lisan berada di sekitaran eks Gedung Bioskop Apollo?

Kerkhof di Cilegon Berdasarkan Catatan Pers Kolonial Belanda
Dalam konteks sejarah Indonesia, istilah pemakaman atau kuburan orang-orang Belanda disebut dengan kerkhof. Namun dalam bahasa Belanda, kerkhof artinya halaman gereja. Di masa lalu, lokasi makam/kuburan ditempatkan tidak jauh dari bangunan gereja.

Kompleks pemakaman dibangun untuk menguburkan orang-orang Belanda/Eropa yang meninggal di Hindia-Belanda. Biasanya mereka yang dikuburkan adalah berprofesi sebagai tentara, pegawai pemerintah, pejabat (tokoh politik) atau bahkan warga sipil. Di Banten sendiri, kompleks pemakaman orang-orang Eropa atau kerkhof dapat dilihat di sekitaran Benteng Speelwijk. Beberapa batu nisan masih berdiri kokoh dan terlihat jelas nama orang yang dikuburkan dalam makam tersebut.

Peristiwa Geger Cilegon tahun 1888 yang digerakkan oleh para Kiai berakhir dengan banyaknya orang-orang Belanda/Eropa dan orang-orang pribumi yang gugur. Dalam Surat Kabar Dagblad van Zuidholland en ā€˜s Gravenhage yang terbit 23 September 1889 tertulis, sebanyak 8 orang Eropa/Belanda dan 10 penduduk pribumi (pribumi yang bekerja di pemerintahan) tewas dalam peristiwa tersebut. Sedangkan, dari pihak pejuang rakyat Banten, sekitar seratus orang dijatuhi hukuman mati. Sedangkan yang lainnya diasingkan dan diampuni.

Orang-orang Belanda/Eropa yang tewas dalam peristiwa tersebut kemudian dimakamkan di satu tempat di Cilegon. Pemakaman atau kuburan orang-orang Belanda/Eropa itu disebut kerkhof. Di dalam surat kabar De Locomotief yang terbit pada tanggal 25 Maret 1903, digambarkan letak kerkhof di Cilegon yang lokasinya tidak jauh dari jalan utama dan dekat dengan bangunan penjara.

Pada denah tersebut (perhatikan gambar di atas), kerkhof ditunjukkan oleh huruf F. Kompleks pemakaman orang-orang Belanda/Eropa terletak di sebelah timur bangunan penjara (Boei). Jika ditempuh dari jalan utama, jalan besar Cilegon-Serang (Groote weg naar Serang), Kompleks pemakaman orang-orang Belanda/Eropa terletak di Selatan. Kerkhof berdekatan dengan rumah Kolektor Pajak atau Petugas Pajak (toenmalige woning Ondercollectur) yang ditunjukkan oleh huruf H dan tak jauh dari rumah Pejabat Penghulu (toenmalige woning Pengoeloe Landraad) yang ditunjukkan oleh huruf I.

Keberadaan kerkhof di Cilegon juga pernah diulas secara singkat oleh majalah Tropisch Nederland Volume XI, No. 20 yang terbit tanggal 24 Januari 1938. Majalah ini dua minggu sekali dan isinya tentang informasi Hindia Belanda. Pada halaman 315 sampai 317 diulas peristiwa Geger Cilegon 1888 hingga dimakamkannya para korban di suatu tempat di Cilegon.

Dalam artikel berjudul ā€œTjilegon 1888-1938ā€ yang dimuat di majalah Tropisch Nederland Volume XI, No. 20 (24 Januari 1938), A.K menuliskan, bahwa setelah pemberontakan berhasil dipadamkan, para korban dimakamkan di sebidang tanah di belakang penjara dekat jalan utama. Pemakaman kecil ini ditata oleh Tuan Engelenberg, seorang inspektur di Cilegon. Di sebelah kanan adalah makam orang-orang Eropa dan di sebelah kiri adalah makam orang pribumi yang menjadi pegawai pemerintah.

Pada tahun 1919, A.K berkunjung ke Cilegon untuk mencari tahu keberadaan pemakaman orang-orang Belanda/Eropa. Namun ketika sampai di Cilegon, tidak ada satu pun orang Eropa yang tahu tentang pemakaman tersebut. Saat ditemukan, kondisi pemakaman ditumbuhi berbagai tanaman tropis dan dinaungi oleh pohon beringin.

Di dalam kompleks pemakaman terdapat tugu atau monumen peringatan. Tugu tersebut berbentuk obelisk (runcing ke atas) bergaya klasik Eropa yang berdiri di atas pondasi bertingkat. Tugu di pemakaman itu dikelilingi oleh pagar besi yang tidak terlalu tinggi. Di tugu tersebut bertuliskan ā€œTer nagedachtenis slachtoffers gevallen op 9 Juli 1888 tijdens de onlusten te Tjilegon.ā€

Pada tiga sisi tugu tercantum nama-nama yang tewas pada peristiwa 9 Juli 1888. Mereka adalah:
1. J. H. H. Gubbels, Assistent-Resident van de afd. Anjer, standplaats Tjilegon met echtegnoote en 2 kinderen.
2. H. F. Dumas, Klerk op het residentiekantoor.
3. J. Grondhout en echtgenoote, Boormaster.
4. M. Bachet, Zoutakhuismeester.
5. R. Poerwodiningrat (Ondercollecteur).
6. R. Tjokrodiningrat (Wedana).
7. M. Sastrodiwirja (Djaksa).
8. Djojoatmodjo.
9. Kromodimadjo (Cipier Gevangenis).
10. R. Kartasoetadiningrat (Zoon Ondercollecteur).
11. Djamal (Personeel).
12. Sadiman (Personeel).
13. Djamin (Personeel).
14. Mas Asidin (Personeel).

Berikan Komentarmu!