Kesenian Rudat: Merdunya Akulturasi Islam dan Budaya dari Pelosok Cilegon

Di Indonesia, kesenian dijadikan sebagai sarana untuk menyampaikan kepercayaan, gagasan, sensasi atau perasaan dengan cara yang mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam prosesnya, kesenian merupakan salah satu unsur yang terdapat dalam suatu kebudayaan, yang di mana kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Maka kesenian dapat pula diartikan sebagai perwujudan hasil kreasi dan ekspresi manusia yang mengandung nilai keindahan.

Dalam perkembangannya, kita mengenal kesenian tradisional yang prosesnya berkembang secara alami dan merupakan bagian dari kesenian rakyat yang dapat dinikimati secara massal. Kesenian tradisional ini juga merupakan bagian kesenian rakyat yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Di Kota Cilegon, kota dengan tingkat religiositas yang tinggi tentunya mempunyai ragam kesenian yang cukup kental, baik dalam kehidupan sosial maupun kehidupan budayanya. Salah satu kesenian tersebut adalah rudat.

Gaungan Merdu dari Pelosok Cilegon
Kesenian rudat tidak hanya berkembang di Kota Cilegon, namun berkembang juga di beberapa daerah di Banten dan juga beberapa wilayah di Indonesia.

Secara historis, masuknya kesenian rudat di wilayah Banten tidak terlepas dari upaya penyebaran Islam oleh Wali Songo, yakni Sunan Gunung Jati atau lebih dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah yang mengutus para utusannya pada sekitar tahun 1450-1500 M.

Sebelum abad ke-16, sebagian besar penduduk di wilayah Banten masih beragama Hindu, maka atas arahan Sunan Gunung Jati diharuskan mengembangkan Islam yakni dengan cara mempertunjukkan kesenian yang meniru kesenian di tanah Makkah yaitu _genjring_ yang terbuat dari potongan-potongan kayu.

Secara etimologi, rudat berasal dari bahasa Arab yaitu raudatun, yang artinya taman bunga. Kemudian secara etimologi rakyat, kata tersebut dikenal dengan ā€˜rudat’ yang sampai sekarang tumbuh dan berkembang di perkampungan di Kota Cilegon dan khususnya di kalangan masyarakat santri untuk mengiringi lagu-lagu selawat serta lagu-lagu yang bernafaskan islami.

Dalam beberapa artikel dituliskan, bahwa secara umum, kesenian rudat merupakan perpaduan antara seni gerak dan vokal dengan diiringi tabuhan ritmis alat musik rebana.

Tentunya, setiap wilayah menyajikan kesenian ini dengan berbeda. Seperti di Lingkungan Gempol Wetan, sebuah masyarakat perkampungan yang secara administratif masuk dalam Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon Banten.

Sampai saat ini, kesenian rudat masih dipraktikan oleh masyarakat Lingkungan Gempol Wetan. Di masyakarat ini, rudat disajikan dengan sangat sederhana, yakni dengan penggunaan alat musik berupa terbang gede (red: sejenis rebana) dan dibarengi dengan melantunkan selawat, syair atau lagu-lagu bernafaskan islami.

Rudat biasa kita dijumpai dalam acara iring-iringan acara pernikahan, khitanan, maulid Rasul, serta peringatan-peringatan besar lainnya. Dalam iring-iringan acara pernikahan misalnya, kesenian rudat akan menjadi senter dalam mengawali prososi pernikahan.

Selain itu, kesenian rudat juga ditampilkan dalam acara-acara resmi di Pemerintahan, misalnya dalam menyambut para tamu, seperti para walikota, gubernur atau para tamu penting lainnya. Bagian penyambutan inilah yang identik dari kesenian rudat di Cilegon.

Rudat: Merayakan Islam dengan Irama
Dalam Islam, pernikahan dianjurkan untuk diumumkan kepada masyarakat. Karena mengumumkan pernikahan memiliki beberapa tujuan, diantaranya; menyebarkan kabar baik dan mencegah terjadinya fitnah, serta memberi tahu masyarakat bahwa hubungan tersebut sah secara syariat Islam.

Dalam konteks ini, mengumumkan pernikahan bisa dengan berbagai cara, salah satunya dengan kesenian rudat. Senada dengan hadis dari Aisyah Ra., yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah:

ā€œUmumkanlah pernikahan ini, dan lakukanlah di masjid, serta (ramaikan) dengan memukul duf (rebana).ā€

Dalam tradisi Islam, memukul rebana dalam acara pernikahan berfungsi sebagai alat untuk meramaikan dan menghibur, juga dapat dikatakan sebagai simbol kegembiraan dalam pernikahan.

Dalam konteks pernikahan di Cilegon, kesenian rudat inilah yang akan menyambut salah satu mempelai pengantin (biasanya pengantin pria) yang baru datang, kemudian mengantarkan pengantin tersebut ke acara yang paling sakral dalam sebuah pernikahan, yakni akad nikah.

Pengantin adalah tamu spesial yang disambut dengan suara riuh dari hasil pukulan terbang gede dan dibarengi dengan nyanyian-nyayian lagu islami. Kesenian rudat disajikan dengan ramai yang bersifat suka ria, nuansa gembira terasa jelas di sini. Suara-suara inilah yang menggaung di seantero perkampung. Hal inilah juga sebagai tanda bahwa terdapat dua keluarga yang sedang berbahagia, namun seluruh masyarakat juga harus merasakan sukacitanya.

Berikan Komentarmu!