Syech Yusuf Al Makasari sebagai Ulama Mufti dan Panglima Perang Kesultanan Islam Banten

Nusantara yang di kenal Negara Al Jawwi tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran santri-santri Nusantara yang belajar menuntut ilmu keislaman di Mekah dan Madinah ( Hijaz). Negara Hijaz sebagai pusat Islam menjadi daya tarik umat Islam Nusantara untuk belajar ke pusat Islam haromain ( Mekah dan Medinah).

Disebutkan dalam disertasi Profesor Azyurmardi Azra, “Jaringan Ulama Abad XVII”, bahwa pada abad ke-17 ada seorang santri dari Nusantara telah mendapatkan berbagai ijazah sanad dari sang guru yaitu Syech Ibrahim Al-Kurani Al Madani yang sanad hadisnya tersambung ke Zakariya Al Anshori yaitu Syech Abdur Rauf As Sinkli Al Jawi asal Aceh. Syech Abdur Rauf mendapatkan berbagai sanad kitab yang didapatkan dari gurunya, maka tidak berlebihan bahwa Syech Abdu Rauf Al Sinkli adalah seorang ulama besar dari Nusantara yang bereputasi dunia pada masa itu, namun beliau lebih memilih kembali ke Nusantara  yaitu ke Aceh. Dan Syech Abdur Rauf Al Sinkli di Aceh menjadi mufti kerajaan Sultanah Aceh. Dan salah satu murid yang terlacak dari Syech Abdur Rauf Al Sinkli adalah Syech Abdul Muhyi Pamijahan yang di Jawa Barat yang mashur itu.

Diantara karyanya adalah Mir’at at-Thulab, karya di bidang hukum Islam yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatudin; Tarjumanul Mustafid, karya tafsir pertama yang ditulis di Nusantara secara lengkap menggunakan bahasa Melayu; Terjemah Hadis Arba’in karya Imam Nawawi (juga ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatudin); Mawa’iz al-Badi, berisi nasehat tentang akhlak; Tanbih al-Masyi, yang memuat ajaran tasawuf; Kifayatul Muhtajin, berisi penjelasan tentang konsep wahdatul-wujud.

Disamping Syech Abdur Rauf As Sinkli terdapat ulama yang belajar di Mekkah dan Madinah ( Hijaz) yaitu Syech Yusuf Al Makasari Al Jawwi beliau juga sama dengan Syech Abdur Rauf , Syech Yusuf Al Makasari, murid dari Syech Ibrahim  Al Kurani Al Madani yang lama menuntut ilmu keislaman di Mekkah dan Medinah . Syech Yusuf Al Makasari setelah menuntut ilmu ia pulang ke daerahnya yaitu Makasar, namun karena Kerajaan Gowa tidak kondusif maka Syech Yusuf Makasari pergi ke Banten. Pada masa itu Banten sebagai negara metropolis. Kehadirannya di Banten sangat diterima karena sebagai teman Sultan Agung Tirtayasa dan juga seorang ulama yang alim. Dan kehadiran Syech Yusuf Al Makasari di kesultanan Banten, karena keilmuannya, diangkat menjadi mufti kesultanan Banten dan sekaligus sebagai mantu dari Sultan Agung Tirtayasa. Dengan kapasitas kealimannya Syech Yusuf Al Makasari menjadi guru Putra Mahkota yaitu pangeran Abdul Qohar ( Sultan Haji) dan menjadi guru dari Syech Abdul Muhyi Pamijahan.

Peran Syech Yusuf Al Makasari disamping sebagai mufti  dia juga sebagai panglima perang Kesultanan Banten melawan Belanda pada masa perang Sultan Agung Tirtayasa melawan Belanda. Perjalanan perang gerilyanya bersama Pangeran Purbaya sampai ke Tasikmalaya. Ketika Sultan Agung Tirtayasa wafat dalam penjara Belanda Syech Yusuf Al Makasari kembali ke Banten. Dan, Syech Yusuf Al Makasari dan keluarganya diasingkan ke Afrika Selatan.  Semoga bermanfaat.

 

2 comments

https://garudamudacendikia.sch.id/?oktober= October 7, 2025 - 1:21 am

Heya i am for the primary time here. I found this board and I to find It truly helpful & it helped me out much.
I hope to give something again and aid others like you aided me.

Reply
Ayatulloh Marsai December 25, 2025 - 4:32 am

Halo! Selamat bergabung. Senang sekali mendengarnya kalau kamu merasa terbantu di sini. Semangat berbagi itu keren banget—kami tunggu kontribusi dan cerita-ceritamu nanti ya!

Reply

Berikan Komentarmu!