Baru satu tulisan saya membaca buku “Orang Batak Berpuasa”, karya Baharudin Aritonang, tidak tahan rasanya ingin menuliskan hal yang serupa tentang puasa di kampung. Semata-mata karena merasa setiap daerah unik dalam menyambut dan menjalankan ibadah puasa —tepatnya sih budayanya. Saya merasa gembira mendapatkan informasi bagaimana Orang Batak mempersiapkan menjalankan ibadaha puasa. Mereka menyebutnya marpangir. Mungkin kalau di kampung saya ini yang disebut kramasan atau munggahan.
Sama saja, di Batak maupun di Banten, juga mungkin seluruh Indonesia, dalam rangka mempersiapkan memasuki bulan Ramadhan, kita mulai dari bersih-bersih rumah, halaman rumah, cat tembok rumah, jalan kampung sampai pemakaman. Saya ingat dulu saya sering kebagian membersihkan sawang yang bergelantungan mengotori tembok dan juga langit-langit rumah. Maklum rumah orang dulu jarang sekali yang dipasang plafon. Hanya orang-orang tertentu yang mampu mem-plafon rumahnya. Dulu belum ada asbes, GRS, dan lain sebagainya palfon paling terkini. Dulu masih menggunakan lampit, sebuah anyaman dari kulit pelepah bulung. Ada juga yang terbuat dari bambu.
Selain rumah, badan juga harus dibersihkan dalam rangka menjalankan ibadah puasa. Ini sebetulnya yang dimaksud dengan kramasan. Orang membesihkan seluruh badan dari ujung kaki sampai rambut. Kalau orang Batak menggunakan ramuan: jeruk nipis, daun pandan, ampas kelapa dan dilengkapi dengan wewangian seperti bunga mawar, bunga kenanga atau akar wangi, di kampung saya menggunakan merang yang dibakar terlebih dahulu.
Merang sendiri adalah bahasa untuk menyebut tangkai padi yang sudah kering. Tidak hanya tangkainya, tapi sampai tempat buliran padi itu menempel. Merang itu ada waktu sistem memanen padi masih diani, —dipotong dari tangkai padi. Setelah cara memanen berubah dengan gepotan, lalu mesin, merang pun menghilang, tertinggal di sawah menjadi tumpukan jerami saja.
Arang merang itu digunakan untuk keramas: mencuci rambut. Ternyata arang merang itu bisa mengeluarkan busa jika di-usek-kan ke rambut kepala.
Kalau di Batak, atau di kebanyakan daerah lain keramasan dilakukan di tempat-tempat air atau pemandiam umum, di tempat saya karena tidak ada tempat seperti itu, dilakukan di sumur-sumur umum. Sekarang sudah tidak ada sumur umum di luar, maka dilakukan masing-masing di rumah. Dan keramasannya tidak lagi menggunakan merang, tapi produk sampo modern. Laki-laki sebelum keramas biasanya mencukur rambutnya terlebih dahulu.
Selain rambut, kuku tidak lepas dari perhatian yang harus dibersihkan. Anak-anak, orang tua, semuanya harus memotong kukunya sebelum petang tiba. Karena ada kepercayaan kumali (tabuh) kalau memotong kuku pada malam hari. Akan kena apes, katanya.
***
Satu hari menjelang Ramadhan memang semua orang sibuk gempita. Di pasar-pasar ramai tidak seperti pada hari yang lain. Bulan puasa dipersiapkan spesial. Makanan istimewa dipersiapkan semaksimal mungkin. Kalau dipikir-pikir puasa kok makin ramai makanan ya. Tapi ya begitulah adanya, muslim Indonesia lebih tepat dibilang “merayakan” daripada mempersiapkan ibadah puasa. Buktinya ketika bulan Ramadhan tiba kita mempersiapkan banyak hal, termasuki sampai makanan istimewa dipersipakan.
Makanan itu selain untuk makan sahur pertama, malam harinya, setelah Shalat Tarawih, di bawa ke masjid untuk ngeriung. Ngeriung adalah kegitan doa bersama untuk semua umat Islam baik yang sudah menginggal dunia maupun yang masih hidup. Ngeriung juga sering disebut ngirim doa, sering juga disebut dengan istilah ngirim fatihah. Makanan tadi yang terdiri dari nasi dan lauk-pauknya di sebut berkat, lebih tepat berfungsi sebagai sedekah, —walaupun pada akhirnya semua orang yang hadir kebagian, termasuk orang yang “bersedekah” tadinya. Uniknya, meski tadi membawa banyak ( 5-10) bungkus, pada saat pulang semuanya mendapatkan satu sampai dua saja. Ini menandakan orang-orang yang tidak mampu bebaur dalam merayakan datangnya bulan puasa ini, ikut merasakan makanan/masakan istimewa.
Kesibukan satu hari menjelang masuknya bulan suci Ramdahan itu —terutama yang menyangkut urusan dapur disebut dine pregpegan. Bersih-bersihnya dikenal dengan keramasan. Keseluruhannya disebut munggahan. Satu lagi yang khas terjadi pada momentum munggahan ini, anggota keluarga yang dirantau, baik sedang bekerja maupun sedang belajar, biasanya menyempatkan pulang untuk menikmati puasa hari pertama bersama keluarga: makan sahur dan buka bersama.
Senin, 10 Maret 2025