Banten merupakan daerah yang memiliki catatan sejarah Islam yang panjang. Dari proses Islamisasi, terbentuknya pemerintahan yang bercorak Islam, perlawanan terhadap kolonialisme, hingga pengembangan Islam melalui lembaga pendidikan pesantren. Pesantren merupakan institusi pendidikan yang berdiri bersamaan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam pada masa itu. Seperti di Kesultanan Banten terdapat Pesantren Kasunyatan yang dirintis oleh Sultan Maulana Hasanuddin.
Pesantren Kasunyatan kemudian dikembangkan secara intensif sehingga mampu melahirkan kader-kader agama yang kompeten dan bertanggungjawab di bidang agama. Menurut M.Yahya Harun dalam Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI Dan XVII (1995), salah satu karya dari kegiatan ilmiah di Pesantren Kasunyatan ini yaitu sebuah Al-Qurāan tulis tangan. Setelah kepemimpinan Maulana Hasanuddin, pesantren kemudian dikembangkan oleh Maulana Yusuf, raja kedua Kesultanan Banten.
Sampai hari ini, di Banten masih banyak ditemukan pesantren yang masih eksis berdiri dan masih terus bertahan di tengah arus industrialisasi, baik itu pesantren yang bercorak tradisional (salafiyah), maupun pesantren modern (khalafiyah), ataupun pesantren yang bercorakĀ kombinasi (penggabungan sistem salafiyah dengan sistem modern). Salah satu pesantren di Banten yang memiliki sejarah panjang dan cukup berpengaruh, yaitu Pesantren Al-Khairiyah Citangkil.
Pesantren Al-Khairiyah Citangkil didirikan oleh KH. Syamāun pada tahun 1916. Kafrawi dalam Pembaharuan Sistim Pendidikan Pondok Pesantren Sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan (1978) menyebut Pesantren Al-Khairiyah Citangkil sebagai pesantren tertua di Jawa Barat pada waktu itu setelah Pesantren Cipasung dan Pesantren Al-Falak Pagentongan.
KH. Syamāun dan Pesantren Al-Khairiyah Citangkil
KH. Syamāun merupakan seorang yang alim. Beliau lahir di Kampung Beji, Desa Bojonegara, Kecamatan Cilegon, Kabupaten Serang, Keresidenan Banten pada tanggal 5 April 1894. Orang tuanya bernama H. Alwijan dan Hj. Siti Hadjar. KH. Syamāun adalah cucu dari KH. Wasyid, tokoh Geger Cilegon tahun 1888. Ketika kecil, KH. Syamāun dibesarkan di Desa Citangkil di bawah pengasuhan ibunya.
Menginjak usia dewasa, KH. Syamāun hidup dengan sangat sederhana. Kehidupannya ini dijadikan untuk motivasi menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Pada tahun 1898-1900, Syamāun muda memasuki pesantren Delingseng di bawah bimbingan KH. Saāi di Kampung Delingseng, Desa Kebonsari, Kecaamatan Pulomerak. Kemudian dilanjutkan menimba ilmu di Pesantren Kamasan di bawah bimbingan KH. Jasim pada tahun 1901-1904. Pesantren Kamasan ini terletak di Kampung Kamasan, Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.
Pada tahun 1905, KH. Syamāun melanjutkan pendidikan di Makkah. Saat itu usianya sekitar 11 tahun. DiĀ Makkah, iaĀ ditemani oleh neneknya. Selama tinggal di Makkah, ia mempelajari dan mendalami ilmu tentang Islam. Karena hausnya akan ilmu, maka pada tahun 1910-1915, KH. Syamāun melanjutkan penidikannya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Setelah selesai menimba ilmu di Cairo, pada tahun 1916, KH. Syamāun pulang ke Pulau Jawa, lalu mendirikan pesantren di tempat tinggal orang tuanya di Citangkil. Para santri berasal dari daerah Citangkil dan sekitarnya.
Pesantren yang dibangun dan dikembangkan oleh KH. Syamāun ini melahirkan santri generasi pertama. Dalam buku Perguruan Islam Al-Khairiyah Dari Masa Ke Masa (1984) yang disusun oleh Pengurus Besar Al-Khairiyah disebutkan, di antaranya: KH. Ahmad, berasal dari Kampung Delingseng, Desa Kebonsari, Kecamatan Pulo Merak; KH. Ali Jaya, berasal dari Kampung Delingseng. (Beliau merupakan tangan kanan KH. Syamāun dan banyak membantu mengembangkan Perguruan Islam Al-Khairiyah), KH. Muhammad, KH. Mohammad Nur, KH. Mohammad Zein, KH. Mohammad Syadeli, KH. Ismail, KH.Karna, K.Rosyidin, K. Arifuddin, K. Asyāari, KH. Rafeāi, K. M. Sufi, KH. Halimi dan KH. Abdul Jalil.
Karena cinta dan hausnya akan ilmu pengetahuan, pada tahun 1923 KH. Syamāun kembali mengunjungi Makkah. Sambil menunaikan ibadah haji, ia juga belajar dan mengajar di Masjidil Haram. Ketika KH. Syamāun berada Makkah, para santri generasi pertama diamanahkan untuk melanjutkan keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar di pesantren yang telah didirikannya. Sedangkan sebagian santri lain kembali ke daerah masing-masing untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya di Pesantren Citangkil.
Pada tahun 1925, KH. Syamāun kembali pulang ke Citangkil. Tanggal 5 Mei 1925, KH. Syamāun memperbaharui sistem atau metode pengajaran di Pesantren Citangkil. Ia merubah pola pengajaran dari sistem tradisonal ke sistem klasikal (madrasah). Pengaruh ini tidak terlepas dari latar belakang pendidikan KH. Syamāun ketika belajar di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Melalui lembaga madrasah yang diberi nama Al-Khairiyah, ia berharap dapat memudahkan para santri untuk belajar danĀ lebih banyak lagi dapat mencetak santri yang memiliki wawasan yang luas.
Menurut Maksum dalam Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya (1999), latar belakang pertumbuhan dan perkembangan lembaga pendidikan Islam pada awal abad ke-20 merupakan bagian dari sebuah gerakan pembaharuan Islam di Indonesia. Gerakan ini memiliki kontak cukup intensif dengan gerakan pembaharuan di Timur Tengah. Selain itu pula, pendirian madrasah pada awal abad ke-20 merupakan respon pendidikan Islam terhadap lembaga pendidikan yang dibangun dan dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda dalam kerangka politik etisnya.
Dalam mengelola sistem pendidikan yang telah dirintisnya, dari mulai guru dan yang lainnya, KH. Syamāun memberikan kepercayaan kepada para santri yang telah selesai menamatkan masa belajarnya. Santri-santri yang diangkat menjadi guru oleh KH. Syamāun di antaranya: KH. Ahmad dari Delingseng, KH. Ali Jaya dari Delingseng, KH. Abdul Jalil dari Warnasari, KH. Halimi dari Citangkil, KH. Asyāari dari Kadulisung, KH. Rafeāi dari Barugbug, K. Sufi dari Barugbug, dan K. Rasiman. Sedangkan untuk menopang perekonomian yang dibutuhkan dalam mengembangkan lembaga pendidikannya, KH. Syamāun mendirikan koperasi yang diberi nama āKoperasi Boemi Poetra Tjitangkilā.
Sejak didirikannya madrasah pada tahun 1925 di lingkungan Al-Khairiyah, lembaga pendidikan Islam ini terus berkembang. Al-Khairiyah mencapai puncak keemasannya pada saat itu. Para siswa yang belajar di lembaga Islam bukan hanya dari wilayah Banten saja, melainkan dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Sumatera. Dari mulai Jakarta sampai Lampung. Selain itu, perkembangan Al-Khairiyah dapat dilihat dengan berdirinya madrasah-madrasah cabang yang didirikan oleh para alumni.
Pesantren Al-Khairiyah Citangkil dalam Peta Sejarah Indonesia
Dalam peta sejarah Islam di Indonesia, pesantren memiliki kontribusi yang sangat penting dalam dakwah Islam. Sejak pertama kali Islam datang ke bumi Nusantara, pesantren berperan sebagai tempat untuk pengajaran Islam. Pesantren memiliki posisi yang sentral yang unik dan khas. Pesantren merupakan bentuk lokal dari institusi pendidikan Islam yang berkembang sejak awal Islam masuk ke Nusantara. Dapat dikatakan bahwa pesantren merupakan pelopor Islamisasi, penjaga tradisi Islam, pejuang mempertahankan kemerdekaan dan agen transformasi sosial.
Jika dilihat dari periodisasi sejarah Indonesia, Pesantren Al-Khairiyah Citangkil berdiri dan berkembang di masa kebangkitan nasional dan kemerdekaan (1900-1945). Pada masa ini, kaum terpelajar mulai sadar akan posisinya sebagai bangsa yang terjajah. Dengan demikian lahirlah kesadaran nasional ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi. Ā Organisasi yang dibentuk para tokoh pergerakan beragam, dari yang bercorak nasional hingga organisasi yang bercorak keagamaan. Tahun 1908Ā lahir Budi Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo; tahun 1912 lahir Sarekat Islam di bawah kepemimpinan H.O.S Tjokroaminoto; tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah.
Awal abad ke-20, umat Islam di Indonesia menghadapi tantangan modernisasi. Untuk merespon hal tersebut, KH. Syamāun dengan pemikirannya yang progresif mulai mendirikan madrasah pada tahun 1925. KH. Syamāun memperbaiki sistem pendidikan yang dibangunnya dari segi metodologi dalam pembelajaran. Agar tidak tertinggal dengan zaman, KH. Syamāun memasukan mata pelajaran umum di lembaga pendidikan Isam yang dikelolanya.
Karel A. Steenbrink dalam Pesantren Madrasah Sekolah: Pendidikan Islam Dalam Kurun Modern (1986) menjelaskan, pembaharuan sistem pendidikan Islam pada abad awal ke-20 merupakan ketidakpuasan seseorang atau organisasi Islam dalam menggunakan metode tradisional. Oleh karenanya mereka berusaha memperbaiki pendidikan Islam baik dari segi metode maupun isinya. Para pembaharu ini juga mengusahakan kemungkinan untuk memberikan pendidikan umum untuk orang Islam.
Syamāun merupakan seorang mujaddid sistem pendidikan Islam di Banten pada masa itu. Dengan latar belakang pendidikan Islam yang mumpuni, KH. Syamāun berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan pendidikan untuk masyarakat. Bersama dengan para alumni yang merupakan pilar utama dalam membantu mengasuh dan mengelola lembaga pendidikan Islam, KH. Syamāun sampai akhir hidupnya terus mengabdikan diri bagi agama dan negara.
Di masa pra-kemerdekaan, KH. Syamāun aktif di dunia militer. Ā Pada tahun 1943, KH. Syamāun terdaftar sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air). KH. Syamāun menjabat sebagai Dai san Daidan (Batalyon III) yang berkedudukan di Serang. Sesuai maklumat pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, KH. Syamāun pada tanggal 14 Oktober 1945 membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Divisi Komandemen Jawa Barat dengan nama Divisi 1000/I.
Selain terlibat dalam dunia pendidikan dan militer, KH. Syamāun juga aktif dalam organisasi sosial-kemasyarakatan. Dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoka Di Jawa (1944) terbitan Gunseikanbu, tertulis bahwa KH. Syamāun sebagai Wakil Ketua Nahdlatul Ulama cabang Serang dan pelindung organisasi Nahdhatusy Syubbanul Muslimin (perkumpulan pemuda Islam yang bertempat di Citangkil. Menurut Nasaruddin Umar dalam bukunya Rethinking Pesantren (2014), organisasi Nahdhatusy Syubbanul Muslimin dipimpin dan digerakkan langsung oleh KH. Syamāun dan para santrinya.
Selain KH. Syamāun, di masa pra-kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, alumni Al-Khairiyah Citangkil terlibat di panggung nasional. KH. Abdul Fatah Hasan yang merupakan didikan Al-Khairiyah Citangkil diangkat menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945. KH. Abdul Fatah Hasan yang merupakan lulusan Universitas Al-Azhar Mesir juga dikenal sebagai anggota Pergerakan Organisasi Pelajar Indonesia Malaya.
Seiring perkembangan zaman, Al-Khairiyah CitangkilĀ terus mengalami perubahan. Lembaga Pendidikan Islam Al-Khairiyah Citangkil memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan masyarakat Islam di Banten, khususnya masyarakat di Cilegon. Para alumni Al-Khairiyah Citangkil memiliki peran di berbagai bidang; dari mulai bidang pendidikan, bidang politik, bidang sosial-kemasyarakatan, dan bidang keagamaan.
Tidak sedikit Cendekiawan muslim yang ahli dalam berbagai bidang keilmuan lahir dari rahim Pesantren Al-Khairiyah Citangkil. Seperti Prof. KH. Syadzli Hasan (Pendiri STAIN Serang, sekarang menjadi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten), Prof. KH. Wahab Afif (Ketua MUI Banten periode 2001-2011), Prof. Dr. HMA. Tihami, MA (Rektor IAIN SMH Banten periode 2004-2010), Prof. Dr. KH. Udi Mufradi Mawardi, Lc (Guru Besar IAIN SMH Banten), Prof. Dr. H. Rifāat Syauqi Nawawi (Guru Besar UIN Syahid Jakarta), Prof. Dr. KH. Salimuddin, MA (pendiri Pesantren Modern Baiturrahman Bandung), Prof. Dr. Muhammad Amin Suma (Guru Besar UIN Syahid Jakarta), Prof. Dr. Muhammad Athoā Mudzhar (Guru Besar Fakultas Syariah UIN Syahid Jakarta) dan Pof. Dr. (HC). KH. Maāruf Amin (Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024).
Menurut L. Stoddard dalam bukunya Dunia Baru Islam (1966), pesantren Al-Khairiyah Citangkil memiliki peranan penting bagi kemajuan Islam di kemudian hari, pesantren Al-Khairiyah ini juga dapat mengajarkan ajaran Islam yang dapat menggerakkan masa baru bagi generasi baru umat Islam pada masa itu.
1 comment
Jos gandos top markotop