Nama KH. Syibromalisi sangat melekat dalam ingatan para alumni Madrasah Al-Khairiyah di seluruh Indonesia. Sosoknya dikenal dengan berbagai panggilan penuh hormat, seperti Buya Syibromalisi, Ustadz Syibromalisi, atau Syekh Syibromalisi. Ia adalah seorang guru, penyair, musisi, sekaligus motivator yang menginspirasi banyak santri melalui ajarannya, tangan dinginnya, lagu-lagu ciptaannya, serta nasihat-nasihatnya yang menyejukkan hati.
Dalam lembaran sejarah Jam’iyah Nahdhoh al-Syubban al-Muslimin, tercatat sebuah nama yang kelak menjadi poros penting dalam perjalanan intelektual dan spiritual Al-Khairiyah: KH. Syibromalisi. Namanya masuk dalam jajaran Commarissen—sebuah posisi bergengsi dalam struktur organisasi pemuda muslim itu—ketika usianya masih sangat lah muda. Saat itu, ia baru duduk di kelas VII, yang merupakan jenjang akhir dari sistem pendidikan Al-Khairiyah yang kala itu dirancang selama sembilan tahun, dimulai dari kelas 0 (Awwaliyah), ½ (Tahdiriyah), lalu berlanjut dari kelas 1 hingga kelas VII.
Kiprah awal Syibromalisi dalam organisasi pemuda ini bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari kedalaman intelektual dan ketajaman jiwa sosialnya sejak dini. Organisasi Jam’iyah Nahdhoh al-Syubban al-Muslimin sendiri dibentuk pada 21 Juni 1931 sebagai instrumen pengelolaan Madrasah Al-Khairiyah Citangkil dan cabang-cabangnya yang mulai berkembang di berbagai penjuru Banten. Diprakarsai oleh KH. Syam’un sebagai pelindung dan penggagas utama, didampingi oleh KH. Abdul Aziz Kartawinata dari Jombang Wetang sebagai penasihat, KH. Ali Jaya sebagai ketua, dan KH. Abdul Jail dari Ciura Pulo Merak sebagai wakil ketua.
Jam’iyah Nahdhoh al-Syubban al-Muslimin ini tumbuh menjadi wadah kaderisasi generasi muda Islam yang berpadu antara tradisi pesantren, intelektualisme dan semangat kebangsaan dan tercatat pula turut berperan dalam BPUPKI dengan mengutus KH. Abdul Fatah Hasan.
Salah satu sumbangsih terbesar KH. Syibromalisi kepada organisasi ini dan kepada dunia pendidikan Islam di Indonesia adalah karya monumentalnya, Majmu’at al-Anashid al-Muqarra bi al-Madrasah Al-khairiyah li Jam’iyyah Nahdhah al-Syubban al-Muslimin yang disusun pada tahun 1935. Kitab ini merupakan sebuah kumpulan syair dalam bahasa Arab yang bukan sekadar untaian kata, tetapi juga semacam piagam nilai dan arah perjuangan bagi para santri Al-Khairiyah. Karya ini tidak hanya menampilkan keindahan sastra Arab, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual, nilai pendidikan, dan visi kebangsaan yang kuat. Bait-bait syair tersebut mengandung pesan-pesan moral, motivasi belajar, pentingnya semangat juang, cinta tanah air, hingga kepedulian sosial terhadap kaum dhuafa dan anak-anak yatim.
Yang membuat karya ini luar biasa bukan hanya isi dan bahasa yang digunakan, tetapi juga bentuknya yang mengadopsi gaya musik modern. KH. Syibromalisi menyusun syair-syair tersebut lengkap dengan intro dan refrain, menjadikannya bukan hanya bahan bacaan tetapi juga lantunan lagu-lagu yang menggugah semangat dan kesadaran kolektif santri. Dalam satu karya ini, Syibromalisi menunjukkan dirinya sebagai pendidik, penyair, sekaligus musisi—yang mampu menjahit nilai-nilai luhur dengan keindahan musikalitas.
Kitab ini terdiri dari 30 bait yang ditujukan untuk membangun karakter para santri. Tidak hanya memotivasi mereka untuk menguasai ilmu setinggi-tingginya dan menjadi pengajar Islam yang unggul, tetapi juga mengingatkan bahwa ilmu harus berdampak, harus memberi manfaat kepada umat. Syair-syair ini menggemakan pesan bahwa seorang kader Al-Khairiyah bukan hanya murid, tetapi juga calon pemimpin dan pelayan masyarakat.
Dalam buku Al-Khairiyah dari Masa ke Masa, disebutkan bahwa lulusan kelas VII generasi pertama madrasah Al-Khairiyah disebut sebagai kader penerus yang langsung mengambil peran di tengah masyarakat. Banyak di antara mereka mendirikan madrasah-madrasah baru di daerah masing-masing, menyambung estafet cita-cita perjuangan Al-Khairiyah. KH. Syibromalisi sendiri, bersama beberapa rekannya, dipilih menjadi guru bantu di Al-Khairiyah Pusat Citangkil—suatu bentuk pengabdian awal yang menandai perjalanan panjangnya dalam dunia pendidikan.
Ketika masa pendudukan Jepang tiba, KH. Syam’un bersama sebagian kader Al-Khairiyah bergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA), pasukan tantara sukarela bentukan Jepang. Dalam konteks ini, tahun 1943 menjadi titik penting: kepemimpinan Madrasah Al-Khairiyah Citangkil diserahkan kepada KH. Syibromalisi Awi. Tugas ini tak ringan, tetapi Syibromalisi menerimanya dengan penuh tanggung jawab. Dalam suasana penjajahan yang penuh tekanan, ia tetap mempertahankan semangat pendidikan dan menanamkan nasionalisme melalui jalur pendidikan.
Pada tahun 1951, ketika Jam’iyah Nahdhoh al-Syubban al-Muslimin berganti nama menjadi Pengurus Besar Perguruan Islam Al-Khairiyah, KH. Syibromalisi dipercaya mengelola lebih dari 120 lebih cabang Al-Khairiyah sebagai Ketua Bidang Pendidikan. Ia dibantu oleh KH. Abu Bakar, KH. Sayuni, dan KH. Sahim dalam menyusun sistem pendidikan yang efektif dan berdaya jangkau luas.
Begitu juga, pada Muktamar tahun 1955, Al-Khairiyah di bawah kepemimpinan Prof. KH. Syadeli Hasan, Syibromalisi kembali dipercaya sebagai Ketua Seksi Pendidikan dengan tugas merancang sistem kurikulum, silabus, dan materi ajar khas Al-Khairiyah untuk peneyeragaman di ratusan cabang Al-Khairiyah di seluruh Indonesia. Ia tak bekerja sendiri: KH. M. Thohuri Salam sebagai sekretaris, serta Nyai Hasunah, KH. Rahmatullah Syam’un, dan KH. Sahim turut mendampinginya.
Pada tahun 1959, dalam akta notaris Yayasan Perguruan Islam Al-Khairiyah (No. 700/JSN/1959), KH. Syibromalisi masih diamanahi sebagai Ketua Bidang Pendidikan, bersama KH. Fuah Halimi, Nyai Hj. Hasunah, dan KH. Sahim. Konsistensi pengabdiannya menjadi bukti kepercayaan dan ketokohan dirinya dalam dunia pendidikan pesantren.
Dari ini dapat kita pahami, sosok KH. Syibromalisi adalah pendidik sejati sebab selain di atas, ia juga berpuluh-puluh tahun, kepengurusan demi kepengurusan, KH. Syibromalisi terus menerus dipercayai sebagai orang yang paling layak memegang amanah mengurusi pendidikan di Al-Khairiyah yang Al-Khairiyah sendiri merupakan organisasi berbasis pendidikan.
Mufti Ali dalam risetnya mencatat KH. Syibromalisi sebagai pribadi yang amat sabar. Karakter ini membuatnya mampu meredam berbagai konflik internal di tubuh pengurus madrasah, sehingga tidak berujung pada perpecahan. Ia juga dikenal sebagai seorang hafiz Al-Qur’an 30 juz, memperkaya wibawa spiritualnya di mata para santri.
Uniknya, ia bukan hanya dikenal penyair karena syair berbahasa Arabnya yang mendalam, tetapi juga ia juga musisi ruhani karena kegemarannya menggubah lagu-lagu pujian kepada Rasulullah. Lagu-lagu ini kemudian menjadi bagian dari tradisi Al-Khairiyah, dinyanyikan dalam suasana saat belajar maupun dalam peringatan hari besar Islam di Al-Khairiyah.
Masih menurut Mufti, pada masa revolusi kemerdekaan, ketika banyak guru Al-Khairiyah diangkat menjadi pejabat pemerintahan seperti camat atau wedana di wilayah keresidenan Banten, KH. Syibromalisi justru tetap berada di jalur pendidikan. Konon, KH. Syam’un secara khusus menitipkan amanat kepadanya untuk tidak mengangkat senjata, melainkan menjaga bara perjuangan melalui pendidikan.
Syibromalisi Awi wafat di Citangkil pada 24 Februari 1968 dalam usia 60 tahun. Dari pernikahannya dengan Nyai Hj. Sufro dari Kubangsawit, ia dikaruniai 12 anak. KH. Syibromalisi adalah teladan utuh dari seorang pendidik sejati: ia bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing, penginspirasi, penyair, sekaligus musisi ruhani.
Wa Allahu A’lam