Aktivitas membaca buku merupakan salah satu kemewahan intelektual yang seharusnya dimiliki oleh pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti, maupun akademisi. Tapi bayangkan jika mereka jauh dari buku. Enggan membaca. Buku-buku dijauhi, bahkan dilupakan.
Padahal, buku adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Tanpa buku, seseorang yang mengaku sebagai pelajar atau mahasiswa seharusnya merasa resah. Terlebih bagi seorang pendidik—guru atau dosen—yang seharusnya terus memperbarui wawasan dan informasi. Tanpa membaca, penyampaian pengetahuan di ruang kelas bisa menjadi kering dan tidak berkembang.
Sayangnya, minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Berdasarkan data UNESCO, dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang memiliki minat membaca. Dalam situasi seperti ini, lembaga pendidikan memegang peran penting untuk menumbuhkan budaya literasi dan mendekatkan peserta didik pada buku.
Negara-negara maju sudah membuktikan pentingnya membaca. Di Jepang, siswa diwajibkan membaca buku selama sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai. Di Finlandia, siswa harus menyelesaikan satu buku setiap minggu. Program-program ini dijalankan sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca sejak dini.
Di MTs Al-Khairiyah Karangtengah, Cilegon, upaya menumbuhkan budaya membaca juga terus dilakukan. Salah satu program unggulannya adalah kunjungan rutin ke International Book Fair (IBF) di Senayan, Jakarta. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan untuk mendekatkan siswa dengan dunia buku.
Selain itu, madrasah ini juga menjalankan program Kamis Literasi, di mana setiap hari Kamis sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, seluruh siswa diwajibkan membaca buku selama lima belas menit. Buku-buku yang dibaca harus dituntaskan dalam waktu satu bulan.
Jenis buku yang boleh dibaca pun beragam. Pihak madrasah membebaskan siswa memilih buku apa pun, selama bukan buku paket atau buku LKS. Alhasil, banyak siswa yang memilih membaca novel, kumpulan cerpen, puisi, sejarah, memoar, atau biografi.
Setelah menyelesaikan bacaan, siswa diminta menuliskan ulasan sederhana dalam buku kendali literasi. Selain itu, mereka juga diberi kesempatan untuk mempresentasikan atau menceritakan kembali isi buku di depan kelas.
Mengenal Aini Lebih Dekat
Dari program literasi ini, tidak sedikit siswa yang akhirnya jatuh cinta pada buku. Salah satunya adalah Qurotul Aini, siswi kelas IX, yang kini memiliki kebiasaan membaca hingga sepuluh buku dalam sebulan.
Aini mengaku awalnya tidak tertarik membaca. Ketertarikannya tumbuh setelah mengikuti program Kamis Literasi. “Awalnya cuma coba-coba ambil buku di perpustakaan. Itu pun karena ada program literasi. Tapi lama-lama jadi suka,” ujarnya.

Aini sedang menceritakan isi buku yang telah selesai dibaca
Jika siswa lain ditargetkan membaca satu buku dalam sebulan, Aini melampauinya. Dalam sebulan, ia mampu menyelesaikan hingga sepuluh buku. Ia biasanya membaca setelah salat Subuh hingga menjelang berangkat sekolah. Namun waktu favoritnya untuk membaca adalah siang hari. “Saya paling suka membaca di kamar, siang hari. Waktunya lebih leluasa,” katanya.
Aini tidak menetapkan target jumlah buku tahunan seperti ‘100 buku setahun.’ Ia lebih memilih target harian—satu buku satu hari. Ia menyadari, kebiasaan ini butuh disiplin tinggi.
Buku favoritnya adalah novel. Menurut Aini, kisah-kisah dalam novel sering memberi inspirasi dan semangat belajar. “Banyak cerita yang memotivasi saya untuk terus semangat sekolah dan menggapai cita-cita,” ujarnya.
Namun, Aini juga mengakui pernah merasa jenuh. Ketika itu terjadi, ia memilih rehat sejenak. “Kalau lagi bosan, saya berhenti dulu satu atau dua hari. Setelah itu mulai baca lagi,” tuturnya.
Menurutnya, kebiasaan membaca sangat membantu dalam memahami pelajaran, terutama Bahasa Indonesia. “Saya lebih mudah memahami materi karena sudah terbiasa membaca teks panjang,” tambahnya. Terbukti, Aini meraih nilai tertinggi pada semester ganjil tahun pelajaran 2024–2025 dan mendapat penghargaan dari sekolah.
Kebiasaan membaca Aini bahkan mengejutkan teman-teman dan keluarganya. Dalam kurun waktu tiga bulan (September–November), ia menyelesaikan 30 buku dengan total 7.234 halaman.
Aini pun berpesan kepada teman-temannya yang belum suka membaca, “Membaca itu seru, apalagi saat kita sedang merasa kesepian. Buku bisa jadi teman terbaik.”