Tradisi merupakan hasil kebudayaan lisan yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendarah daging, kemudian dilakukan secara bersama-sama dan sulit untuk ditinggalkan.
Seperti halnya dengan tradisi memace. Sebuah tradisi yang dilakukan sebagai rasa syukur akan selesainya proses menanam padi dan sebagai eksistensi dalam melestarikan budaya dan lingkungan alam sekitar.
Tradisi ini disajikan dengan membaca kitab Manaqib, yakni Kitab Wewacan Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani yang berisi kisah hidup, perilaku baik dan karamah Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani.
Secara umum, pembacaan kitab Wewacan ini mempunyai tujuan untuk menambah pengetahuan akan sejarah Islam, menggali lebih dalam tentang kehidupan Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani dan mengambil hikmah dari setiap kisah-kisah teladannya.
Sedangkan, pembacaan kitab Wewacan dalam tradisi ini bertujuan untuk mendapat berkah dari setiap kisah-kisah baik yang tergambar dalam setiap bacaannya. Berharap berkah tersebut dapat dirasakan oleh segenap masyarakat yang turut serta melakukan tradisi ini, serta merimbas baik terhadap; kehidupan beragama, kehidupan sosial dan juga kehidupan bersama alam.
Dalam konteks ini, semua aspek kehidupan yang dilakoni manusia sangat terkait antara satu sama lain. Kebaikan-kebaikannya tidak hanya dilakukan untuk satu aspek saja. Dalam bahasa Ilmu Sosial, kata ‘kesalehan’ tidak hanya dipakai untuk hal-hal yang bersifat religi. Namun, ‘kesalehan’ juga bisa disandingkan dengan aspek yang lainnya; yakni kesalehan sosial, dengan berarti kebaikan-kebaikan yang dilakukan antar sesama manusia. Serta kesalehan alam atau lingkungan, yang dimaknai dengan pentingnya penjagaan dan melestaikan alam sebagai bagian dari ibadah terdapat Tuhan.
Pembacaan akan tradisi Memace ini akan menarik jika dilihat dari kaca mata berbagai aspek. Kita akan melihat bagaimana masyarakat masih menjaga syariat-syariat Islam dalam setiap prosesnya. Dimulai dengan membaca kalam Ilahi, pembacaan kisah-kisah Islami, memakai atribut-atribut keagamaan yang begitu kental, dan masih banyak lagi jika kita ingin meniliknya lebih dalam.
Dalam konteks sosial, kegotong-royongan dalam kerumunan tradisi ini merupakan wujud kesalehan sosial yang begitu terlihat. Tradisi ini dikemas dalam bentuk sedekah makanan. Makanan yang dipersiapkan secara sukarela oleh masyarakat, mereka berkumpul membawa makanan dan duduk bersama mendengarkan pembacaan Kitab Wewacan Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani sampai usai. Setelahnya, makanan yang terkumpul dibagikan kembali kepada yang hadir dan kemudian dimakan bersama-sama kembali. Sikap guyub inilah yang memperkuat dalam pelestarian tradisi Memace sampai saat ini.
Welas asih terhadap alam merupakan proses yang panjang yang dilakukan para petani dalam menanam padi. Kebaikan-kebaikannya dimulai dari napeni gabah, yakni memilih gabah sebagai bibit unggul dan seterusnya. Menyiapkan lahan dengan baik sebagai tempat bertumbuh sang bibit padi. Prosesnya membutuhkan waktu lebih dari satu-dua hari, membutuhkan ketelitian dan keapikan. Hingga proses akhirnya tiba, merupakan hasil yang sangat ditunggu-tunggu untuk memanen kebaikan-demi kebaikan.
Dan setelahnya, bentuk syukur akan hasil panen yang baik atas kebaikan Tuhan, olah pikir dan olah raga sesama Manusia, serta welas asih kita terhadap alam dan lingkungan, terwujud dalam tradisi Memace yang masih terjaga sampai sekarang.
Cilegon, 18 April 2025
Sumber:
1. Konsep Mitos Roland Barthes dalam Telaah Ekofeminisme dan Tradisi Memace Masyarakat Lingkungan Gempol Wetan Kelurahan Pabean Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon-Banten, Lina Sobariyah, Skripsi 2016.
2. Tradisi, Gender dan Islam: Identitas Perempuan di Antara Budaya dan Agama, Lina Sobariyah, 2020.