Bebotokan: Tradisi Syukuran Pasca Panen Raya di Cilegon

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan adat-istiadat, bahasa, keindahan alamnya dan ribuan pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Negara yang luas wilayahnya (perairan dan daratan) sekitar 5.180.053 kilometer persegi ini memiliki ragam kebudayaan. Dari mulai rumah adat, tarian, upacara adat, seni pertunjukan, pakaian adat, alat musik tradisional, lagu daerah dan lain-lain.

Keragaman budaya di Indonesia muncul dari berbagai kebudayaan-kebudayaan lokal yang lahir di masyarakat dan tersebar di berbagai daerah. Kebudayaan yang berkembang di masyarakat selalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau faktor geografis. Sebagai negara kepulauan, terdapat dua rahim yang melahirkan corak kebudayaan di Indonesia, yaitu kebudayaan maritim dan kebudayaan agraris.

Salah satu kebudayaan yang masih bertahan di masyarakat Indonesia hingga hari ini yaitu upacara Sedekah bumi. Upacara sedekah bumi merupakan upacara adat berupa prosesi seserahan hasil bumi dari masyarakat kepada alam. Upacara ini biasanya ditandai dengan pesta rakyat yang diadakan di balai desa, di lahan pertanian atau tempat-tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Upacara seperti ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Biasanya upacara sedekah bumi terdapat pada masyarakat yang bercorak agraris.

Masyarakat mengenal tradisi sedekah bumi sebagai implementasi hubungan manusia dengan para dewa yang menjaga bumi dan seisinya. Nyai Pohaci Sanghyang Asi atau Dewi Sri dikenal sebagai dewi pertanian, dewi padi dan dewi kesuburan. Pemuliaan dan penghormatan Ā terhadapnya dipraktikan dari masa pra-Hindu dan pra-Islam, masyarakat Indonesia mengenalnya dengan sebutan tradisi sedekah bumi.

Namun, sejak masuknya Islam ke Indonesia, tradisi sedekah bumi mengalami perubahan dan pergeseran. Terdapat akulturasi budaya dalam upacara itu. Seperti di Banten, dalam beberapa upacara ritual, mantra-mantra atau bacaan-bacaan diganti dengan pembacaan Ā Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Atau lebih dikenal dengan sebutanĀ Wawacan SyekhĀ (masyarakat Sunda di Banten) danĀ Mace/Memace SyekhĀ (masyarakat Jawa di Banten).

Upacara seperti ini dapat kita temui di Lingkungan Karangtengah, Kelurahan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Wilayah yang terletak di Banten Utara ini masih giat melakukan tradisi ini. Upacara syukuran atas apa yang didapatkan dari hasil panen padi. Kegiatan upacara syukuran ini dikenal degan nama BebotokanĀ atauĀ Botokan, tradisi syukuran pasca panen raya masyarakat KarangtengahĀ  Kota Cilegon.

KataĀ Bebotokan sendiri diambil dari nama kue yang disajikan dalam upacara pasca panen itu. Berbeda dengan botok yang sudah dikenal masyarakat luas pada umumnya, yaitu makanan khas Jawa berbahan dasar ampas kelapa. Botok di sini yaitu kue yang berbahan dasar tepung beras.

Bebotokan lebih dari sekedar ritual atau upacara pasca panen raya, melainkan sebagai identitas masyarakat Cilegon, khususnya Cilegon bagian utara (Karangtengah-Pabean dan sekitarnya) yang masyarakatnya masih bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, dalam Bebotokan terdapat kue tradisional yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan (botok lanang dan botok wadon).

Dalam perspektif Hindu, laki-laki dan perempuan dilambangkan dengan Lingga-Yoni. Lingga merupakan gambaran laki-laki sebagai simbol kejantanan. Sedangkan Yoni merupakan gambaran perempuan sebagai simbol kesuburan. Jika keduanya digabungkan, maka akan menghasilkan energi penciptaan. Dalam tradisi Bebotokan adanya akulturasi budaya antara kebudayaan pra-Islam (Hindu-Budha) dengan Islam.

Tradisi Bebotokan biasanya diselenggarakan pasca panen padi. Botok dan kue-kue atau makanan lainnya yang telah dibuat, seperti kue Jejongkong, Lepet, Gembleng, Urab dan Tumpeng. Kue-kue dan makanan tersebut kemudian dibawa dan dikumpulkan dalam satu tempat untuk dido’akan oleh sesepuh kampung (Tokoh masyarakat yang dituakan). Sebelum membaca do’a, biasanya diawali terlebih dahulu dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jilani.Ā 

Menurut penuturan tokoh masyarakat, tujuan diadakannya Tradisi Bebotokan ini tidak lain tidak bukan yaitu ucapan rasa syukur pada sang pencipta atas hasil pertanian yang menjadi mata pencaharian utama, selain itu do’a-do’a yang dipanjatkan diharapkan dapat menolak bala dan berharap hasil panen padi di tahun depan lebih melimpah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi antar sesama petani, sesama warga masyarakat Karangtengah.

Kita dapat membayangkan atau menggambarkan, suasana di kampung pada hari itu seperti suasana menjelang hari raya lebaran. Atau suasana seperti Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) yang sering dirayakan: Maulid Nabi, Isra Mikraj, Nuzulul Qur’an dan Peringatan Tahun Baru Hijriyah. Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa menanti dan menyambut tradisi Bebotokan.

Refleksi Makna Simbolik Tradisi Bebotokan
Bebotokan adalah warisan tradisi agraris yang hidup dalam masyarakat kontemporer. Pemahaman kita terhadapnya bukan hanya melihatnya sebagai ā€œacara syukuranā€, tetapi sebagai pengalaman historis-kultural yang maknanya terus diperbarui oleh masyarakat sekarang.

Menurut Gadamer, pemahaman atas suatu tradisi terjadi ketika terjadi fusi cakrawala, yakni pertemuan antara cakrawala masa lalu (konteks tradisi) dan cakrawala masa kini (penafsir modern). Masyarakat masa kini tidak lagi melihat Dewi Sri secara literal, tapi nilai-nilai kesuburan dan keberkahan tetap dilestarikan lewat simbol kue Botok. Pembacaan Manaqib menggantikan mantra Hindu-Buddha, tapi fungsi spiritualnya tetap sama: menghubungkan manusia dengan kekuatan transenden.

Setiap tradisi memiliki efek sejarah yang memengaruhi cara kita memahaminya hari ini. Gadamer menekankan bahwa kita tidak bisa lepas dari sejarah—sejarah membentuk horizon kita sebagai penafsir. Dalam hal ini, Bebotokan adalah tradisi yang terbentuk melalui lapisan sejarah panjang: dari masa pra-Hindu, Hindu-Buddha, hingga Islam.

Efek historisnya tampak dari bentuk ritual yang telah mengalami akulturasi, tapi tetap mempertahankan nilai sakralnya. Botok bukan sekadar kue, ia adalah hasil dari lintasan sejarah spiritual dan budaya. Doa bersama bukan hanya rutinitas, ia adalah gema dari nilai kolektif dan harapan agraris yang diwariskan.

Bahasa merupakan medium utama pemahaman. Dalam konteks Bebotokan, simbol-simbol seperti botok, doa, pertemuan warga, suasana sakral adalah bahasa budaya yang berbicara kepada generasi sekarang. Kita tidak ā€œmembacaā€ Bebotokan seperti teks mati, tetapi ā€˜mengalami’ dan ā€˜menghayatinya’ melalui simbol dan ritus yang penuh makna. Simbol botok sebagai representasi kesuburan dan keseimbangan laki-laki–perempuan adalah bahasa simbolik yang menyampaikan gagasan penciptaan dan keharmonisan hidup dalam komunitas.

Dengan demikian, kita memahami bahwa Bebotokan bukanlah sekadar ritual warisan. Ia adalah peristiwa pemahaman yang hidup, tempat simbol-simbol budaya terus ditafsirkan ulang, disesuaikan, dan dihidupkan dalam konteks zaman yang terus berubah. Tradisi ini bertahan bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena terus ditafsirkan dan dihayati oleh generasi demi generasi.

Berikan Komentarmu!