Gayatri Chakravorty Spivak mengangkat isu bagaimana perempuan di dunia ketiga sering kali tidak memiliki suara dalam narasi sejarah yang ditulis dari perspektif kolonial. Namun, sosok Nyai Kamsidah adalah contoh perempuan pribumi yang aktif melawan kolonialisme dan justru diposisikan sebagai ancaman oleh kekuasaan kolonial. Teori Gayatri Chakravorty Spivak ini membantu membongkar narasi dominan yang cenderung menghapus atau memarginalkan tokoh-tokoh perempuan lokal seperti Nyai Kamsidah.
Dalam sejarah perempuan dan perjuangan bangsa, narasi kepahlawanan seringkali didominasi oleh nama-nama di luar Banten. Namun dari tanah Banten yang dikenal garang dan penuh bara perlawanan, lahirlah satu sosok perempuan yang tak hanya berada di balik layar perjuangan, tetapi berdiri di garis depan, menghunuskan keberanian dengan tangan sendiri: Nyai Kamsidah. Ia bukan sekadar istri dari Haji Iskakātokoh penting dalam peristiwa Geger Cilegon 1888ātetapi simbol keberanian perempuan yang melawan kolonialisme secara langsung. Jika Raden Ajeng Kartini dikenal karena memperjuangkan pendidikan lewat pena, maka Nyai Kamsidah adalah Kartini yang menyulut semangat melalui tindakan nyata.
Perannya begitu vital dalam pusaran pemberontakan Cilegon pada Juli 1888. Di saat para ulama dan tokoh masyarakat tengah merancang strategi pemberontakan dengan menyamarkan rapat melalui acara khitanan di rumah Haji Akhiya, Nyai Kamsidah berperan sebagai penghubung rahasia. Ia mengutus kurir untuk menyampaikan pesan bahwa Ki Wasyid dan Tubagus Ismailāpemimpin utama pemberontakanātelah tiba di rumahnya dan ingin segera bertemu para pemuka perlawanan. Tanpa keberadaan informasi yang disampaikan olehnya, jalannya koordinasi bisa jadi terhambat. Ia bukan sekadar saksi sejarah, tapi simpul strategis dalam jaringan perlawanan yang rumit.
Keberaniannya pun menembus batas-batas konvensi gender pada masanya. Dalam sebuah peristiwa yang kemudian dikenang masyarakat sebagai āperang cengekā di Seneja, Nyai Kamsidah terlibat langsung dalam pertarungan yang menegangkan melawan Anna Elizabeth Gubbels, istri dari Asisten Residen Belanda Johan Hendrik Hubert Gubbels saat mulai meletusnya Peristiwa Geger Cilegon.
Saat pemberontakan tersebut meletus, istri Asisten Residen Belanda Johan Hendrik Hubert Gubbels melarikan diri, ketika Anna melarikan diri dan secara tak sadar meminta bantuan kepada Nyai Kamsidahāyang disangkanya orang biasaāia justru menghadapi sosok perlawanan. Terjadilah perkelahian antara dua perempuan dari dunia yang bertolak belakang. Dengan bantuan pejuang lain, Nyai Kamsidah menyemprotkan cairan pedas dari cabai yang digerus ke mata Anna Elizabeth. Peristiwa ini bukan semata kekerasan, tetapi simbol dari perlawanan rakyat biasaāterutama perempuanāterhadap tirani kolonial.
Catatan sejarah yang ditulis Sartono Kartodirjo turut mengabadikan kisah ini. Ia menyebut bahwa Anna Elizabeth sempat melarikan diri ke arah Seneja untuk mencari dokar, namun justru berhadapan dengan Nyai Kamsidah yang bukan hanya menolak menolong, tetapi menyerangnya dengan penuh perlawanan. Saat Nyai Kamsidah berteriak meminta pertolongan, dua pria muncul dan langsung menyerang istri Gubbels dengan menyemprotkan cairan ke arah matanya. Tidak ada catatan yang menjelaskan secara rinci apa yang terjadi padanya setelah kejadian itu. Hanya disebutkan bahwa jasadnya kemudian ditemukan oleh seseorang bernama Kamad. Lokasi penemuan berada di sebelah selatan jalan menuju Serang, sekitar seperempat paal dari Cilegon. Dalam kesaksiannya, Kamad menyebut bahwa ia melihat lima orang berdiri di dekat tubuh tersebut, dan salah satunya dikenali sebagai Nyai Kamsidah.
Dalam feminisme kultural Mary Daly yang menekankan pentingnya kekuatan simbolik dan spiritual perempuan, serta memperjuangkan kebangkitan identitas perempuan yang autentik. Tindakan Nyai Kamsidah yang menghadapi istri pejabat kolonial secara langsung bisa dilihat sebagai bentuk kekuatan simbolik perempuan lokalābukan hanya melawan secara fisik, tetapi juga memulihkan martabat budaya lokal yang diinjak kolonialisme.
Namun keberanian selalu menuntut harga. Nyai Kamsidah akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati atas tuduhan membunuh istri pejabat kolonial. Vonis ini kemudian diubah menjadi kerja paksa selama lima belas tahun, keputusan yang memicu pro dan kontra. Kalangan pers kolonial mengecam pengampunan itu, menyebutnya sebagai perempuan berbahaya yang lebih kejam dari para pemberontak lelaki yang telah digantung. Namun di mata masyarakat, Nyai Kamsidah adalah lambang perlawanan, martabat, dan kehormatan perempuan Banten.
Hingga hari ini, tak diketahui secara pasti di mana Nyai Kamsidah menjalani kerja paksa, di mana ia menghembuskan napas terakhirnya, atau kapan ia wafat. Tapi sejarah tak selalu ditulis dengan tinta resmi. Dalam ingatan kolektif masyarakat Cilegon, Nyai Kamsidah tetap hidup sebagai figur yang membakar semangat generasi, terutama perempuan, untuk tak tunduk pada ketidakadilan. Ia bukan produk istana atau menara gading birokrasi, melainkan buah dari rahim rakyat yang terjajah. Julukan āSuper Kartini dari Kota Cilegonā bukanlah sekadar upaya menyandingkannya dengan tokoh lain, melainkan pengakuan bahwa ia berdiri dengan kelasnya sendiri: perempuan yang melawan dengan seluruh jiwa dan raga, melintasi batas-batas zaman.