Penjara Boven Digoel dan KH. Achmad Chatib al-Bantani

Boven Digoel merupakan salah satu tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan yang dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Boven Digoel  terletak di Papua ( Irian Jaya ) tepatnya di tepi Sungai Digoel, dan dikenal sebagai tempat pengasingan yang penuh penderitaan.

Tokoh pejuang Banten yang pernah mengalami pengasingan di tempat ini adalah KH. Achmad Chatib al-Bantani, seorang ulama pejuang dari Banten yang melawan kolonial Belanda.

KH. Achmad Chatib al-Bantani seorang ulama sekaligus mantan Komando Tentara PETA Labuan yang berasal dari Banten  dan memiliki peran penting dalam perjuangan melawan kolonial Belanda.

Sosok KH. Achmad Chatib al-Bantani dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam pergerakan Islam dan perlawanan terhadap kolonial Belanda yang menindas rakyat.

Bagi Pemerintahan Kolonial Belanda aktivitas KH. Achmad Chatib al-Bantani  dianggap membahayakan dan ancaman bagi pemerintah kolonial Belanda, akhirnya tokoh pejuang Banten ini ditangkap dan diasingkan oleh pemerintahan kolonial Belanda ke Boven Digoel Papua ( Irian Jaya).

Revolusi Banten 1926
Revolusi ini dicatat dan dikenal dengan Revolusi Banten 1926. Bahwa Revolusi Banten 1926 bukan hanya Gerakan PKI tetap juga masyarakat pejuang Banten pada umumnya yang terlibat dalam peristiwa ini.

Revolusi ini dipicu oleh ketidakpuasan rakyat terhadap penjajahan kolonial Belanda yang semakin menindas, serta kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang melanda masyarakat.

KH. Achmad Chatib al-Bantani adalah salah satu ulama yang mendukung perlawanan terhadap kolonial Belanda meskipun tidak secara langsung menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Perlawanan KH. Achmad Chatib al-Bantani dan PKI khususnya di Banten adanya kesamaan visi yang sama yaitu perlawanan terhadap kolonial Belanda. Sikapnya yang tegas dalam melawan ketidakadilan membuatnya dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah kolonial.

Pada masa itu kita tidak bisa memungkiri kenyataan sejarah bahwa peristiwa ini tidak bisa dilihat dengan kaca mata saat ini karena pada masa Ore Baru bahwa Gerakan PKI adalah Gerakan terlarang. Namun pada masa itu gerakan PKI merupakan salah satu elemen perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Pada masa sebelum kemerdekaan, banyak Gerakan-gerakan perlawanan yang mempunyai visi yang sama yaitu perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Kelompok-kelompok perlawanan antara lain PKI, pesantren, jawara, dan ulama.  Walapun memang gagasan perlawanan bersenjata di banten itu inisiatif dari PKI, namun keterlibatan tokoh-tokoh ulama, jawara , dan sebagainya tidak terelakkan. Salah satu tokoh yang berpengaruh besar di masyarakat Banten adalah KH. Achmad Chatib al-Bantani

Perlu diketahui bahwa tokoh  KH. Achmad Chatib al-Bantani merupakan komando PETA Labuan yang tentunya mempunyai anggota pasukan yang terlatih dalam bidang militer. Dan juga tokoh di bidang politik KH. Achmad Chatib al-Bantani merupakan tokoh Sarekat Islam (SI).

Tentunya dengan keterlibatan semua elemen perlawanan di Banten pada tahun 1926 itu pasti dan tentu ada koordinasi dan strategi perlawanan di antara elemen-elemen perlawanan. Sehingga tidak bisa dihindari bahwa gerakan perlawanan itu disebut gerakan perlawanan PKI oleh kolonial Belanda.Termasuk faksi perlawanan yang dipimpin oleh KH . Achmad Chatib al-Bantani dicap sebagai Gerakan Merah oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bukti bahwa pimpinan berpengaruh besar masyarakat banten masa itu  KH. Achmad Chatib al-Bantani, tidak terlibat dalam bagian dari PKI. Untuk menepis cap Gerakan merah. Pertama, penulis katakan  bahwa ada kesamaan visi antara KH. Achmad Chatib al-Bantani dan PKI.  Kedua,  bahwa KH. Achmad Chatib al-Bantani adalah seorang komandan PETA di masa pendudukan Jepang. Ketiga, bahwa KH. Achmad Chatib al-Bantani adalah tokoh Islam tradisional yang mewarisi gerakan tarekat Qodariyah wa Naqsabandiyah yang berwawasan Internasional dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda. Salah satu tokoh inspirasi itu dari gurunya Syekh Asnawi Caringin Banten dan Syekh Abdul Karim Banten. Keempat, bahwa KH. Achmad Chatib al-Bantani adalah aktor yang memerintahkan untuk memerangi Gerakan PKI di Banten. Kelima, bahwa pada saat itu PKI bukan partai terlarang.

Dengan perlawanan bersenjata itu KH. Achmad Chatib al-Bantani dan tokoh – tokoh yang lain, beliau mengalami pembuangan ke kamp pengasingan Boven Digoel, yang terkenal sebagai tempat penuh penderitaan bagi para pejuang kemerdekaan.

KH. Achmad Chatib al-Bantani di Boven Digoel
Boven Digoel didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1926 sebagai tempat pengasingan bagi tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap radikal dan membahayakan stabilitas penjajahan.

Lokasi ini dipilih karena letaknya yang terpencil dan sulit dijangkau, sehingga kecil kemungkinan bagi para tahanan untuk melarikan diri.

Para tahanan di Boven Digoel harus menghadapi kondisi yang sangat keras. Iklimnya yang lembab dan penuh penyakit, serta minimnya pasokan makanan dan obat-obatan, membuat tempat ini menjadi neraka bagi para penghuni kamp. Banyak tokoh pergerakan yang dikirim ke tempat ini mengalami penderitaan luar biasa, bahkan kematian dengan kesunyian. Salah tokoh penghuni tempat pembuangan ini adalah KH. Achmad Chatib al-Bantani.

Meskipun diasingkan ke Boven Digoel, semangat perjuangan KH. Achmad Chatib al-Bantani tidak luntur. Di kamp pengasingan, ia tetap menyebarkan ajaran Islam dan memberikan motivasi kepada sesama tahanan untuk tetap teguh dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Cobaan  dan siksaan di tempat pembuangan Boven Digoel antara lain siksaan di tahanan bawah tanah yang lebarnya 2 meter tinggi 2 meter (saptank). Disiksa tidur di danau dan di sungai dengan hawa dingin dan sepinya Boven Digoel.

1 comment

AS April 23, 2025 - 7:32 am

Tulisan ini keren, hanya saja plotnya lompat2 dan menghilang. Di sisi lain, banyak yang terulang. Atau mungkin ini naskah belum selesai, tapi terlanjur dipublish…sebab banyak hal yang harus jelaskan, agar tidak rancu. Seperti PKI di tahun 1926 itu seperti apa? Khususnya di Banten. Boven Digoel didirikan Belanda tahun 1926? kah A. Chatib di tahan di Digoel, tapi kemudian jadi Komandan PETA masa Penjajahan Jepang? Dll

Reply

Berikan Komentarmu!