Tameng Hijau dan Bata Plastik: Ikhtiar Kecil Melawan Polusi

Isu sampah dan polusi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Baja. Dalam satu hari, berapa ton sampah plastik yang dihasilkan kota ini? Berapa banyak polusi tak kasatmata yang tanpa sadar masuk ke dalam tubuh kita?

Tentu terasa aneh jika dikatakan bahwa industri-industri yang beroperasi di kota ini tidak menghasilkan polusi. Itu hal yang mustahil. Namun, masyarakat juga tidak bisa terus-menerus bersandar pada pihak lain dan berpangku tangan dalam menyelesaikan masalah besar yang tak kunjung tuntas ini.

Untuk mengurangi sampah plastik, diperlukan gerakan nyata dalam meminimalisasi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu, bagaimana jika kita terlanjur menggunakan plastik dan akhirnya menjadi sampah?

Dibutuhkan upaya kreatif dan inovatif dalam mengelola sampah plastik yang tersebar di berbagai tempat. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan sampah plastik kering untuk dijadikan ecobrickĀ (bata plastik).

Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah telah memulai langkah tersebut. Siswa-siswa di madrasah ini aktif mengumpulkan sampah plastik, baik dari lingkungan sekolah maupun dari rumah mereka. Sampah tersebut kemudian dipadatkan dan dibentuk menjadi ecobrick.

Setelah terbentuk, ecobrick dapat dimanfaatkan menjadi berbagai barang berguna seperti kursi, meja, dudukan dispenser, dan lain-lain. Di Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah, ecobrick digunakan untuk membuat kursi, meja, dan pagar taman di depan Perpustakaan Baitul Hikmah.

Lalu bagaimana dengan isu polusi? Jika pemerintah belum menunjukkan respon yang memadai dalam mengatasi masalah ini, maka masyarakat harus mengambil sikap berani. Salah satunya adalah dengan mulai menanam pohon di pekarangan atau ladang. Pohon-pohon yang kita tanam diharapkan mampu menyerap polusi serta menghasilkan oksigen berkualitas.

Namun, jika tidak memiliki lahan atau ladang, bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. Kita bisa memulai dengan langkah sederhana: menanam tanaman yang dapat menyerap berbagai jenis polutan, seperti Lidah Mertua (Sansevieria), Sri Rejeki (Aglaonema), dan Bunga Lili.

Taman Ecobrick di Perpustakaan Baitul Hikmah Madrasah Al-Khairiyah Karangtengah kini mulai dirintis dengan tanaman-tanaman tersebut. Seperti Lidah Mertua (Sansevieria), Sri Rejeki (Aglaonema), Lidah Buaya dan Spider Plant.

Harapannya, ke depan tanaman-tanaman ini mampu menyerap polusi di sekitar area madrasah. Tanaman ini bisa menjadi tameng atau perisai alami bagi lingkungan sekolah.

Jika suara rakyat tak lagi didengar, maka lawanlah dengan tindakan.

Berikan Komentarmu!