Berawal dari teman yang mengirimkan video tentang adanya makam kuno di Bogor membuat saya jadi penasaran. Di video tersebut dijelaskan bahwa di Bogor terdapat kompleks makam Islam yang memiliki batu nisan kuno. Dalam video yang dikirimkan itu dipaparkan, bahwa pemakaman ini erat kaitannya dengan Kesultanan Banten.
Minggu pagi (8/Juni/2025), sekitar pukul 05.30 WIB, saya berangkat menuju Serang. Saya sengaja memilih waktu pagi untuk menghindari keramaian di jalan. Di depan Kampus Universitas Faletehan, saya berhenti sejenak. Karena cacing di dalam perut terus berdering, saya terpaksa memesan satu porsi batagor plus kupat.
Suasana ini mengingatkan saya ketika tinggal di Bandung. Sebelum masuk kampus atau setelah selesai perkuliahan, saya selalu mampir di gerobak batagor yang terparkir tidak jauh dari pangkalan ojek Cimincrang.
Setelah perut diisi dan sepakat diajak jalan, saya melanjutkan perjalanan menuju perumahan di daerah Dulang. Perjalanan kali ini saya akan ditemani oleh Pak Indra Kesuma, seorang guru seni di salah satu SMA Negeri di Serang yang senang diajak ngelayab.
Ketika saya sampai di rumahnya, Pak Indra sedang sarapan. Beliau menawarkan saya untuk sarapan. Saya jawab saya sudah sarapan di jalan di daerah Kramatwatu. Kata Pak Indra tidak mungkin sarapan di jalan! Dan tawa pun pecah.
Pak Indra menyiapkan kamera dan bekal untuk di jalan. Kata beliau, bekal ini untuk makan siang kita berdua. Dirasa persiapan sudah cukup. Kita berdua berangkat menuju Bogor. Perjalanan ini sudah saya niatkan jauh-jauh hari. Ketika saya menyampaikan niatan tersebut, Pak Indra langsung mengkonfirmasi akan menemani.
Maka dipilihlah waktu setelah Hari Raya Idul Fitri yang memiliki waktu libur sekitaran tiga hari. Jarak perjalanan yang akan kami tempuh ke tempat tujuan sekitar 82 Km. Perjalanan panjang ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam.
Pada perjalanan kali ini, saya yang megemudikan motor. Pak Indra yang membonceng dan bertugas menavigasi rute yang akan dilalui. Untuk wilayah Serang dan sekitarnya, jalan-jalan tikus yang tak pernah saya lewati Pak Indra juaranya.
Saya salut dengan daya ingat Pak Indra yang hafal betul jalur-jalur rahasia. Untuk menuju Kawasan Cikande, Pak Indra menuntun saya memilih rute perkampungan. Di tengah obrolan, tak terasa saya telah memasuki kawasan Cikande.
Dari Cikande kami masuk ke daerah Jawilan, kemudian dilanjutkan ke daerah Maja. Di sepanjang jalan ini kami bertemu dengan puluhan truk berukuran besar yang mengangkut tanah urukan.
Sekitar pukul 09.30 WIB, Pak Indra menyarankan untuk beristirahat terlebih dahulu. Sebelum pertigaan Pasir Kinang, kami menepikan motor di depan warung kopi. Di warung ini kami berdua sama-sama memesan kopi pahit. Alasannya sederhana: untuk menghilangkan rasa kantuk.
Seorang wanita dan laki-laki paruh baya pemilik warung kopi ini bertanya pada kami berdua. Dari mana dan mau ke mana? Pak Indra yang menjawab pertanyaan itu. Kami berdua dari Serang dan hendak main ke Jasinga, jawab Pak Indra.
Selepas istirahat sejenak dan menghabiskan beberapa gorengan, kami berdua melanjutkan perjalanan. Kata pemilik warung kopi, Jasinga sudah dekat. Butuh waktu 30 sampai 40 menit untuk sampai di Jasinga.
Memasuki jalan raya Maja ke Curug Bitung, kami masih menemui beberpa truk pengangkut tanah urukan. Ini membuat kurang nyaman pada kami yang mengendarai sepeda motor. Namun ketidaknyamanan itu tidak membuat surut langkah kami. Rasa tidak nyaman itu akan kami tukar dengan pengalaman yang akan kami temukan di tempat tujuan.
Di jalan Koleang-Jasinga kami menemui aliran sungai yang besar. Ini sudah dekat, pikir saya. Dan ternyata memang benar. Motor kami telah memasuki wilayah Jasinga. Karena suasananya ramai, kami berkendara pelan saat melewati alun-alun Jasinga. Kami berhenti sejenak untuk mengabadikan momen saat melihat Tugu Singa di Bundaran Kecamatan Jasinga.
Sesudah mengambil gambar, kami bergegas melanjutkan perjalanan. Di SPBU 34-16601 Jasinga kami berhenti lagi untuk mengisi bahan bakar dan buang air kecil. Di sini baru sadar, bahwa topi baru yang saya bawa dari rumah jatuh di jalan. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya mengecek maps. Ternyata tempat yang kami tuju sudah dekat. Di maps tertera 900 meter lagi.
Dari SPBU 34-16601 Jasinga, kami berkendara cukup pelan. Kami sedang mencari plang yang tersembunyi itu. Di maps, tempat yang kami tuju sudah terlewat. Namun kami belum juga menemukan plang dan gangnya. Kami sedikit panik. Bagaimana jika tempat itu sudah terlewati cukup jauh? Pikir saya dalam hati.
Sebelum memutuskan bertanya ke seseorang, akhirnya kami menemukan plang bercat biru tertulis āSitus Makam Raja-Raja Islam (Garisul)ā. Plang ini berada di sebelah kiri bersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu. Ini dia tempatnya, Pak. Kataku menunjukkan ke Pak Indra.
Mengexplore Situs Garisul: Jejak Kesultanan Banten Ada di Sini
Dari plang yang bercat biru itu, kami berjalan melewati pemancingan, perkampungan dan beberapa bangunan Pondok Pesantren. Di dekat kobong, kami izin ke warga setempat untuk ikut memarkirkan sepeda motor.
Saat berjumpa dengan penduduk, Pak Indra menanyakan keberadaan Situs. Orang itu pun menunjukkan ke arah atas bukit. Situs Garisul ini terletak di Kampung Garisul, Desa Kalong Sawah, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Di pintu masuk yang tak terawat, kami disambut dengan satu nisan kuno yang cukup menarik perhatian. Kami berjalan menghampiri batu nisan kuno itu. Sambil rehat sejenak karena jalan menuju kompleks makam cukup curam, kami mengamati dan mengambil gambar nisan kuno itu.

Di depan kami, terhampar puluhan nisan kuno. Atau bahkan ratusan. Kenapa saya berani mengatakan ratusan? Karena beberapa nisan terlihat ujung atas nisannya saja. Selain itu, banyak pula nisan kuno yang mulai rusak. Satu persatu kami mendekati batu nisan. Berharap ada informasi yang dapat kami tangkap dari nisan-nisan itu.
Kami mulai tertarik dengan batu nisan yang berbentuk gada dan bermotif. Batu nisan berbentuk gada ini memiliki motif yang unik. Di punggung dan badannya terdapat ragam hias atau ukiran menyerupai tanaman-tanaman sulur (flora). Bentuk nisan gada seperti ini juga kami pernah lihat di kompleks pemakaman Sultan Kenari (Sultan Abu Mafachir Mahmud Abdulkadir), Sultan Banten ke-4. Namun bedanya, batu nisan berbentuk gada di Situs Garis memiliki motif ukiran yang khas. Bahkan di cungkup utama, di batu nisan yang berbentuk gada terdapat inskripsi.
Inskripsi merupakan ukiran atau tulisan yang terdapat pada suatu benda keras seperti pada batu dan logam. Biasanya di dalam inskripsi tersebut memuat kata-kata ungkapan, gambar, simbol dan dekorasi lainnya. Sedangkan inskripsi di dalam nisan, biasanya tertulis nama dan waktu meninggal (memuat tanggal, bulan dan tahun).
Dalam arkeologi Islam, hal semacam ini sangat penting keberadaannya untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan. Ilmu yang menaungi kajian ini adalah epigrafi. Menurut Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia (2001:69), bahwa kajian epigrafi bertugas menganalisis sumber-sumber tulisan kuno untuk memperoleh gambaran tentang perubahan-perubahan yang pernah terjadi serta faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan. Epigrafi yang signifikan dalam kajian tentang Islam di Indonesia adalah bukti-bukti tulisan di berbagai media atau benda yang memiliki atribut keislaman yang kuat, khususnya tulisan yang beraksara Arab dan berbahasa Arab, Melayu, Sunda dan sebagainya.
Selain batu nisan berbentuk gada yang memiliki inskripsi, di Situs Makam Garisul ini juga terdapat banyak batu nisan berbentuk pipih yang di dalamnya terdapat inskripsi. Batu nisan ini terletak tak jauh dari cungkup utama. Tapi sayangnya, inskripsi pada nisan tersebut mulai aus dimakan zaman. Ini yang membuat kami kesulitan untuk membacanya. Ditambah, di Situs Garisul ini kami tidak sempat bertemu dengan pengurus atau juru pelihara situs yang seharusnya memberikan kami informasi.
Dalam beberapa literatur yang saya temukan, muncul beberapa tafsiran terkait siapa yang dimakamkan di Situs Garisul tersebut. Tafsiran pertama mengatakan bahwa, pemakaman Garisul erat kaitannya dengan invasi Sultan Maulana Yusuf ke Pakuan Pajajaran pada tahun 1579. Pasukan yang ikut serta dalam invasi tersebut tidak semuanya pulang ke Banten. Beberapa punggawa dan prajurit Kesultanan tinggal di wilayah Jasinga untuk mendakwahkan Islam. Tafsiran ini berdasar pada banyaknya batu nisan kuno di wilayah Jasinga, termasuk di Garisul.
Tafsiran selanjutnya yaitu kaitannya dengan gerakan masyarakat Banten pada abad ke-19. Dijelaskan dalam Tesis Muhammad Thoha Idris yang berjudul Hubungan antara Gerakan-Gerakan Masyarakat Muslim Banten dan Situs Garisul Jasinga Kabupaten Bogor:Kajian Tipologi Nisan (1995) dan Uka Tjandrasasmita dalam bukunya Arkeologi Islam Nusantara (2009:130), bahwa situs Garisul Jasinga banyak memiliki kesamaan bentuk pada nisan-nisan di Situs Banten Lama. Pada nisan-nisan tersebut yaitu tertera angka tahun 1882, 1837, 1860. Menurut Uka Tjandrasasmita, angka tahun dari ke-19 jelas ada kaitannya dengan masa pergerakan rakyat yang mungkin semula mereka berada di Banten.

Kemudian salah satu keunikan dari nisan-nisan di Garisul yaitu memuat inskripsi Arab dengan gaya kaligrafi Naskhi dan Kufi. Inskripsi tersebut berbahasa Jawa. Padahal, kita ketahui penduduk Jasinga menggunakan bahasa Sunda. Ini juga menjadi salah satu dasar penafsiran adanya peranan Banten dalam dakwah Islam di Jawa Barat, khususnya di Jasinga.
Namun apapun penafsiran sejarah terkait nisan kuno yang berada di Makam Garisul, saya berharap pemerintah setempat memiliki peran andil dalam pelestarian situs bersejarah. Dinas-dinas terkait memiliki tanggung jawab yang besar agar situs-situs ini terawat dan dijaga.
Narasi-narasi narasi sejarah yang telah dibangun oleh para peneliti diharapkan dijadikan landasan oleh pemerintah untuk membuat semacam papan informasi. Dengan begitu, selain menjadi icon wisata religi di Bogor, khususnya di Jasinga, Situs Makam Raja-Raja Islam di Garisul menjadi tempat wisata edukasi bagi para pelajar terkait sejarah lokal.
Setelah berdoāa dan mengambil gambar secukupnya, kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan. Tak jauh dari jembatan Jembatan Garisul Kolong Dagul, ada warung kecil yang menjual pecel. Kami berhenti sejenak di warung itu untuk makan siang. Sambil menikmati aliran Sungai Cidurian, perjalanan panjang dari Serang ke Jasinga kami tutup dengan seporsi Pecel.