Menjalankan dan melestarikan sebuah tradisi adalah sebuah keharusan bagi siapapun yang mengamininya, karena tradisi merupakan perwujudan kecil dari sebuah struktur mendalam atau filosofi mendasar dari sebuah masyarakat.
Tradisi juga dikatakan sebagai bentuk visual kompleks yang berinteraksi melalui gerakan dalam ruang dan waktu, yang biasanya berhubungan dengan irama dan musik. Di dalam tradisi pun biasanya terdapat prosesi yang terdiri dari berbagai gerakan hingga atribut yang digunakan pada saat acara berlangsung, sehingga dapat menyampaikan makna yang diterima sebagai kesepakatan kultural dalam suatu konteks sosial.
Seperti halnya dengan bendrong lesung, sebuah kesenian yang dipertunjukkan pada malam sebelum resepsi pernikahan. Kesenian ini masih bisa kita jumpai di Lingkungan Gempol Wetan Kelurahan Pabean, Kota Cilegon.
Dalam praktiknya, bendrong lesung disajikan oleh para perempuan dengan masih sangat sederhana. Bentuk penyajian kesenian ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat tradisional, yakni berupa alu dan lesung. Kedua alat tersebut dijadikan sebagai instrumen utama dalam mendukung jalannya kesenian ini.
Alu dan Lesung
Dalam kesenian ini, alu berfungsi sebagai pemukul yang berupa tongkat besar dengan panjang bervariasi. Secara spesifik, kayu yang digunakan untuk membuat alu adalah kayu dari pohon walikukun.
Alu berbentuk silinder dengan panjang sekitar 1 setengah hingga 2 meter, dengan diameter sekitar 4 sampai 5 sentimeter. Sementara, untuk bentuk alu yang lain misalnya diameter 6 sampai 8 sentimeter pada bagian tengah agak ke bawah, sementara bagian tengah ke atas berdiameter 4 hingga 5 sentimeter untuk pegangan tangan pemain. Panjang alu biasanya disesuaikan dengan tinggi badan para pemain.
Selain alu, lesung merupakan instrumen penting dalam pertunjukan kesenian bendrong lesung. Lesung berfungsi sebagai sumber bunyi yang berbentuk bongkahan kayu besar dengan bentuk menyerupai perahu, kayu yang digunakan untuk membuat lesung biasanya adalah kayu nangka.
Bentuk lesung berbeda-beda, tergantung kreatifitas pembuat. Biasanya, panjang lesung sekitar 1 setengah sampai 3 meter berbentuk kotak dengan lebar 25 hingga 30 sentimeter. Dalam proses pembuatannya, kekeringan kayu yang digunakan sekitar 60 hingga 75 persen, sebab jika terlalu kering akan pecah, demikian juga jika terlalu basah akan terjadi penyusutan sehingga bentuk dan suara yang dihasilkan akan berubah.
Deringo dan Tongkat Bambu
Selain alu dan lesung, dalam kesenian bendrong lesung juga menggunakan beberapa properti lain sebagai media pendukung jalannya pertunjukan. Adapun properti pendukung tersebut antara lain; deringo dan tongkat bambu.
Deringo merupakan mangkuk berisi berbagai macam syarat-syarat pemenuh kesenian. Dalam pelaksanaannya, mangkuk ini berisi telur, cabai, bawang merah, rokok, uang koin, dan seperangkat perlengkapan menyirih/menginang (daun sirih, buah pinang, gambir, dan apu), kemudian mangkuk yang sudah berisi semua syarat tersebut diposisikan dalam lumpang yang berbentuk bulat.
Selain deringo, atribut pelengkap lainnya yaitu tongkat bambu. Alat ini digunakan untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring. Dalam konteks ini, tongkat bambu dapat dimainkan oleh siapa saja, karena sifatnya hanya untuk meramaikan pertunjukan. Ketukannya terkadang tidak menentu, yang penting tidak merusak ritme permainan kesenian ini.
Pemain dan Permainan Bendrong Lesung
Dalam pelaksanaannya, kesenian bendrong lesung dimainkan oleh 6 perempuan dengan setiap pemain mempunyai perannya masing-masing. Namun pemain jumlahnya bisa saja bertambah sesuai kebutuhan.
Masing-masing pemain tersebut sudah dibagi peran bendrongan-nya. Peran-peran tersebut di antaranya; Pertama gendong, bunyinya ‘tung-tung-tung’. Kedua ngempul, bunyinya ‘plung-plung-plung’. Ketiga gedug, bunyinya ‘dung-dung-dung’. Keempat kotrek, bunyinya ‘treng-treng-treng’. Kelima ngeprak, bunyinya ‘prak-prak-prak’. Dan yang terakhir ngepinjal, bunyinya ‘trek-trek-trek’.
Masing-masing pemain telah mempunyai peranannya masing-masing, yakni memainkan ritme sesuai keahliannya. Meskipun bendrong lesung dimainkan dengan begitu sederhana, yakni terlihat hanya sebatas mengetuk-ngetukkan alu ke badan lesung, namun dalam praktiknya kesenian ini tidak dapat dilakukan dengan sembarangan.
Para pemain bendrong lesung merupakan perempuan yang sudah terbiasa dan mempunyai keahlian dalam kesenian ini. Dalam beberapa dekade, jumlah pemain dalam bendrong lesung tidak mengalami perubahan, hal ini mengakibatkan karakter permainan dan musikalitasnya tidak berubah.
Selain itu, para pemain yang notabene merupakan generasi tua yang tidak tersentuk pendidikan khusus musik. Maka pengalaman musik yang minim inilah yang menyebabkan pola permainan, melodi dan harmoni yang sangat terbatas.
Dari Jarik, Kebaya, Selendang hingga Kerudung
Dalam suatu pertunjukan kesenian, kostum merupakan salah satu unsur penunjang terwujudnya keberhasilan dalam sebuah pertunjukan. Di samping itu, kostum juga menggambarkan peran dan keseragaman hubungan seseorang ketika berada dalam suatu pementasan.
Namun dalam konteks pertunjukan bendrong lesung ini, pemain tidak dibebankan dengan persoalan kostum dan riasan wajah selayaknya pertunjukan-pertunjukan seni lainnya, yang terlihat hanya kederhanaan yang ingin dipertontonkan.
Dalam pelaksanaannya, para pemain kesenian ini hanya menggunakan pakaian keseharian. Mengingat kesenian ini dilakukan pada sela-sela acara nyabir atau kocekan/ocekan atau membantu mempersiapkan hidangan untuk acara hajatan, jadi tidak ada kostum atau pakaian khusus dalam pelaksanaan kesenian bendrong lesung.
Seperti kebanyakan para ibu-ibu perkampungan, pakaian dengan perpaduan jarik, daster, kebaya, selendang hingga kerudung menjadi kostum yang dikenakan dalam pertunjukan kesenian ini. Semua jenis pakaian dapat digunakan, tergantung kenyamanan si pemakai masing-masing.
Namun, jika bendrong lesung ditampilkan dalam pagelaran seni budaya, para pemain mengenakan kostum seragam ditambah riasan wajah dengan semenarik mungkin. Karena di sisi lain, kostum dan riasan-riasan wajah dalam seni pertunjukan dapat memberikan daya tarik bagi penikmatnya.
Akhirnya, ketika semua atribut dan pelengkap kesenian sudah disiapkan, maka pertunjukan bendrong lesung pun dilaksanakan. Suara bendrongan alu dan lesung menemani masyarakat dalam mempersiapkan hajatan pada malam hari sebelum resepsi pernikahan.
Para pemain bertalu-talu memukulkan alunya ke badan lesung, menghasilkan bunyi yang khas dari ritme yang berbeda-beda. Ketukan tersebut dihasilkan dari setiap sisi lesung; ada yang melakukannya di pinggiran lesung, bagian dalam lesung, bagian luar lesung, serta semua sisi yang menghasilkan suara yang menurut pemain tepat dengan ritmenya masing-masing.
Dalam konteks ini, bunyi yang dihasilkan oleh bendrong lesung ini menjadi undangan dalam bentuk verbal, bahwa keesokan harinya akan dilaksanakan resepsi pernikahan. Selain itu, pertunjukan ini pun berfungsi sebagai hiburan bagi segenap masyarakat yang sedang membantu mempersiapkan acara hajatan.
Selama suara bendrong lesung masih menggaung, tak jarang beberapa penontonya menyawer pemainnya, inilah juga yang menambah semangat dan meriah dalam kesenian ini. Bendrong lesung akan terus berlangsung sampai telur di dalam mangkuk itu pecah, maka pecahnya telur dalam mangkuk menandakan kesenian ini berakhir.
Kesenian ini ditampilkan dengan sangat sederhana, baik dalam bentuk musik dan juga penampilan pemainnya. Akan tetapi, suara hasil hantaman alu dan lesung ini menjadi keindahan bagi sebagian penikmatnya. Pola ritme yang selalu dimainkan dari waktu ke waktu menjadi sebuah simbol yang berlaku bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang masih mengamininya.