Muthakin, Guru Madrasah yang Menjaga Jejak Bangsa Lewat Manuskrip Kuno

GALIJATI.ID, CILEGON – Langit pagi di Alun-alun Kota Cilegon, Minggu (17/8/2025), dipenuhi nuansa khidmat. Ribuan pasang mata tertuju ke lapangan utama saat Pemerintah Kota Cilegon menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia. Wali Kota Cilegon, Robinsar, berdiri tegap sebagai inspektur upacara, memimpin jalannya prosesi sakral penuh kebangsaan.

Namun, ada momen yang membuat perayaan kemerdekaan tahun ini terasa lebih istimewa. Pemerintah Kota Cilegon memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh yang telah mendedikasikan diri di bidang masing-masing—budaya, olahraga, kesehatan, hingga literasi. Dari deretan penerima penghargaan itu, satu nama mencuri perhatian: Muthakin, seorang guru MTs Al-Khairiyah Karangtengah yang dikenal gigih melestarikan naskah kuno atau manuskrip.

Bagi Muthakin, penghargaan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia mengaku kaget sekaligus bahagia saat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cilegon menyampaikan kabar bahwa dirinya diajukan sebagai penerima penghargaan di bidang literasi.

“Saya cukup kaget sekaligus senang ketika mendapat kabar itu. Tidak menyangka perhatian terhadap pelestarian manuskrip ternyata hadir dari pemerintah,” ucapnya dengan mata berbinar.

Sejak lama, Muthakin memiliki ketertarikan terhadap sejarah. Ia tekun mengumpulkan benda-benda kuno, koran lawas, buku langka, hingga manuskrip yang semakin jarang disentuh orang. Baginya, manuskrip bukan sekadar benda mati, melainkan cermin identitas bangsa.

“Saya prihatin apabila generasi sekarang tidak mengenal identitas bangsanya dan tidak memahami sejarah secara utuh. Padahal banyak karya berharga lahir dari tangan para ulama di masa lampau,” ungkapnya.

Di balik langkahnya, ada keluarga yang selalu mendukung. Orang tua dan kerabatnya menerima dengan gembira penghargaan yang diraih. Mereka memahami bahwa apa yang dilakukan Muthakin bukan hanya hobi, melainkan sebuah panggilan hati.

“Keluarga merasa senang menerima kabar tersebut. Mereka juga selalu mendukung aktivitas saya di bidang sejarah,” katanya.

Penghargaan ini semakin meneguhkan tekad Muthakin. Ia ingin masyarakat sadar bahwa bangsa Indonesia memiliki peradaban besar yang terekam dalam naskah kuno.

“Harapan saya, ada ruang akademis khusus di Kota Cilegon yang membahas manuskrip. Pemerintah melalui dinas terkait bisa mendukung program literasi ini. Bahkan, impian saya, suatu saat Cilegon memiliki museum modern untuk merawat informasi berharga dari masa lalu,” tutur Muthakin penuh harap.

Di tengah gegap gempita peringatan kemerdekaan, kisah Muthakin menjadi pengingat bahwa perjuangan bukan hanya soal angkat senjata, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif bangsa. Dan melalui manuskrip, ia menjaga agar suara masa lalu tetap hidup di telinga generasi mendatang.

Berikan Komentarmu!