Salah satu jejak abadi dari masa lalu wilayah Cilegon adalah Makam Ki Arya Sintok, sebuah lokasi keramat yang menjadi pengingat penting tentang bagaimana ajaran Islam bersemi di tanah Banten. Inilah kisah tentang sosok mulia yang dihormati sebagai wali, penyebar damai, dan penegak keadilan di jantung Cilegon.
Siapa Sebenarnya Ki Arya Sintok?
Berdasarkan tutur tinular yang diyakini oleh masyarakat setempat, Ki Arya Sintok bukanlah tokoh sembarangan. Ia dikenal sebagai salah satu perintis dan penyebar ajaran Islam di wilayah Cilegon pada masa ketika Banten sedang membuka diri terhadap agama baru ini.
Pengaruhnya begitu besar, bukan karena kekuasaan materi, melainkan karena kedalaman ilmu spiritual dan karisma yang kuat. Saking dihormatinya, beliau diakui oleh warga lokal sebagai seorang wali, yaitu sosok yang memiliki kedekatan istimewa dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Ki Arya Sintok digambarkan sebagai:
-
Simbol Perdamaian: Dia adalah figur pemersatu yang mampu mendamaikan dan mengumpulkan penduduk sekitar dengan ketulusan hatinya.
-
Penegak Keadilan: Banyak kisah menceritakan bagaimana beliau aktif membantu masyarakat menyelesaikan berbagai persoalan, selalu berdiri di sisi kebenaran.
Inilah yang menjadi alasan utama mengapa makamnya dipandang begitu mulia dan terus dirawat dengan penuh penghormatan hingga hari ini.
Makam Ki Arya Sintok terletak di Lingkungan Perigi, Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber. Penempatan makam ini diyakini bukan tanpa alasan. Area ini dianggap sangat strategis untuk memperkuat hubungan sosok mulia ini dengan Sang Pencipta.
Alam di sekitar makam yang asri dan indah memberikan suasana yang tenang dan damai. Bagi para peziarah, lingkungan ini seolah menambah dimensi spiritual, menciptakan pengalaman introspeksi yang mendalam, jauh dari kebisingan kota.
Tradisi Ziarah yang Tak Pernah Pudar
Kunjungan ke Makam Ki Arya Sintok telah menjadi tradisi turun-temurun. Kegiatan ziarah ini dilakukan oleh masyarakat Cilegon dari berbagai kalangan usia, mulai dari dewasa hingga remaja.
Tujuan Ziarah beragam: pertama, tanda Penghargaan. Mengenang jasa dan mendoakan arwah tokoh yang telah berkontribusi besar dalam syiar Islam. Kedua, refleksi Spiritual. Kesempatan untuk merenungkan kehidupan dan memperkuat keimanan, terutama saat bulan Ramadan atau perayaan Maulid Nabi.
Selain itu, komunitas secara rutin menyelenggarakan kegiatan bersama untuk mengenang kontribusi Ki Arya Sintok. Hal ini menegaskan bahwa peran beliau dalam membentuk spiritualitas masyarakat Cilegon adalah hal yang tak tergantikan.
Cilegon mungkin dikenal sebagai Kota Baja, tetapi Makam Ki Arya Sintok membuktikan bahwa kota ini juga adalah Kota Wali. Kehadiran makam ini menjadi penyeimbang, pengingat bahwa di tengah arus deras modernisasi, nilai-nilai spiritual dan warisan sejarah tetaplah menjadi pondasi yang kokoh bagi identitas masyarakat. (Ay/Slm)