Cilegon adalah wilayah yang terletak di bagian barat Pulau Jawa dan langsung berbatasan dengan Selat Sunda. Dalam ranah industri, Cilegon diakui sebagai pusat produksi baja terbesar di Asia Tenggara. Meski mengalami transformasi menjadi daerah modern, beberapa penduduk setempat masih berusaha menjaga budaya yang ada.
Budaya Cilegon, berdasarkan ciri-cirinya, memiliki hubungan yang kuat dengan budaya Sunda. Hal ini mengingat bahwa dahulu, daerah-daerah di Banten merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Salah satu warisan budaya Cilegon dalam seni adalah tari Bendrong Lesung. Di kalangan masyarakat Cilegon, seni ini sangat terkait dengan tradisi perayaan panen. Bagaimana sejarah dan keunikan tari ini? Berikut ini adalah penjelasannya.
Asal Mula Tari Bendrong Lesung
Seni Bendrong Lesung juga dikenal dengan nama tari Gondang Lesung. Secara umum, Bendrong Lesung adalah tradisi masyarakat Cilegon untuk menyambut musim panen.
Menurut cerita, terdapat dua versi mengenai asal-usul kesenian Bendrong Lesung. Versi yang pertama adalah narasi yang paling dikenal saat ini. Seperti yang kita ketahui, dahulu kala Indonesia merupakan negara agraris, di mana banyak penduduknya bekerja sebagai petani.
Untuk petani, waktu panen adalah saat yang paling dinanti. Saat musim panen tiba, baik warga maupun petani di Cilegon merayakan saat itu dengan sukacita, yang kemudian diwujudkan dengan pertunjukan seni Bendrong Lesung.
Inilah narasi pertama mengenai asal usul Bendrong Lesung. Sedangkan versi keduanya mengatakan bahwa seni ini terinspirasi oleh suara tangisan anak. Dari beberapa sumber, terdapat kisah menyentuh di balik pertunjukan Bendrong Lesung.
Diceritakan, wilayah Banten dahulu mengalami kekeringan parah yang membuat petani tidak dapat berladang dan bercocok tanam. Akibatnya, penduduk mulai merasakan kelaparan.
Untuk menghibur anak-anak yang menangis karena rasa lapar, ibu-ibu petani berpura-pura sedang menumbuk padi dengan lesung. Dengan mendengar suara lesung, anak-anak akan berpikir bahwa ibunya sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
Awalnya, Bendrong Lesung hanya diperagakan oleh penari perempuan dewasa. Namun, seiring berjalannya waktu, seni ini juga mulai dibawakan oleh penari anak-anak dan laki-laki.
Itulah dua versi cerita yang mengiringi asal mula kesenian Bendrong Lesung.
Bendrong Lesung Hari Ini
Di era modern saat ini, kemajuan teknologi telah menggantikan penggunaan alu dan lesung dalam proses menumbuk padi. Dengan kehadiran mesin penggiling, kegiatan menggiling padi kini menjadi lebih efisien dan praktis.
Meski kondisi telah berubah, masyarakat Cilegon tetap berupaya dalam melestarikan seni Bendrong Lesung sebagai salah satu bagian dari warisan budaya Provinsi Banten.
Kini, istilah Bendrong Lesung meluas dan tidak hanya difokuskan pada saat panen besar. Dalam perayaan khitanan, pernikahan, festival, dan saat menyambut tamu penting, seringkali pemerintah dan warga setempat mengadakan pertunjukan Bendrong Lesung.
Selain alat tradisional seperti alu dan lesung, Bendrong Lesung baru juga menyertakan tampah, bakul, bedug, dan gendang sebagai instrumen musik yang mengiringi para penari.
Pertunjukan Tari Bendrong Lesung dilakukan oleh wanita dewasa, namun seiring berjalannya waktu, penari pria juga mulai ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Total penari untuk Bendrong Lesung adalah enam orang.
Makna Tarian Bendrong Lesung
Tarian Bendrong Lesung diselenggarakan sebagai bentuk perayaan panen. Tarian ini mengandung pesan untuk mendorong setiap individu agar selalu bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. (Kin/Sal)