Perempuan dan Bendrong Lesung #3

Di Gempol Wetan, salah satu perkampungan yang sampai saat ini masih melestarikan kesenian bendrong lesung, menganggap kesenian ini sebagai sebuah ajang silaturahmi. Oleh karenanya, bendrong lesung kemudian dijadikan sebagai wadah perekat bagi masyarakat.

Dalam sebuah kesempatan, pemerhati dan pegiat kebudayaan Kota Cilegon, Ayatulloh Marsai mengungkapkan, bahwa:

“Nilai-nilai yang terdapat dalam kesenian bendrong lesung ini adalah silaturahmi, sedekah/berbagi, guyub, dan semangat gotong royong. Karena nilai-nilai tradisional, yakni keguyuban yang dianut oleh masyarakat yang masih menganut sistem gotong royong ini masih melekat dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat di pedesaan. Artinya, masih ada nilai-nilai positif yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari.”

Ungkapan di atas mengamini bahwa gotong royong menjadi ciri utama dalam kesenian bendrong lesung. Jika ditelisik lebih dalam, gotong royong merupakan gabungan dua kata, gotong berarti angkat atau pikul, dan royong memiliki arti bersama-sama. Maka, gotong royong bermakna mengangkat atau mengerjakan sesuatu dengan bersama-sama.

Dalam konteks ini, semangat gotong royong dan melestarikan tradisi merupakan sebuah perwujudan nyata semangat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Sikap inilah yang memiliki nilai moral yang tinggi, seperti empati, kebersamaan, dan saling membantu.

Bendrong lesung yang merupakan salah satu dari sebagian banyak wajah tradisi di Indonesia yang memproyeksikan bagaimana bangsa Indonesia lebih mengedepankan kemanusiaan dan persatuan daripada perbedaan. Dalam praktiknya, sekelompok perempuan pemain bendrong lesung dari masing-masing individunya mempunyai kesamaan, yakni mempunyai gagasan dan nilai yang sama dalam memandang kesenian ini. Kesamaan cara pandang akan sesuatu inilah yang melahirkan sebuah identitas yang berlaku pada kepribadian kaum perempuan yang sampai saat ini masih menjaga dan melestarikan kesenian bendrong lesung.

Bendrong Lesung: Satu Rasa Yang Dihasilkan dari Bunyi
Bendrong lesung sebagai sebuah kesenian mempersatukan masyarakat berdasarkan ikatan emosional. Perbedaan karakter pemainnya sangat berperan dalam menguatkan, bahkan mempengaruhi satu sama lain. Namun di balik perbedaan tersebut, semuanya dipersatukan dengan satu rasa yang dihasilakan oleh bunyi.

Persamaan rasa yang dihasilkan dari bendrong lesung akhirnya dapat mempersatukan persamaan yang lebih kompleks, yakni persamaan sikap, nilai dan faktor-faktor demografi lainnya. Sebab kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat persamaan yang tinggi dalam sebuah komunitas akan lebih banyak melakukan komunikasi dengan sesama anggotanya.

Oleh karena itu, keberadaan bendrong lesung pada tingkat kelompok masyarakat terkecil mempunyai manfaat yang sangat besar bagi tumbuhnya kebersamaan, solidaritas dan memecahkan masalah bersama.

Bendrong lesung merupakan konstruksi sosial yang termasuk dalam realitas sehari-hari masyarakat lingkungan Gempol Wetan. Dalam perkembangannya, kesenian ini di tata dari masa ke masa dan diterima untuk melegitimasi konstruksi sosial yang telah ada dan memberikan makna pada pelbagai bidang pengalaman individu sehari-hari.

Hal ini menjelaskan, bahwa kehidupan manusia sebenarnya ditandai oleh keterbukaan serta prilaku yang hanya sedikit ditentukan oleh naluri. Dalam konteks ini, masyarakat dengan sadar membentuk identitasnya, memaksakan suatu tertib pada pengalamannya. Hal tersebut berlangsung secara terus-menerus, dengan kesadaran berdasarkan niat dan keinginan yang selalu terarah dan dipengaruhi oleh berbagai macam objek yang berada di luarnya. Oleh karena itu, keterkaitan bendrong lesung dengan masyarakat dan segala pranatanya, bersentuhan terus menerus secara dialektis.

Negosisasi Perempuan atas Pentingnya Pelestarian Bendrong Lesung
Bendrong lesung sebagai seni pertunjukan tradisional yang bersifat kolektif, yang dalam penyajiannya dilakukan oleh sekelompok orang. Dalam konteks ini, perempuan yang menyajikan seni pertunjukan bendrong lesung mempunyai peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan yang terkandung dalam sepanjang pertunjukan.

Selain itu, identitas perempuan yang terlihat dalam kesenian bendrong lesung ini seakan-akan telah menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat lingkungan Gempol Wetan, karena di dalamnya pun mengandung ekspresi estetika yang termasuk ke dalam kebutuhan integratif, yakni kebutuhan yang lahir karena adanya dorongan dalam diri manusia secara pribadi dan selalu ingin merefleksikan keberadaanya sebagai makhluk yang bermoral, berperasaan dan berakal.

Dalam proses pertunjukannya, bendrong lesung disajikan dengan lebih mementingkan tujuan daripada bentuk secara estetis. Untuk mencapai tujuan tersebut, perempuan telah menggunakan pertimbangan aspek ritual keagamaan dan adat budaya yang dilandasi konsep, waktu dan keadaan. Bersama dengan elemen serangkaian acara yang lainnya, suasana yang dimaksud diantaranya adalah: suasana religius, hening, agung, magis, dan lain sejenisnya.

Perempuan dalam bendrong lesung selain menunjukan sikap menghargai terhadap tradisi, juga memberikan gambaran atas gaya hidup yang mengarah kepada kehidupan yang berkelanjutan, yakni melalui lakon pada prosesi bendrong lesung yang menerapkan kesederhanaan. Peranan perempuan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penyedia pangan. Serta perempuan dianggap sebagai simbol dari bumi yang berarti sama dengan sumber kehidupan manusia.

Bendrong lesung mempunyai parameter tersendiri dalam upaya meningkatkan kesadaran kaum perempuan. Melalui makna-makna yang terkandung di dalamnya, kemudian mengikat perempuan dalam paradigma bahwa begitu penting menjaga, merawat dan melestarikan tradisi ini.

Akhirnya, bendrong lesung pun identik dengan dunia keperempuanan, baik dari pelakunya maupun komponen materi-materinya. Melihat kaum perempuan dalam perspektif kultural-religius akhirnya mengkerucutkan sebuah pandangan bahwa aktifitas perempuan di lingkungan Gempol Wetan mempunyai karakteristik yang unik.

Berikan Komentarmu!