Bendrong Lesung: Sebuah Narasi Tentang Identitas Perempuan di Kota Cilegon #1

Bendrong lesung lahir dari proses nutu yang awalnya hanya dijadikan sebagai hiburan oleh sebagian besar masyarakat perkampungan di Cilegon. Nutu merupakan aktivitas menumbuk padi dengan alat tradisional, yakni menggunakan alu dan lesung.

Dalam praktiknya, proses nutu merupakan sebuah aktivitas untuk memisahkan sekam dari bulir padi hingga menjadi beras. Aktivitas ini sebagian besar dilakukan oleh kaum perempuan, mengingat kaum laki-laki kesehariannya bekerja di kebun, sawah ataupun ladang. Porsi perempuan dalam konteks ini hampir sama dengan kebanyakan posisi-posisi perempuan dalam ranah lainnya, yakni pembagian peran yang sudah dikonstruk dalam masyarakat yang kerap kali peran mereka terbatas pada kegiatan domestik.

Meskipun peran perempuan hanya sebatas dalam ranah persoalan rumah tangga, namun peran mereka tidak bisa dibilang pekerjaan yang remeh. Karena dalam konteks ini, proses nutu merupakan aktivitas untuk menghasilkan beras sebagai bahan pokok makanan, maka perempuan mempunyai posisi yang penting dalam keberlangsungan hidup seluruh anggota keluarga dan mayarakat pada umumnya.

Proses nutu masih akan kita jumpai sampai mesin-mesin penggilingan padi masuk menggantikan posisi dan peran perempuan. Terlebih ketika akan diadakan selamatan berupa pernikahan, khitanan atau acara sejenis yang menghidangkan makan dalam jumlah banyak. Maka dalam hal ini, banyak lesung, alu dan para perempuan berkumpul di pusat kampung untuk memenuhi kebutuhan beras yang meningkat.

Suara dari hantaman alu dan lesung yang masyarakat sebut dengan bendrongan inilah kemudian menghasilkan instrumental khas. Suaranya menyebar ke seantero kampung, sehingga bunyi yang dihasilkan dari bendrongan tersebut dijadikan sebagai tanda bahwa beberapa hari ke depan akan diadakan hajatan atau selamatan.

Berkarung-karung gabah disiapkan untuk ditumbuk, seluruh masyarakat saling bahu-membahu mempersiapkan hajatan atau selamatan. Setelah proses nutu selesai, hiburan untuk menghilangkan rasa lelah dilakukan oleh para perempuan dengan membendrong-bendrongkan alu dan lesung yang sudah kosong. Hiburan itulah yang masyarakat Cilegon sebut dengan istilah bendrong lesung.

Instrumental yang dihasilkan dari bendrong lesung ini bersifat menyenangkan, suaranya dapat memberikan kepuasan, perasaan senang dan gembira kepada pemain dan penikmatnya. Dengan kata lain, bendrong lesung sebagai sarana hiburan dapat membantu menurunkan takanan psikologis bagi penikmatnya.

Proses nutu dengan menggunakan alat-alat tradisional ini berlangsung hingga sebelum modernisasi masuk. Dalam konteks pertanian di Indonesia, pergeseran fungsi alat-alat tradisional ke alat modern dimulai pada tahun 1960-an. Pergeseran ini dikenal dengan revolusi hijau, sebuah program pertanian yang diilhami oleh teori modernisasi yang kemunculannya merupakan strategi untuk menimbulkan sebuah perubahan sosial di pedesaan.

Penggunaan mesin penggilingan padi dirasa lebih efektif dibandingkan dengan menumbuk padi menggunakan alat tradisional. Maka dalam konteks ini tidak ada penolakan sedikitpun, bahkan lebih kepada penerimaan yang terbuka dari masyarakat.

Proses modernisasi juga berimbas kepada perubahan sosial yang berdampak pada tradisi-tradisi lokal. Oleh karena itu, sebuah perubahan merupakan keniscayaan, supaya tradisi dapat mempertahankan eksistensinya, maka tradisi harus mempunyai kompetensi dan kapasitas beradaptasi secara kreatif dengan berbagai tantangan zaman yang datang silih berganti.

Dalam konteks ini, bendrong lesung yang merupakan sebuah kebiasaan masyarakat perkampungan Cilegon yang sampai saat ini keberadaannya begitu rentan dan berpotensi terhadap kompleksitas. Sekarang, aktivitas nutu memang sudah tidak dijumpai lagi di hampir semua perkampungan di Kota Cilegon, namun tidak untuk bendrong lesung.

Berawal dari hanya sebatas hiburan para perempuan setelah nutu, bedrong lesung menjelma menjadi sebuah kesenian yang bertahan sampai saat ini. Bebunyian yang dihasilkan dari bendrong lesung menghasilkan keramaian tersendiri, alu dan lesung merupakan instrumen yang menghasilkan bunyi yang di dalamnya terkandung nilai-nilai yang merefleksikan identitas masyarakat Kota Cilegon.

Di tengah masyarakat muncul berbagai macam kepercayaan, bahwa keramaian yang dihasilkan dari kesenian bendrong lesung pada malam sebelum acara resepsi pernikahan merupakan sebuah doa yang baik untuk kedua mempelai. Suara bising dari bendrongan alu dan lesung menyiratkan bahwa kelak sang suami dan istri akan mendapatkan keturunan yang baik pendengarannya. Serta tercermin dalam penggunaan alu dan lesung yang keduanya merupakan simbol kesuburan dan keberkahan, hal tersebut merupakan harapan akan kehidupan yang nanti akan dijalani oleh sepasang manusia.

Tumbuhnya beberapa interpretasi bendrong lesung dalam persepsi masyarakat menjadi sebuah landasan kenapa para pemainnya masih melestarikannya sampai sekarang. Sebagian besar masyarakat mungkin tidak begitu memahami makna dari kesenian ini, namun bagi para perempuan yang masih melakukannya, nilai-nilai yang terkandung dalam proses bendrong lesung merupakan kekuatan dan rasa syukur atas keberkahan hidup dari Allah Swt. Terlebih, meninggalkan bendrong lesung merupakan kegelisahan dan ketakutan, maka melaksanakan bendrong lesung merupakan sebuah keharusan sampai saat ini.

 

***

 

Sumber acuan : Tradisi, Gender dan Islam: Identitas Perempuan di Antara Budaya dan Agama, Lina Sobariyah, 2020.

Berikan Komentarmu!