Membangun Sektor Pariwisata di Kota Cilegon

Salah satu koleksi foto milik Leiden University Libraries Digital Collection memperlihatkan beberapa orang Eropa sedang berlibur di sekitar wilayah Pantai Merak. Keterangan dalam foto itu tertulis Keluarga Eropa sedang berlibur di sekitaran Pantai Merak pada tahun 1925.

Dalam catatan seorang Traveler di Majalah Sin Po yang terbit 19 Mei 1938 juga menggambarkan keindahan pantai Merak. Ia menceritakan pengalamannya ketika keliling Banten. Saat sedang berada di Merak, ia menceritakan wisata pantai yang berada di Merak, termasuk Pulau Merak Kecil. Ia juga menceritakan bahwa tidak jauh dari Stasiun Merak terdapat wisata pemandian yang beranama ā€œSingkalaā€ (mungkin Sangkanila). Ia menuliskan, pemandian itu terletak di pinggir laut. Di Facebook, seorang teman membagikan foto jadul. Ia mengenang tempat wisata yang pernah berdiri di tahun 1980-an—Pantai Pulorida. Ia mengisahkan bagaimana Pantai Pulorida menjadi pantai idaman bagi para pengunjung dari Jakarta, Bogor dan Bandung. Ia juga menceritakan gambaran pantai yang indah dan di seberangnya terdapat Pulau Kecil.

Namun saat ini keindahan pantai-pantai yang berada di Merak hanya tinggal cerita. Ketika industri mulai masuk ke daerah Merak, satu persatu pantai hilang karena adanya reklamasi. Selain berdampak pada nelayan, reklamasi ini juga menyebabkan hilangnya tempat wisata.

Terakhir, kita kehilangan Pantai Kelapa Tujuh yang saat ini dibangun PLTU Unit 9-10. Berapa kenangan yang ter(di)kubur di pantai-pantai itu?

Membangun wisata pantai saat ini di Kota Cilegon adalah hal mustahil. Saat ini hanya tersisa beberapa tempat saja: Pantai Beach Hotel, Pantai Mabak, Pantai Pulau Merak Kecil dan Pantai Pulau Merak Besar.

Belakangan ini, di media sosial diramaikan dengan postingan-postingan yang menyebut keindahan selat sunda dilihat dari Puncak Cipala. Puncak Cipala terletak di Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon.

Dengan berkembangnya era infomasi pada dunia digital, banyak masyarakat memburu tempat-tempat yang Instagramable. Di mana tempat tersebut dapat dijadikan sebagai latar belakang (background) karena alasan tertentu: karena pemandangan yang indah, tempatnya lagi hits, populer, dan sebagainya. Kemudian tempat tersebut layak diupload dan dipamerkan di media sosial, baik itu berupa foto ataupun video.

Selain di Cipala, gunung-gunung yang berada di Kota Cilegon juga berpotensi dijadikan tempat wisata. Seperti Air Terjun di Pengobelan, Gunung Batur, Gunung Cipada, dan Gunung Kedurung. Sebenarnya, isu pembangunan wisata di pegunungan sudah saya dengar sejak tahun 2004—saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Pemerintah Kota Cilegon waktu itu menjadikan Gunung Cipala dan Gunung Batur menjadi ikon wisata pegunungan. Tapi saya tidak tahu kelanjutan program itu.

Semestinya pemerintah Kota Cilegon mulai melirik dan membenahi sektor pariwisata. Wisata alam bisa menjadi andalan. Pemerintah kota bisa memanfaatkan pegunungan yang masih berdiri kokoh di Kota Cilegon.

Jika Bandung memiliki Maribaya, maka Cilegon memiliki pegunungan Cipala dan sekitarnya. Saya perhatikan pemandangan dan kondisi alamnya yang sejuk tidak jauh berbeda antara pegunungan yang berada di Cilegon dengan di Bandung.

Ada nilai tambah jika pemerintah kota serius menangani hal ini. Di pegunungan Cipala kita memiliki sisi pemandangan tambahan, yaitu ramainya jalur laut Selat Sunda. Dan lebih bagus lagi, pemandangan Selat Sunda akan terlihat indah jika dinikmati pada malam hari.

Ini bisa menjadi salah satu promosi untuk wisatawan agar bisa menginap di rumah warga, dan warga dapat berperan langsung untuk pengelolaan wisata ini. Saya berharap Dinas Pariwisata untuk segera membangun dan mengelola dengan baik tempat-tempat yang indah itu.

Selain membangun pariwisata di pegunungan. Pemerintah kota dapat membangun satu ruang pusat kebudayaan dan pusat oleh-oleh khas Cilegon. Pemerintah kota dapat membangun pusat kebudayaan di pintu gerbang Pulau Jawa—Merak.

Untuk pengelolaan dan pengembangan Pusat Kebudayaan, Pemerintah Kota Cilegon bisa bekerjasama dengan para pegiat budaya, seperti: Seniman, perupa, pendekar silat dan lain-lain. Setiap malam minggu dapat diagendakan pementasan seni dan budaya di tempat itu.

Di pelataran parkir depan gedung kebudayaan pemerintah kota bisa membangun rest area, warung-warung yang menjual aneka makanan, juga disediakan makanan khas Cilegon bagi para pengunjung yang hendak pergi ke Pulau Sumatera—ataupun pengunjung yang baru memasuki Pulau Jawa.

Bisa dibayangkan, jika Cilegon, Kota paling barat Pulau Jawa itu menjadi episentrum pariwisata dan kebudayaan di Banten. Bukan hanya industri saja yang menjadi andalan dari kota ini, sektor pariwisata pun dapat dibangun dan dikembangkan sebaik mungkin.

Berikan Komentarmu!