Kisah SDN Blacu dan “Jantung” Kota Lama

Di tengah hiruk pikuk Kota Cilegon yang kini dipenuhi pabrik baja dan industri, tersembunyi sebuah riwayat pendidikan yang membentuk generasi orang tua kita. Salah satunya adalah kisah SD Negeri Blacu (sering disebut Belacu) di Purwakarta. Seorang teman pernah mendengar cerita (pengakuan) neneknya, bahwa ia dulu sekolah di SD Blacu. Ini satu bukti SDN Blacu merupakan ‘Sekolah Rakyat’ legendaris di Cilegon.

Dari ‘Volkschool’ Hingga SDN Blacu

Lokasi SDN Blacu saat ini, yang berada di Jalan Pabean, Kecamatan Purwakarta, adalah kunci utama untuk menelusuri sejarahnya. Wilayah ini dulunya merupakan Jantung Pemerintahan dari Onderdistrik Cilegon di masa Kewedanaan Belanda.

Pada masa tersebut, Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan kebijakan diskriminatif dalam pendidikan. Sekolah yang didirikan untuk rakyat pribumi hanya ada dua jenis utama: pertama, Sekolah Kelas I (HIS),  untuk anak-anak priyayi dan bangsawan, masa studi 7 tahun, berbahasa Belanda. Kedua, Sekolah Kelas II atau Volkschool (Sekolah Desa), untuk rakyat biasa, masa studi hanya 3 tahun, dengan kurikulum dasar (membaca, menulis, berhitung) dan berbahasa Melayu/Daerah.

Karena lokasi Blacu/Pabean berada di pusat keramaian dan administrasi Cilegon, sangat logis jika bangunan yang kini menjadi SDN Blacu adalah Sekolah Kelas II (Volkschool) yang didirikan Pemerintah Kolonial sekitar tahun 1910-an untuk melayani inti kota distrik tersebut.

Transformasi Nama dari Masa ke Masa

Bagaimana Volkschool ini berubah menjadi SDN Blacu? Ini adalah garis waktu sederhananya:

Masa Administrasi Nama Lembaga Pendidikan Fokus Kurikulum
Era Belanda (~1910–1942) Sekolah Kelas II / Volkschool Pendidikan 3 tahun, sangat dasar. Inilah cikal bakalnya.
Era Jepang (1942–1945) Sekolah Rakyat (SR) / Kokumin Gakko Diseragamkan menjadi 6 tahun. Nama SR inilah yang melekat kuat di ingatan masyarakat.
Awal Kemerdekaan (1946–1970an) Sekolah Dasar (SD) Nama resmi pasca-Keputusan Menteri Pendidikan 1946, melanjutkan semangat 6 tahun.
Masa Kini (Pasca-Orde Baru) SD Negeri Blacu Nama resmi yang dikenal sekarang.

Mengapa Masyarakat Menyebutnya ‘Sekolah Rakyat’?

Tradisi lisan masyarakat menyebut sekolah-sekolah tua ini sebagai ‘Sekolah Rakyat’ bukan tanpa alasan. Istilah Sekolah Rakyat (SR) adalah nama yang digunakan secara resmi dan masif pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan. Nama ini jauh lebih populer dan lama digunakan daripada nama Volkschool Belanda.

Bagi generasi tua Cilegon, “Sekolah Rakyat” adalah simbol pendidikan dasar 6 tahun pertama yang mereka dapatkan tanpa diskriminasi rasial Belanda. Inilah tempat mereka belajar membaca dan menulis aksara Latin, keterampilan dasar yang membuka pintu pengetahuan di masa sulit.

SDN Blacu sangat mungkin merupakan kelanjutan langsung dari bangunan bersejarah yang dulunya dikenal sebagai Sekolah Rakyat (SR) di era Jepang, dan akarnya adalah Sekolah Kelas II (Volkschool) di masa Kolonial Belanda. Sekolah ini adalah monumen bisu yang merekam sejarah perjuangan Indonesia dalam mendapatkan akses pendidikan dasar yang setara, tepat di jantung Kota Cilegon lama.[]

Berikan Komentarmu!