Rintik gerimis menyambut kami siang itu. Ciboleger adalah area terakhir untuk semua jenis kendaraan pengunjung. Rombongan kami dariMA Plus Al-Khairiyah Tegal Buntu terdiri dari 8 orang guru dan 50 siswa. Mereka merupakan siswa-siswi kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas jurusan ilmu pengetahuan sosial.
Kegiatan kunjungan yang juga penelitian sosial ini rutin kami selenggarakan setiap tiga tahun. Hal ini bertujuan agar siswa bisa melakukan kegiatan proses penelitian sosial, mengenal budaya lokal, serta memperluas wawasan mereka.
Kunjungan kami dipandu oleh salah satu penduduk Baduy, Kang Jamal kami memanggilnya. Kami selalu berkoordinasi dengan Kang Jamal, mulai dari waktu kegiatan, transoprtasi, akomodasi selama kami di sana, hingga rangkaian kegiatan yang harus dilewati para siswa.
Kegiatan ini biasanya kami laksanakan selama 3 hari di akhir pekan. Hari pertama, Jumat, kami bertolak dari Cilegon pukul delapan pagi. Diperkirakan kami akan sampai di Ciboleger paling lambat pukul 11.30. Sesampainya di sana, kami menuju sebuah rumah makan untuk menikmati makan siang yang sudah kami bawa dari rumah masing-masing.
Setelah menjamak salat Zuhur dan Asar, kami bersiap untuk memulai petualangan ke Suku Baduy, suku asli di Provinsi Banten. Rombongan kami bagi menjadi delapan kelompok. Setiap kelompok akan dipandu oleh satu orang guru. Hal ini untuk memudahkan kami dalam pengawasan selama dalam perjalanan.
Melewati gapura selamat datang, kami disambut oleh deretan toko yang memajang dan menjual aneka kerajinan yang dihasilkan oleh masyarakat Baduy. Produk yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari aneka aksesoris, seperti gelang dan kalung. Ada pula aneka hiasan seperti gantungan kunci dan tas, pajangan, sertaĀ indah dan cantik. Toko yang dimaksud adalah rumah-rumah panggung dengan seluruh bagian yang terbuat dari bahan alami. Bagian depan toko berbentuk lesehan yang cukup luas. Pengunjung bisa dengan santai duduk sambil memilih barang yang akan dibeli. Semua produk memiliki nilai filosofi dan seni yang tinggi.
Kami terus melaju melewati lembah, hutan, sungai, dan bukit. Alam yang sangat asri dan indah membuat perjalanan kami sangat menyenangkan. Meskipun lelah tetapi semua itu terbayar dengan keindahan dan kesejukan alam yang kami nikmati di sepanjang perjalanan.
Dalam perjalanan, kami sering berpapasan dengan orang-orang Suku Baduy. Mereka sangat lincah dan cekatan. Tanpa alas kaki, begitu nyaman mereka menapaki tanah leluhur mereka. Sedang kami, terseok-seok dan tertatih-tatihĀ saat menaiki dan menuruni bukit.
Kami pun banyak bertemu dengan pengunjung lainnya. Mereka datang secara individu maupun berkelompok seperti kami. Meskipun tak kenal, para pengunjung acap kali saling bertegur sapa dan saling menyemangati. Kami sangat menikmati semua keakraban itu, seperti layaknya sebuah keluarga. Sungguh luar biasa, alam dan pesona Baduy mampu menyatukan orang yang bahkan tidak saling kenal awalnya.
Tiga jam berjalan, sampailah kami di desa Cikadu, Baduy Luar. Kami akan bermalam di sini dan esok hari, kami akan mengunjungi suku Baduy Dalam di desa Cibeo untuk melakukan wawancara dengan Jaro di sana.
Tiga kali berkunjung ke tempat ini, membuat saya jatuh hati pada Wanita Baduy. Melalui interaksi yang tidak terlalu mendalam, berikut adalah karakter wanita Baduy dalam pengamatan saya.
- Menerima dan Taat Norma
Wanita Baduy sangat polos. Tak terpancar sedikit pun hasrat ingin memiliki sesuatu. Mereka sangat ikhlas menerima apa yang alam dan suami mereka berikan. Tidak menuntut lebih. Apa yang mereka terima, itulah yang mereka nikmati.
Sifat menerima ini merupakkan pengejawantahan pepatah hidup yang mereka, yaitu āLojor teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung, gede teu beunang dicokot, leutik teu beunang ditambahā (Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, besar tidak boleh dikurangi, kecil tidak boleh ditambah).
Dalam sistem sosial masyarakat Baduy, mereka tidak mengenal hukum secara tertulis. Semua aturan yang berlaku bersifat abstrak. Mereka mengetahuinya dari orang tua dan leluhur mereka secar turun-temurun.
Akan tetapi, ketaatan mereka pada norma yang berlaku, tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka akan menjunjung tinggi semua ajaran dan aturan dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Terlihat atau tidak, mereka mengamalkannya penuh kesadaran. Di mana pun dan kapan pun, bagi mereka nilai-nilai leluhur harus tetap diyakini dan dijalani.
- Sederhana
Wanita Baduy memiliki sifat sederhana dalam banyak hal. Pakaian Ā dan makanan mereka adalah apa yang tersuguh dari alam. Dalam hal berinterkasi pun mereka sangat sederhana. Mereka tidak terlihat bergerombol dan membicarakan sesuatu.
Mereka tidak memverbalkan segala sesuatu. Akan tetapi sikap dan karakter mereka memiliki muatan nilai dan bahasa yang sangat luas. Jauh melebihi kosa kata yang mereka miliki.
Kesederhanaan mereka dalam menjalani hidup justru membuat jiwa mereka kaya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Berlaku sederhana membuat mereka hidup bahagia dan tenang. Entah bagaimana mereka bisa memiliki sifat yang amat baik dan luhur ini. Mereka tidak bersekolah, tidak mengenal baca tulis. Tidak bersentuhan dengan segala jenis teknologi dan kecanggihannya. Mereka hanya mendapatkan pelajaran hidup dari leluhur dan alam. Namun, jiwa mereka yang luas mampu menampung semua keterbatasan yang ada.
- Menjaga Kelestarian dan Keselarasan Alam
Salah satu bukti ketergantungan dan terima kasih mereka pada alam, mereka sangat menjaga kelestarian lingkungan. Mereka merawat apa pun yang ada di alam. Mereka tidak mengkonsumsinya secara berlebih.
Mereka tidak mencemari sungai dengan sabun dan deterjen. Mereka mengambil dan menikmati seukuran yang mereka butuhkan. Sungguh sebuah karakter yang sangat bijaksana. Masyarakat Baduy yang tanpa pendidikan ternyata lebih berpendidikan kehidupannya dari pada masyarakat luar.
Bagi mereka, alam adalah rumah di mana mereka bisa menjalani hidup dengan tenang dan damai. Semua nilai yang mereka yakini, mereka ejawantahkan dalam bentuk hubungan yang harmonis dan selaras dengan alam sekeliling mereka.
- Penyayang Keluarga
Wanita Baduy tidak pernah menyesali dan merespon dengan nagatif hidup yang mereka jalani. Sebagai wanita dan bagian dari keluarga, mereka memainkan peran yang sangat kuat. Mereka menyayangi keluarga dan bertanggung jawab secara penuh atas semua kewajiban mereka. Memenuhi semua kebutuhan keluarga dengan penuh cinta.
Walaupun ekspresi cinta dan sayang mereka tidak terungkap dalam bentuk verbal, sikap dan kelembutan mereka dapat dirasakan. Bahkan oleh kami yang hanya berinteraksi beberapa saat saja. Bagi mereka, perbuatan dan tingkah laku sudah cukup. Apa yang keluar dari hati, akan sampai pula ke hati.
- Patuh pada Suami
Wanita Baduy amat patuh pada suami mereka. Apa yang diucap dan dititah oleh suami, mereka jalani tanpa rangkaian protes. Isteri pemandu yang sudah tiga kali membimbing field trip kami contohnya. Dia sering kali ditinggal oleh Sang suami di sebuah ladang yang terpisah dari lingkungannya. Dia melakukan kegiatan yang para lelaki kerjakan, bercocok tanam, merawat kebun dan memanennya pada saat telah tiba. Menjaga anak-anak pun tidakĀ mereka kesampingkan.
Dia tidak pernah mengeluh. Dia menjalani hidup layaknya isteri-isteri lain. Saat Sang suami pulang, Sang istri akan menerimanya tanpa banyak pertanyaan dan kemarahan. Sebuah kesetiaan yang sangat suci dan luhur. Saya yakin, tidak semua wanita mampu melakukan hal ini.
- Menghormati Tamu
Verbalisme cinta, tidak mereka miliki. Tapi rasa cinta mereka tak lekang dimakan waktu. Mereka seolah memiliki stok cinta yang amat melimpah. Itulah yang saya dan rombongan rasakan.
Tiga kali sudah kami menginap di rumah mereka yang sederhana dan tidak terlalu luas. Sebagai bentuk penghormatan mereka, kami menempati ruang keluarga yang cukup luas untuk menampung barang-barang kami dan sekejap kami istirahat, melepaskan penat, dan tidur. Sedangkan mereka menempati sebuah kamar berukuran lebih kecil di bagian belakang yang letaknya bersebelahan dengan ātungkuā atau kompor alami yang mereka gunakan untuk memasak. Sungguh sebuah sikap dengan tingkat nilai spiritualitas yang sangat tinggi.
- Tekun
Salah satu pendidikan bagi kaum wanita Baduy adalah menenun. Seluruh anak perempuan, sedari kecil telah dikenalkan dan dididik untuk menenun oleh ibu-ibu mereka. Sebagai wanita Baduy, mereka harus memiliki keterampilan ini.
Menenun bukan pekerjaan yang sederhana dan mudah. Perlu ketekunan dan kesabaran yang luar biasa dalam pengerjaannya.
Alat yang mereka gunakan untuk menenun bernama āPakara Tinun Baduyā. Alat ini biasanya diletakkan di teras depan rumah setiap warga. Para wanita Baduy menenun di siang hari dengan bantuan sinar matahari.
Tidak dalam hal menenun saja, pada sisi lain kehidupan mereka, wanita Baduy pun sangat ulet. Mereka secara rutin mencari kayu bakar dan mengolah lahan perkebunan yang mereka miliki. Ketekunan mereka berbanding lurus dengan kegigihan para lelakinya.
- Kreatif
Ketekunan mereka dalam banyak hal, membuat wanita Baduy memiliki kreativitas yang tinggi. Dalam kemampuan menenun umpamanya. Mereka mampu menghasilkan produk yang sangat bervariasi dan berkarakter serta bernilai seni tinggi. Kain batik Baduy memiliki beberapa motif, seperti suat songket, janggarawi, dan adu mancung.
Untuk membuat kain batik, prosesnya tidaklah sebentar. Dimulai dari pembuatan benang yang diambil dari serat daun pelah dan kapas. Proses keduanya pun membutuhkan ketekunan dan ketelitian yang luar biasa. Meskipun begitu, proses yang menggunakan bahan baku daun pelah sudah mulai jarang dilakukan. Hal ini dikarenkan prosesnya yang teramat lama dan rumit.
Wanita Baduy pun terbukti kreatif memanfaatkan sumber daya alam guna membuat cendera mata dan oleh-oleh khas suku mereka. Akan tetapi, dalam pemanfaatannya, mereka tidak melakukan secara brutal dan membabibuta. Mereka akan mengambil dan membuatnya secukupnya saja.
- Disiplin
Wanita Baduy juga dikenal disiplin. Mereka memiliki pola hidup yang sudah tertata dengan rapi dan sistematis. Mereka telah berhasil mendisiplinkan diri sendiri. Ilmu yang mereka peroleh secara turun-temurun dan telah mendarah daging dalam diri mereka.
Kedisiplinan mereka, membuat kehidupan tradisional mereka yang sangat jauh dari akses teknologi, berajalan dengan tentram dan damai. Semua aktivitas keseharian mereka dijalani dengan penuh keteraturan.
- Kuat
Salah satu larangan yang harus mereka taati adalah menggunakan alat transportasi. Adat ini mereka junjung tinggi di mana pun mereka berada. Maka, seluruh aktivitas mereka, mereka jalani dengan berjalan kaki.
Hal ini tidak hanya berlaku di lingkungan mereka saja, saat mengunjungi kota-kota di sekitar Banten, bahkan ke Ibu Kota Jakarta, guna menjual hasil kebun atau hutan, mereka akan berjalan kaki dan tanpa menggunakan alas kaki. Kedisiplinan mereka menaati adat istiadat sangat tinggi, sehingga mereka melaksanakan hal itu di mana pun.
Begitu pula dengan wanita Baduy. Mereka melakukan tanggung jawab kerumahtanggaan secara manual. Mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat teknologi, karena dianggap telah melanggar aturan leluhur mereka. Kemerdekaan mereka dalam berkativitas tanpa alat bantu, membuat fisik mereka sangat kuat dan sehat.
Sebagai kesimpulan, mari kita semua mengintrospeksi diri. Apa lagi kita, wanita yang memiliki akses sangat besar terhadap teknologi dan ilmu pengetahun. Apakah kita telah berlaku bijak dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, mengelola alam dan menempatkan diri sebagai perwakilan Tuhan yang dapat dipercaya di atas bumi ini.