Membaca “Elang Retak”: Kematian Terbaik Seorang Buron

Seorang buron bernama Bahrun. Kesalahannya adalah mempertahankan kebenaran. Dia bertanding dalam satu perlombaan yang menadapat intimidasi harus mengalah, karena lawannya seorang anak bandar judi besar di Cina. Tapi dia tidak mau mempedulikan semua ancaman. Dia tetap bertanding alamiah: dia menang. Akibatnya Si Bandar judi dan tukang pukulnya menyerbu kamar hotal dimana dia menginap. Disitulah kesalahan itu terjadi: Si Bandar tewas di tangannya. Resmilah dia sekarang menjadi buronan polisi karena telah membunuh.

Pelarian membawa dia ke sebuah pulau bernama Kalibat. Pulau di luar Indonesia, menjadi kawasan internasional. Sering dijadikan tempat transaksi penyelundupan senjata dari Korea dan wilayah Asia lainnya. Dia menjadi tentara bayaran yang dilatih untuk mengawal senjata-senjata gelap ke pulau ini. Sesuai dengan perintah si boss

Tidak nyaman dengan pekerjaan ini, dia lari lagi. Menuju ke Jakarta dengan menumpang kapal nelayan. Bekerja di Jakarta. Belum lama di Jakarta, dia sudah dijemput oleh orang yang tidak dikenal dan membeberkan semua masa lalunya itu. Dua pilihan ditawarkan oleh orang yang tidak dikenal: mengikuti mereka atau dilaporkan ke polisi, masuk penajara. Dia benci penjara. Kemudian dia memilih untuk mengikuti orang tak dikenal yang ternyata adalah ABRI.

ABRI membutuhkannya untuk petunjuk jalan ke Kalibat. Ada misi dari ABRI untuk mengagalkan transaksi penyelundupan senjata yang akan dipasok ke Indonesia bagian timur untuk persenjataan pemberontak “Orde Suci”. Karena ini adalah misi militer maka mengharuskan dia untuk dilatih secara militer, bersama dengan personil yang nanti akan menjadi pasukan dalam operasi itu. Berhari-hari ia tersiksa dalam latihan itu. Dirinya, persis tidak kurang tidak lebih, harus sama latihan sebagaimana tentara itu latihan. Itu akan membantunya nanti dalam tugas, karena meskipun tugas sebagai petunjuk jalan, tetap beresiko sama diburu peluru musuh. Oleh karena itu ia harus pegang senjata.

Tibalah saatnya. Dia berangkat dengan kapal selam yang telah disiapkan. Oskar sebagai pimpinan oprasi. Tugasnya mengantar pasukan yang dikomando oleh Santoso sampai ke dekat tebing. Setelah itu Oskar harus kembali, menjauh dari lokasi, mengintai perkembangan operasi dan berkomunikasi dengan Santoso untuk memberi instruksi lanjutan sesuai dengan perkembangan.

Ternyata operasi ini bocor, informasi penyerangan telah sampai pasukan bayaran yang akan menukar emas dengan senjata. Hingga posisi mereka persis di atas tebing, ketika pasukan ABRI harus turut serta, muncul dipermukaan laut bawah tebing pasukan bayaran siap menghujaninya dengan peluru. Habislah kiranya pasukan ABRI itu sebelum naik dan mengadakan penyerangan.

Tetapi itu tidak terjadi. Kebocoran informasi tidak hanya pada pasukan bayaran penukar emas itu, melainkan juga kepada CIA. CIA tidak melakukan apa pun secara resmi atas informasi tersebut. Tetapi beberapa anggota punya berkepentingan untuk membebaskan temannya yang disandera oleh pasukan bayaran pada penyerangan sebelumnya. Tepai, CIA juga tidak melarang beberapa orang yang nekad menuju Kabilat, malah membiarkan dan kesannya memfasilitasi semua keperluan pernyerbuan.

Tiga pasukan pun bertemu dalam waktu bersamaan, tanpa mengetahui posisi tepat musuhnya. ABRI tidak tahu pasukan musuh sudah menghadang dari atas tebing, dan sepasukan di tengah laut. Pasukan musuh hanya tahu ada pasusakn ABRI yang sedang siap naik tebing. Nyatanya yang terjadi adalah pasukan CIA mengirimkan kilatan cahaya memberi pancingan. Itu mengagetkan pasukan bayaran. Mereka panik dan menghantam sumber cahaya. Pasukan ABRI pun tidak kalah panik, ternyata ada pasukan lain. ABRI pun berinisiatif meninggalkan tebing dan mencari alternatif lain untuk masuk ke pulau.

***

Singkatnya, Harun mati dalam pertempuran ini. Meskipun pertempuran ini bentuk konspirasi kelas atas militer, namun pasukan komando Santoso tetap sukses menjalankan tugas, menghancurkan emas yang akan ditukar dengan senjata.

Novel ini bicara tentang kematian yang baik. Pada posisi Harun, mungkin bahasanya begini: pilih mati di penjara, hidup di tengah masyarakat dengan status buron, atau —yang kemudian terjadi, mati dalam membela tanah air dari ancaman pemberontakan bersenjata. Matinya dalam keadaan terbaik. Sekian.

Berikan Komentarmu!