The Great Bait Al-Hikmah

 

Membaca The Great Bait Al-Hikmah, karya Jonathan Lyons, saya dikejutkan dengan banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Lebih terkejut lagi karena ini adalah pandangan dari non muslim, tetapi memandang Islam dengan sangat mulia terutama dalam pencapaian ilmu pengetahuan pada masa Abbasiyah di Baghdad dan masa Umayah di Andalusia.

Gerakan Perang Salib adalah persekongkolan antara para agamawan gereja yang terancam secara pengetahuan oleh orang Arab yang Islam, dengan para penguasa (raja) yang sedang dalam pertikaian perebutan kekuasaan. Para agamawan yang sedang cemas, memanfaatkan para raja Eropa yang suka berperang untuk melawan musuh yang satu, yaitu: Islam. Pun dalam satu gelanggang mereka sebetulnya punya kepentingan yang berbeda, satu memerangi agama Islam, yang satu lagi haus harta rampasan perang, dan tidak sedikit kelompok yang menggunakan kesempatan itu untuk melakukan perampokan. Agamawan Kristen sendiri tidak pernah tahu secara benar siapa yang mereka perangi, dan apa yang mereka perangi.

Beberapa yang mengalami perjumaan langsung dengan ajaran Islam itu, tidak sedikit yang berubah pikiran: dari pada berperang dengan orang Islam lebih baik belajar ilmu-ilmu yang mereka kuasai. Hal ini tidak hanya dialami oleh orang biasa, bahkan para raja dan muridnya paus tidak luput dari perubahan arah pemikiran ini. Misalnya yang dialami oleh Federick II dan Adelard dari Bath. Mereka berdua dari pada terbawa oleh semangat Perang Salib, mereka malah pergi ke pusat dimana “dunia beradab dilahirkan,” yaitu Baghdad.

Penulis buku ini menengarai ketimpangan antara watak dua wilayah itu. Arab yang beradab dan Eropa yang tidak beradab. Pada saat Arab Islam sudah melakukan mandi dan wudhu lima kali dalam sehari, orang Eropa belum terbiasa mandi dalam kesehariannya; ketika Eropa masih menggunakan cara-cara tahayul untuk pengobatan, Islam sudah menggunakan medis sebagaimana yang berkembang sekarang; di saat orang Islam sudah mantap menetapkan waktu sholat dengan alat, Kristen belum punya patokan; tidak menguasai ilmu astronomi.

Ini kejutannya: dalam keadaan seperti itu beberapa orang Eropa, diantaranya Adelard lari dari Bath, tidak tertarik untuk terlibat dalam semangat Perang Salib, tetapi malah berangkat ke tempat-tempat dari mana orang Arab itu berasal. Pencarian ini membuat dia sampai di pusat ilmu pengetahuan Abbasiyah, yakni Baitul Hikmah. Dengan modal penasaran, di sini dia menekuni karya-karya cendekiawan muslim, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam Latin. Sebagaimana dulu, Abbasiyah melakukannya dari Yunani dan Persia.

Buku ini betul-betul fokus dengan sumbangsih Baitul Hikmah atau Islam kepada peradaban Barat, sampai-sampai tidak sedikit pun membahas kehancurannya.

Secara umum informasi ini juga dibutuhkan untuk menjawab mengapa keadaan umat Islam, atau lebih tepatnya, keadaan ilmu pengetahuannya sangat jomplang dengan keadaan sewaktu Baitul Hikmah tegak berdiri. Dari buku ini, setidaknya saya punya gambaran tentang kejomplangan itu, para pencari ilmu Arabum dari Barat itu tidak semuanya jujur menyebutkan sumbernya, seperti layaknya prosedur tulisan ilmiah sekarang. Sehingga ilmu pengetahun yang berkembang sekarang seolah-olah lepas dari campur otak umat Islam pada zamannya.

Padahal ketika umat Islam sedang bergairah-gairahnya menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, di Barat sedang bercumbu dengan tahayul, menyelesaikan masalah dengan ritual-ritual agama mereka. Dan mempertentangkan ajaran agamanya dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang rasional ini, yang dipelopori oleh Islam, bagi mereka adalah ilmu hitam.

Jadi begini:  kaum agamawan menganggap ilmu pengetahuan dari Arab Islam ini sebagai ilmu hitam. Sementara sebagian pencari ilmu (pecinta ilmu), —orang yang terkagum-kagum terhadap pencapaian orang Arab terhadap peradaban, mengambil sebanyak-banyak pengetahuan dari Baitul Hikmah melalui guru-guru yang ada di sana. Sayangnya, mereka membuang bagian ruh dari ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, mengambil material teknis dari pengetahuan tersebut. Misalnya, mereka mengambil al kimia dari Ibnu Sina, tetapi membuang nilai jiwanya atau filosofisnya bahwa perubahan kimia pada benda sebagai simbol transformasi jiwa pada manusia.

Selain serangan Mongol terhadap Baghdad, dua hal tersebutlah yang menyebabkan lenyapnya jejak Islam dalam ilmu pengetahuan mainstream dunia.

Berikan Komentarmu!